Komunitas
Orang Tua di Samarinda Pilih Push Bike Jadi Sarana Terapi dan Pembentuk Karakter Anak
Komunitas push bike bukan sekadar tempat olahraga anak, tetapi ruang tumbuh yang membentuk karakter, melatih fokus
Penulis: Gregorius Agung Salmon | Editor: Christoper Desmawangga
Ringkasan Berita:
- Terapi ADHD dan Fokus: Dhani Achmad, ayah dari Riqkian (5), mengungkapkan olahraga ini terbukti melatih fokus sang anak yang didiagnosis ADHD, serta mengubah kepribadiannya dari introver menjadi lebih terbuka.
- Membentuk Karakter dan Fisik: Femi Andriyati, ibu dari Ammar (6), melihat perkembangan karakter berupa kemandirian, disiplin waktu (seperti antusiasme memimpin doa sebelum latihan), serta kondisi fisik anak yang menjadi lebih bugar dan jarang sakit.
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Komunitas push bike bukan sekadar tempat olahraga anak, tetapi ruang tumbuh yang membentuk karakter, melatih fokus, hingga meningkatkan keberanian dan kemampuan bersosialisasi.
Riuh suara dukungan para orang tua terdengar bersahut-sahutan di area parkir Gelora Kadrie Oening Sempaja, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).
Di lintasan sederhana itu, puluhan anak dengan helm full face warna-warni tampak bersemangat melaju menggunakan push bike atau sepeda keseimbangan tanpa pedal.
Baca juga: Cerita Kiara dan Ziyan Berlatih Push Bike: Telur Rebus, Kompetisi dan Serunya Punya Banyak Teman
Namun di balik antusiasme anak-anak tersebut, tersimpan kisah perjuangan dan harapan besar dari para orang tua yang melihat olahraga ini bukan sekadar hobi, melainkan investasi masa depan tumbuh kembang anak.
Bagi mereka, push bike telah menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget sekaligus membangun keberanian, disiplin, hingga kemampuan bersosialisasi sejak dini.
Terapi ADHD
Salah satu kisah inspiratif datang dari Dhani Achmad, ayah dari Riqkian Achmad (5), yang bergabung dengan komunitas push bike, Samarinda Balance Bike (SBB) sejak November tahun lalu.
Bagi Dhani, keputusan memasukkan sang anak ke olahraga push bike bukan tanpa alasan.
Qian adalah anak istimewa yang didiagnosis Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
Baca juga: Komunitas Push Bike Balikpapan Ajak Anak Jauhi Gawai, Latih Motorik Sejak Dini
Atas saran terapis, Dhani memilih push bike untuk membantu melatih fokus dan konsentrasi anak secara bertahap.
Hasilnya mulai terlihat setelah Qian rutin mengikuti latihan empat kali dalam seminggu selama enam bulan terakhir.
“Perubahannya banyak, fokusnya bertambah. Anak saya yang tadinya jarang bergaul di lingkungan rumah, bisa dibilang introvert, sekarang di komunitas jadi lebih terbuka dan mau bergaul dengan teman-temannya,” ungkap Dhani.
Menurutnya, olahraga luar ruang seperti push bike jauh lebih memberikan dampak positif dibanding anak terus-menerus bermain gadget di rumah.
Dhani tidak menampik bahwa memfasilitasi anaknya di bidang olahraga membutuhkan alokasi dana dan waktu yang tidak sedikit, terlebih jika harus mengikuti ajang di luar kota.
Namun, ia dan istri telah menyiapkan pos anggaran khusus sejak dini.
Bagi Dhani, interaksi di lapangan jauh lebih berharga.
| FOTO-FOTO: Keseruan Berlatih Push Bike Bersama Samarinda Balance Bike |
|
|---|
| Cerita Kiara dan Ziyan Berlatih Push Bike: Telur Rebus, Kompetisi dan Serunya Punya Banyak Teman |
|
|---|
| Komunitas Samarinda Balance Bike: Tantangan Melatih Balita dan Cegah Ketergantungan Gadget |
|
|---|
| Unik dan Menggemaskan, Pelihara Musang Kini Mulai Digemari di Balikpapan |
|
|---|
| Komunitas Skateboard Ini Gunakan Mandau Skatepark Untuk Berlatih, Begini Sensasinya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260522_Samarinda-Balance-Bike-4.jpg)