Minggu, 19 April 2026

Mutiara Ramadhan

Meneladani Nabi dengan Amalan Sunyi Menahan Lisan di Bulan Ramadan

Puasa seperti apa yang pada puasa itu kita boleh menikmati makan dan boleh menikmati minum?

|
Editor: Amalia Husnul A
Tribun Jabar
MUTIARA RAMADHAN - KH. Miftah F. Rakhmat, Pembina Pondok Pesantren Darur Rahman. 

Oleh: KH. Miftah F. Rakhmat, Pembina Pondok Pesantren Darur Rahman 

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. 

Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamu’ala ‘ibadillahi shalihin.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna sayyidana wa maulana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad wa ‘ajjil farajah.

Tribunners, selamat menunaikan ibadah pada hari-hari penuh berkah di Bulan Suci Ramadhan.

Kepada anak-anak santri, di Bulan Ramadhan saya mengadakan kuis-kuis pertanyaan singkat di pesantren kilat.

Misalnya, contoh kuis itu: sebutkan nama daratan yang hanya pernah disinari oleh matahari sekali saja seumur hidupnya.

Anak-anak akan mencoba menyebutkan berbagai macam jawaban, misalnya Antartika, atau padang pasir.

Ada juga yang mengatakan tanah makam, kuburan, dan sebagainya.

Tanah makam sangat mungkin digali kembali dan mendapat sinar matahari lagi.

Sebenarnya jawabannya adalah tanah atau daratan yang dilalui oleh kafilah Nabi Allah Musa ‘alaihis salatu wasalam ketika laut dibelah itu.

Berlari dari kejaran Firaun dan bala tentaranya, laut dibelah, dan Nabi Musa berjalan bersama Bani Israil melalui celah di antara lautan yang terbelah itu.

Itu daratan yang setelah itu samudera tertutup kembali dan tidak pernah disinari matahari selama-lamanya.

Nah, dalam rangkaian kuis seperti itu, di Bulan Suci Ramadhan ada pertanyaan juga: puasa seperti apa yang pada puasa itu kita boleh menikmati makan dan boleh menikmati minum?

Jawabannya, sebetulnya, untuk sampai pada jawaban itu izinkan saya mengantarkannya dengan sebuah kisah.

Orang tua saya, ayah saya, studi di Australia untuk mengambil S3. Beasiswa belum cair. Kami sekeluarga berada dalam keterbatasan.

Dengan berbagai pembiayaan dan sebagainya, kami merasakan ujian kehidupan begitu rupa. Sampai-sampai tabungan terakhir adik bungsu kami dipecahkan untuk mempertahankan keberlangsungan hidup kami di sana.

Di tanah air, Bapak punya satu kendaraan mobil. Berbincang dengan keluarga, “Mau kita jual saja?” Pada saat sudah niat mau dijual, mobil itu dipinjam. Tiba-tiba di jalan tol ada truk yang membawa gelondongan kayu, rantainya lepas dan menghantam mobil itu.

Hancur tak tersisa, tinggal rangka besi saja.

Kemudian, Allahhu yarham ayahanda saya mengatakan, “Memang kita ini kadang-kadang kalau sudah diuji, dicoba, seperti terasa sudah mau diberikan jalan keluar, malah jadi cobaan berikutnya.”

Lalu Bapak, waktu itu bulan Sya’ban menjelang Ramadhan, membaca Al-Qur’an dan sampai pada Surah Maryam.

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan Nabi Allah Zakaria yang diuji Allah Ta’ala dengan berbagai cobaan.

Salah satu ujian Allah Ta’ala pada Nabi Zakaria adalah beliau belum beroleh keturunan, sampai Nabi Zakaria sudah sepuh, rambut beliau memutih, punggung sudah renta, tubuh membungkuk.

Nabi Zakaria tidak henti berdoa kepada Allah Ta’ala, tidak putus asa berdoa. Kemudian Allah Ta’ala karuniakan jawaban: Nabi Zakaria akan beroleh seorang putra.

Dan Nabi Zakaria kemudian bertanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ini Surah Maryam ayat ke-10:

Qala rabbi ij‘al li ayah. Ya Allah, jadikan bagiku tanda.

Kemudian Allah Ta’ala sampaikan:

Qala ayatuka alla tukalliman nasa tsalatsa layalin sawiyya.

Tanda untukmu itu adalah engkau tidak berbicara dengan manusia selama tiga hari.

Nah, ini yang sering disebut dengan puasa bicara.

Puasa yang kita boleh makan, kita boleh minum, tetapi yang kita tahan adalah lidah kita, yang kita tahan adalah lisan kita.

Kita ini, saudara sekalian, Tribunners rahimakumullah, adalah orang-orang yang punya berbagai macam permasalahan hidup.

Ada banyak hal yang memenuhi isi pikiran kita, menghimpit rongga dada kita. 

Dan Allah Ta’ala sebetulnya mengajarkan melalui kisah Nabi Zakaria ini, beliau yang berharap ingin punya putra, ingin punya keturunan, bertahun-tahun tidak kunjung memperolehnya.

Allah Ta’ala kemudian, dalam tanda petik, ajarkan untuk mulailah dengan tidak berbicara pada manusia illa ramza, dalam ayat Al-Qur’an yang lain, kecuali dengan isyarat saja. Ini menarik.

Dalam lanjutan ayat berikutnya yang mengisahkan tentang Sayyidatina Maryam salamullahi ‘alaiha.

Ketika Siti Maryam, ibunda Nabi Isa ‘alaihis salatu wasalam, itu kalau kuis berikutnya dalam pesantren kilat adalah sebutkan lima ciptaan Tuhan yang terlahir dalam keajaiban.

Misalnya Nabi Adam ‘alaihis salam lahir tanpa ayah dan ibu. Kemudian ada Nabi Isa ‘alaihis salam yang lahir tanpa kehadiran ayah.

Suatu saat datang malaikat yang menemui Siti Maryam salamullahi ‘alaiha, menyampaikan bahwa ia adalah hamba utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lalu ketika melahirkan Nabi Isa, karena akan menghadapi cobaan Siti Maryam akan berhadapan dengan masalah, ia beroleh putra tanpa seorang suami, tanpa ayah bagi anak itu.

Bayangkan, ia akan kembali ke kaumnya, kembali ke keluarganya, membawa anak yang tidak jelas siapa ayahnya. Ini tantangan, kendala, masalah yang sangat berat bagi Siti Maryam.

Malaikat utusan Allah Ta’ala kemudian menyampaikan, dalam Surah Maryam ayat ke-26:

Fa kuli wasyrabi wa qarri ‘aina.

“Makanlah dan minumlah, dan tenangkanlah hatimu”

Dan kalau engkau melihat seseorang yang bertanya kepadamu karena ini pertanyaan yang akan sangat dihindari, sesuatu yang ditakuti, masalah yang besar

Katakanlah “Inni nadzartu lirrahmani shauman falan ukallima al-yauma insiyya”

Aku bernazar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.

Dua kisah yang satu punya hajat ingin dipenuhi, yang satu punya kekhawatiran menghadapi tantangan kaumnya. Dua permasalahan, dua kekhawatiran.

Betul, Allah Ta’ala mengajarkan kita berdoa. Yang Al-Quran ajarkan juga adalah dorong doa itu dengan amalan:

Ilaihi yash‘adu al-kalimu ath-thayyib wal-‘amalu ash-shalihu yarfa‘uh.

Kepada Allah Ta’ala naik kalimat-kalimat yang baik, dan amal saleh mengangkatnya lebih tinggi lagi.

Kita bisa dorong doa dengan amalan-amalan ibadah lainnya. Tetapi ada satu amalan khusus yang dalam kisah Surah Maryam ini Allah Ta’ala jelaskan, yaitu menahan lisan.

Di bulan Sya’ban dan Ramadhan sekarang ini, angkatlah doa-doa kita dengan menjaga pembicaraan kita, dengan puasa bicara.

Ternyata dalam kisah Nabi Zakaria dan Siti Maryam ini, puasa bicara mendekatkan diri pada ijabah doa, pada pemenuhan apa yang kita harapkan. Puasa bicara juga membantu kita menghadapi permasalahan yang kita khawatirkan.

Mengapa demikian? Karena sebetulnya, Tribuners, manusia adalah makhluk yang tidak pernah dapat berhenti berbicara, bahkan pada dirinya sendiri.

Memang ada praktik meditasi ketika kita diminta fokus khusus, tetapi manusia tidak pernah betul-betul kosong tanpa kata-kata dalam dirinya.

Kata-kata yang berputar di dalam diri itulah yang kadang-kadang, dalam pemenuhan doa dan menghadapi masalah, memberikan kepada kita banyak kekhawatiran.

Ketika kita berhenti berbicara, berhenti riuh rendah di kepala kita, pada saat yang sama kita belajar untuk lebih berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menyerahkan diri kita pada Allah Ta’ala, menyerahkan segala ketentuan kepada-Nya.

Di bulan suci Ramadhan ini kita menahan rasa lapar. Pada saat yang sama, kata sebagian ulama, salah satu makna setan dibelenggu adalah kendali kita atas diri kita menguat.

Termasuk kalau kita mau menggunjingkan orang lain, membicarakan orang lain, apalagi sampai menyebarkan isu yang tidak benar, dan sebagainya itu melemah. Jadi lisan kita berkurang aktivitasnya. Pada saat lisan berkurang aktivitasnya, ruh kita menguat.

Sebagaimana Nabi Zakaria yang Allah Ta’ala minta untuk puasa bicara. Sebagaimana Siti Maryam salamullahi ‘alaiha yang Allah Ta’ala juga minta, melalui malaikat, untuk puasa bicara.

Selain kita di bulan suci Ramadhan menahan diri dari makan, minum, amarah, dan sebagainya, alangkah baiknya bila kita menyertakan puasa kita dengan menahan lisan kita menahan pembicaraan kita atau berbicara hanya yang perlu, yang baik, dan yang diridhai Allah Ta’ala.

Marilah kita belajar menjadi seperti Nabi Zakaria, menjadi seperti Siti Maryam, dengan menjaga lisan kita—puasa bicara itu.

Mudah-mudahan dengan itu kita didekatkan pada ijabah doa, sebagaimana Nabi Zakaria didekatkan dengan harapannya beroleh seorang putra.

Atau kita ditepiskan dari hal-hal yang kita khawatirkan dan takutkan, sebagaimana Siti Maryam ditepiskan dari segala kekhawatiran itu dengan berkata:

Inni nadzartu lirrahmani shauman falan ukallima al-yauma insiyya.”

Nah, konteks sekarang ini, di era digital, puasa bicara bukan hanya dengan lisan kita. Puasa bicara juga dengan jari-jemari kita.

Mari kita batasi apa yang kita tuliskan, apa yang kita publikasikan, unggah, dan sebarkan. Kita batasi pada hal-hal yang Allah Ta’ala berkenan. Dengan harapan, sekali lagi, didekatkan pada ijabah doa dan ditepiskan dari segala kekhawatiran kita.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkati Tribuners dan keluarga di hari-hari penuh berkah di bulan suci ini. Terima kasih atas segala perhatian. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wassalallahu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi thahirin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Wa ma tawfiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (*)

Ikuti berita populer lainnya di saluran berikut: Channel WA, Facebook, X (Twitter), YouTube, Threads, Telegram

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved