Senin, 1 Juni 2026

MotoGP

Liberty Media di MotoGP Menuai Kritik Keras, 'Mereka Hapus Sejarah dan Hanya Mengejar Tontonan'

Paolo Simoncelli telah menjadi figur penting di paddock MotoGP sejak mendirikan SIC58 Squadra Corse

Tayang:
Motogp.com
MOTOGP 2026 - Paolo Simoncelli telah menjadi figur penting di paddock MotoGP sejak mendirikan SIC58 Squadra Corse, tim yang dibentuk untuk mengenang mendiang putranya, Marco Simoncelli. (MOTOGP.COM) 

Ringkasan Berita:
  • Paolo Simoncelli mengkritik arah baru MotoGP di bawah Liberty Media yang dinilainya mengabaikan sejarah dengan hanya mengakui gelar kelas utama. 
  • Ia juga menyoroti pembinaan pembalap muda yang terlalu dipaksakan seperti kelas premier. 
  • Simoncelli memuji Marc Marquez sebagai juara sejati, sementara menilai Francesco Bagnaia tertekan dan belum siap menghadapi rekan setim sekuat Marquez.

TRIBUNKALTIM.CO - Paolo Simoncelli telah menjadi figur penting di paddock MotoGP sejak mendirikan SIC58 Squadra Corse, tim yang dibentuk untuk mengenang mendiang putranya, Marco Simoncelli.

Misi tim ini jelas, yakni membantu talenta muda berkembang hingga mencapai level tertinggi MotoGP.

Di luar lintasan, pria Italia itu dikenal blak-blakan, dan dalam wawancara terbarunya bersama GPOne, ia kembali menyuarakan kritik tajam.

Salah satu perubahan besar di MotoGP adalah akuisisi oleh Liberty Media, pemegang hak Formula 1.

Baca juga: Kondisi Yamaha Jelang MotoGP 2026: Toprak Razgatlioglu Antusias, Quartararo Pertaruhkan Karier

Menurut Simoncelli, perubahan ini membawa konsekuensi, tidak semuanya positif.

Salah satunya adalah kebijakan yang tidak lagi menghitung gelar dari kelas kecil, dan hanya mengakui titel di kelas utama.

“Orang-orang Amerika ini ingin mengubah segalanya."

"Seolah-olah apa yang kami bangun selama ini tidak ada nilainya."

Baca juga: Peta Kekuatan Pabrikan MotoGP di Era Konsesi Baru: Siapa Naik, Siapa Tertinggal?

"Mereka ingin menghapus gelar dari kelas bawah dan hanya mengakui kelas utama."

"Dengan begitu, Marco, Gresini, atau Nieto akan ‘menghilang’. Mereka ingin menghapus sejarah dan hanya mengejar tontonan."

"Kalau begitu, buat saja sirkus. Solusinya sederhana: setiap tim MotoGP seharusnya punya tim di Moto3 dan Moto2,” tegasnya.

Simoncelli juga menyoroti pembalap muda masa kini.

Baca juga: Siapa Raja Sprint Race MotoGP Sejak Diperkenalkan Dorna pada 2023? Ternyata Bukan Marc Marquez

Menurutnya, pada usia 18 tahun banyak yang sudah terlalu dipengaruhi manajer dan memiliki fisik seperti pembalap kelas utama.

“Mereka tidur, makan, dan berlatih seperti Marquez, ke gym lima hari seminggu."

"Usia minimum dinaikkan karena kecelakaan fatal di CEV, padahal solusi sederhananya adalah mengurangi kepadatan grid,” ujarnya.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved