Selasa, 2 Juni 2026

Ramadhan 2026

Awal Puasa 2026 Diperkirakan Februari, Ini Jadwal Ramadhan versi Kemenag dan Muhammadiyah

Umat Muslim di Indonesia mulai bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. 

Tayang:
Editor: Heriani AM
Grafis Tribun Kaltim/Canva
JADWAL RAMADHAN 2026 - Ilustrasi Ramadhan 2026. Umat Muslim di Indonesia mulai bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.  

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, yang menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), telah menginformasikan bahwa awal puasa jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Metode ini berpatokan pada peredaran bulan dan perhitungan astronomis semata, tanpa harus melihat hilal secara fisik dengan mata telanjang.

Dalam pandangan Muhammadiyah, bulan baru dianggap sudah masuk apabila telah memenuhi tiga kriteria wujudul hilal secara kumulatif.

  • Telah terjadi ijtimak (konjungsi) antara Bulan dan Matahari.
  • Ijtimak terjadi sebelum terbenamnya Matahari.
  • Saat Matahari terbenam, Bulan belum terbenam (Bulan masih berada di atas ufuk).

Karena menggunakan perhitungan matematis-astronomis, Muhammadiyah biasanya dapat mengumumkan tanggal awal puasa dan Idul Fitri jauh hari sebelum harinya tiba, bahkan melalui Maklumat resmi yang diterbitkan beberapa bulan sebelumnya.

Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa 2026? Ini Hitung Mundur Awal Ramadhan dan Idul Fitri

Penetapan awal puasa versi pemerintah

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan awal Ramadhan melalui sidang isbat yang dilakukan menjelang masuknya bulan Ramadhan. 

Dikutip dari laman Kemenag, dalam praktiknya, sidang isbat melibatkan unsur pemerintah, MUI, perwakilan ormas Islam, dan para ahli, lalu memadukan data hisab serta laporan rukyat (pemantauan hilal).

Untuk kebutuhan acuan awal, publik juga sering melihat Kalender Hijriah 2026 yang disusun Kemenag.

Dalam kalender tersebut, 1 Ramadhan 1447 H dicantumkan jatuh pada 19 Februari 2026. Potensi perbedaan awal puasa di Indonesia umumnya terjadi karena perbedaan kriteria visibilitas hilal.

Pemerintah Indonesia mengacu pada kriteria baru yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Kriteria MABIMS menetapkan bahwa hilal dinyatakan sah atau dapat dilihat (imkanur rukyat) apabila ketinggian hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi (jarak lengkung Bulan-Matahari) minimal 6,4 derajat.

Perbedaan sering terjadi ketika posisi bulan sudah berada di atas ufuk (positif) menurut hisab Muhammadiyah, namun ketinggiannya belum mencapai standar 3 derajat atau elongasinya kurang dari 6,4 derajat menurut kriteria MABIMS yang dipakai Pemerintah.

Baca juga: Niat Puasa Syaban 2026 Sekalian Puasa Ganti Ramadhan, Bisa Digabung atau Tidak? Ini Penjelasannya

Dalam kondisi seperti itu, Muhammadiyah akan menetapkan besoknya sudah masuk Ramadhan karena bulan sudah wujud.

Sementara Pemerintah akan menetapkan besoknya belum masuk Ramadhan karena hilal dianggap belum memenuhi syarat visibilitas untuk bisa diamati.

Namun, jika pada saat pemantauan posisi bulan sudah tinggi dan memenuhi syarat MABIMS, maka besar kemungkinan awal puasa Ramadhan 2026 akan berlangsung serentak.

Perbedaan metode ini merupakan hal yang lumrah dan sudah sering terjadi di Indonesia.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved