Senin, 1 Juni 2026

Opini

Menjaga Keanekaragaman Hayati Hutan Berau

SETIAP 22 Mei, jadi Hari Keanekaragaman Hayati Internasional. Momen ini jadi refleksi bagi kita semua di Berau

Tayang:
Editor: Budi Susilo
HO/Gunawan
JAGA HUTAN BERAU - Gunawan Wibisono, Dosen Teknik Lingkungan dari UMB, singgung soal setiap 22 Mei, jadi Hari Keanekaragaman Hayati Internasional. Momen ini jadi refleksi bagi kita semua, terutama khususnya warga di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. (HO/Gunawan) 

Menjaga Keanekaragamanhayati Hutan Berau

Oleh: Gunawan Wibisono, Dosen Teknik Lingkungan UMB

SETIAP 22 Mei, jadi Hari Keanekaragaman Hayati Internasional. Momen ini jadi refleksi bagi kita semua, terutama khususnya warga di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur

Secara geografis, Kabupaten Berau memiliki hutan hujan tropis yang luas dan menjadi salah satu kawasan penting bagi keanekaragaman hayati di Kalimantan.

Selain berfungsi sebagai penyangga keseimbangan ekosistem, kawasan hutan tersebut juga menyimpan potensi sumber daya alam yang bernilai bagi kehidupan masyarakat.

Meski demikian, kondisi hutan di Berau menghadapi berbagai tantangan.

Seperti deforestasi, degradasi lahan, serta ekspansi pemukiman dan alih fungsi kawasan terus memberikan tekanan terhadap habitat alami satwa liar.

Baca juga: Kami Jaga Hutan, Kini Diminta Pergi: Pedagang Warung Panjang Hadapi Ancaman Penutupan di Kawasan IKN

Sejumlah kawasan hutan memang masih berada dalam kondisi relatif baik, namun ancaman kerusakan dinilai perlu segera diantisipasi melalui langkah perlindungan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan turut memperbesar interaksi manusia dengan kawasan hutan.

Kondisi ini berpotensi mengganggu habitat satwa endemik, termasuk orangutan yang selama ini menjadi salah satu simbol penting kekayaan hayati Kalimantan. 

Karena itu, upaya menjaga kelestarian hutan dinilai tidak dapat ditunda.

Dalam pengelolaan kawasan hutan, keterlibatan masyarakat lokal dianggap memiliki peran strategis.

Selama ini masyarakat dinilai memiliki pengetahuan dan kearifan lokal yang berkaitan dengan perlindungan alam serta pemanfaatan sumber daya hutan secara tradisional.

Pendekatan kolaboratif antara pemerintah, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), dan masyarakat diyakini dapat memperkuat upaya konservasi di lapangan.

Baca juga: Jelajah Hutan Gunung Guntur Balikpapan, Pacu Jantung di Jalur Cadas, Bonus Panorama Kota Minyak

Di sisi lain, ketersediaan data mengenai biodiversitas dan potensi hasil hutan bukan kayu di Berau masih terbatas.

Minimnya informasi terkait jenis, jumlah, dan manfaat sumber daya hutan menjadi tantangan dalam penyusunan kebijakan konservasi maupun pengelolaan berkelanjutan. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved