Jumat, 1 Mei 2026

Idul Fitri 1447 H

Link Live Streaming Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H, Penentuan Hari Raya Idul Fitri 2026

Pemerintah akan menggelar sidang isbat pada 19 Maret 2026, inilLink live streaming sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 H. 

Tayang:
Dok TribunKaltim.co/Nevrianto Hardi Prasetyo
IDUL FITRI 2026 - Ilustrasi. Shalat Idul Adha di Lapangan GOR Segiri Jalan Kesuma Bangsa Kota Samarinda Kalimantan Timur, Sabtu (9/7/2022) lalu. Pemerintah akan menggelar sidang isbat pada 19 Maret 2026, inilLink live streaming sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 H.  

"Jadi ya kita memang ya kita tidak harus sama, kita bisa berbeda. Tapi yang penting adalah kita saling menghormati, saling menghargai jika memang terdapat perbedaan hasil sidang isbat di tanggal 1 Syawal," imbuhnya. 

Perkiraan BMKG

Data astronomi BMKG tentang ketinggian hilal menjadi salah satu referensi ilmiah dalam proses penentuan awal bulan hijriah di Indonesia termasuk dalam penetapan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H.

Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sesuai data astronomi, Idul Fitri 1 Syawal 1447 H berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. 

Perkiraan BMKG tersebut mengacu pada peta ketinggian hilal tahun 2026 untuk memantau kemungkinan terlihatnya bulan sabit muda sebagai penanda awal bulan Syawal. 

Baca juga: Jadwal Sidang Isbat Lebaran 2026, Potensi Perbedaan Idul Fitri 1447 H Pemerintah dan Muhammadiyah

Dalam data tersebut, posisi hilal pada 29 Ramadhan 1447 Hijriah atau 19 Maret 2026 diperkirakan belum memenuhi kriteria visibilitas yang digunakan negara-negara anggota MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Kriteria MABIMS menetapkan awal bulan hijriah dapat ditetapkan jika ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat saat matahari terbenam.

Jika posisi hilal belum memenuhi kriteria tersebut, maka bulan Ramadhan biasanya digenapkan menjadi 30 hari, sehingga awal Syawal diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026. 

Data Astronomi Penentuan Awal Syawal 1447 H

Berdasarkan perhitungan BMKG, konjungsi geosentrik (ijtimak), yaitu saat bujur ekliptika Bulan dan Matahari berada pada posisi yang sama jika diamati dari pusat Bumi, diperkirakan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23.23 WIB.

Dalam waktu universal, peristiwa tersebut terjadi pada 01.23.23 UT, atau 09.23.23 WITA dan 10.23.23 WIT.

Pada saat itu, nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tercatat 358,45 derajat.

BMKG juga mencatat bahwa periode sinodis Bulan, yakni jarak waktu antara konjungsi sebelumnya (awal Ramadan 1447 H) hingga konjungsi berikutnya (awal Syawal 1447 H), berlangsung selama 29 hari 13 jam 22 menit.

Sementara itu, pada tanggal yang sama, waktu matahari terbenam di Indonesia bervariasi.

Matahari terbenam paling awal diperkirakan terjadi pada 17.48.13 WIT di Waris, Papua, sedangkan yang paling akhir terjadi pada 18.49.39 WIB di Banda Aceh, Aceh.

Karena konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia pada 19 Maret 2026, maka secara astronomis pengamatan hilal untuk menentukan awal Syawal dapat dilakukan setelah matahari terbenam pada hari tersebut.

Data astronomi BMKG menunjukkan posisi hilal saat matahari terbenam 19 Maret 2026 relatif rendah.

Kondisi ini membuat kemungkinan terlihatnya hilal di sebagian wilayah Indonesia menjadi terbatas dan masih bergantung pada hasil rukyatul hilal. (*)

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved