Sabtu, 25 April 2026

Ramadan 2026

Bukber Ramadan Bikin Bahagia atau Malah Cemas? Ini Kata Psikolog Samarinda

Bukber bisa jadi momen bahagia yang mempererat silaturahmi, namun juga berpotensi memicu kecemasan dan tekanan sosial.

Penulis: Nevrianto | Editor: Miftah Aulia Anggraini
TRIBUNKALTIM.CO/NEVRIANTO HARDI PRASETYO
BUKA PUASA BERSAMA - Buka puasa bersama atau Bukber bisa jadi momen bahagia yang mempererat silaturahmi, namun juga berpotensi memicu kecemasan dan tekanan sosial. Psikolog Samarinda menjelaskan sisi positif dan risikonya. (TRIBUNKALTIM.CO/NEVRIANTO HARDI PRASETYO) 
Ringkasan Berita:
  • Bukber meningkatkan sense of belonging, validasi sosial, dan kesejahteraan psikologis jika dijalani dengan niat silaturahmi.
  • Pembahasan soal karier, pencapaian, hingga kondisi finansial bisa memicu overthinking dan kecemasan.
  • Keinginan menjaga gengsi atau mengikuti standar tertentu berpotensi menimbulkan stres terselubung.

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Tradisi buka puasa bersama atau bukber kerap menjadi momen yang dinanti saat Ramadhan.

Namun di balik suasana hangat dan kebersamaan, aktivitas ini ternyata bisa menghadirkan dua sisi berbeda: membahagiakan sekaligus berpotensi memicu kecemasan.

Psikolog Klinis RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda, Elda Trialisa Putri, menjelaskan bahwa bukber memiliki dimensi sosial dan psikologis yang kuat.

Menurutnya, bukber bukan sekadar kegiatan makan bersama.

Baca juga: Sewa iPhone di Banjarmasin Laris Manis Saat Ramadan, Raup Cuan Saat Bukber

Aktivitas ini menjadi ruang mempererat silaturahmi sekaligus memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk merasa terhubung, diterima, dan dihargai. 

Rasa kebersamaan yang terbangun mampu meningkatkan sense of belonging atau perasaan memiliki dalam suatu kelompok.

"Sebenarnya secara psikologis, bukber juga berfungsi sebagai validasi sosial dan penguatan identitas diri," kata dosen Prodi Psikologi UMKT, Minggu (1/03/2026)

Berkumpul dengan teman dekat, sahabat lama, maupun komunitas dapat memperkuat identitas sosial serta memberikan stabilitas emosional. 

Baca juga: Cerita Influencer Samarinda Alya Ramadhani, Bukber Jadi Momen Relasi dan Cuan

Dalam suasana hangat, individu merasa keberadaannya diakui dan dihargai.

Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan hidup sehari-hari, bukber dapat menjadi ruang jeda.

Seseorang bisa berbagi cerita, bertukar pengalaman, serta memperoleh dukungan sosial.

Interaksi penuh kehangatan dan empati mampu menghadirkan rasa bahagia dan tenang, sekaligus membantu meredakan stres.

Baca juga: Jaga Akar di Tengah Jabatan, Keluarga Mas’ud Bukber di Rumah Masa Kecil di Kampung Baru Balikpapan

Tak hanya menerima manfaat, individu juga berkesempatan memberikan dukungan psikologis kepada orang lain, yang pada akhirnya menumbuhkan empati dan kepedulian sosial.

"'Respons positif atas kehadiran seseorang dalam kelompok pun dapat meningkatkan harga diri (self-esteem)" ujarnya.

Namun, Elda mengingatkan bahwa bukber juga memiliki potensi dampak negatif.

Pertemuan sosial bisa memicu perbandingan sosial, terutama ketika pembahasan mengarah pada pencapaian hidup, karier, atau kondisi finansial.

Baca juga: Ngabuburit Estetik di Kafe Thopoles Tarakan, Sensasi Berburu Sunset dan Bukber Prasmanan Murah

Situasi ini berpotensi menimbulkan perasaan inferior, overthinking, hingga kecemasan sosial.

Tekanan finansial juga kerap muncul.

Demi menjaga gengsi atau keterikatan relasi, seseorang mungkin merasa perlu mengikuti standar tertentu, seperti membayar iuran besar, memilih lokasi mewah, atau menyesuaikan penampilan agar mendapat pengakuan sosial. Jika tidak sesuai kemampuan, kondisi ini bisa memicu stres terselubung.

Fenomena flexing atau pamer status pun menjadi tantangan tersendiri.

Baca juga: Maxone Hotel Balikpapan Gelar Acara Buka Puasa Bersama dengan Tema Bukber Nusantara 1447 H

Kompetisi simbol status melalui tempat, busana, maupun pencapaian pribadi berisiko memperbesar dampak negatif, terutama bagi individu dengan harga diri yang rentan.

Seiring perkembangan zaman, tren bukber juga berubah.

Banyak kelompok kini memilih konsep yang lebih mindful dan intim dalam lingkup kecil agar interaksi terasa lebih bermakna.

Tak sedikit pula bukber yang disertai kajian, sesi reflektif, maupun kegiatan amal sehingga kebutuhan spiritual turut terpenuhi.

Baca juga: Maxone Hotel Balikpapan Gelar Acara Buka Puasa Bersama dengan Tema Bukber Nusantara 1447 H

Di sisi lain, media sosial turut memengaruhi pengalaman bukber.

Dokumentasi kebersamaan hingga unggahan konten kreatif sering menjadi bagian tak terpisahkan dari momen Ramadhan.

Pada akhirnya, dampak bukber bersifat subjektif dan bergantung pada kondisi harga diri, motivasi, serta pola pikir masing-masing individu.

"Jika dijalani dengan niat mempererat silaturahmi dan rasa syukur, bukber dapat menjadi sarana efektif meningkatkan kesejahteraan psikologis sekaligus memperkaya makna Ramadhan." tandas Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah Kaltim periode 2026–2030 tersebut. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved