Rabu, 29 April 2026

Piala Dunia 2026

Daftar Aturan Baru Kartu Kuning dan Kartu Merah di Piala Dunia 2026

 Perubahan besar dalam regulasi sepak bola internasional mulai disiapkan menjelang gelaran Piala Dunia 2026.

Tayang:
X.com/@FIFAWorldCup
PIALA DUNIA 2026 - Foto tangkap layar unggahan akun X @FIFAWorldCup yang memperlihatkan trofi Piala Dunia 2026. Berikut aturan baru soal kartu kuning dan kartu merah di Piala Dunia 2026 

Ringkasan Berita:
  • Piala Dunia 2026 akan menerapkan aturan baru dari IFAB di Vancouver, termasuk larangan menutup mulut saat konflik dan ancaman kartu merah
  • Aksi walk out atau meninggalkan lapangan sebagai protes bisa langsung berujung kartu merah dan tim dinyatakan kalah, terinspirasi insiden Piala Afrika 2025
  • FIFA juga mengkaji penghapusan kartu kuning di fase tertentu untuk menjaga kualitas pertandingan di turnamen 48 tim dengan 104 laga.

TRIBUNKALTIM.CO - Perubahan besar dalam regulasi mulai disiapkan menjelang gelaran Piala Dunia 2026.

Sebagai informasi, Piala Dunia 2026 akan mulai digelar pada 12 Juni mendatang.

Sejumlah aturan baru terkait disiplin pemain resmi disetujui dan tengah menjadi sorotan, terutama menyangkut perilaku pemain saat berada di lapangan.

Keputusan ini diambil oleh International Football Association Board, badan yang memiliki kewenangan dalam menetapkan dan mengubah aturan permainan sepak bola global.

Dalam pertemuan khusus yang berlangsung di Vancouver pada Selasa (28/4/2026), IFAB mengesahkan sejumlah kebijakan baru yang dinilai penting untuk menjaga integritas pertandingan.

Baca juga: Utusan Donald Trump: Timnas Italia Berpeluang Lebih dari 50 Persen Gantikan Iran di Piala Dunia 2026

Aturan Baru: Tutup Mulut Saat Bertengkar Terancam Kartu Merah

Salah satu perubahannya adalah terkait kebiasaan pemain yang menutup mulut saat berdebat atau terlibat konfrontasi di lapangan.

Tindakan ini sebelumnya sering dilakukan untuk menghindari pembacaan gerakan bibir oleh kamera atau pihak berwenang.

Dalam aturan terbaru, tindakan tersebut dapat berujung pada sanksi berat.

“Atas kebijakan penyelenggara kompetisi, setiap pemain yang menutup mulut dalam situasi konfrontatif dengan lawan dapat dikenai kartu merah,” demikian pernyataan IFAB.

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya kasus dugaan ujaran diskriminatif di lapangan yang sulit dibuktikan karena pemain menutup mulut saat berbicara.

Istilah “diskriminatif” sendiri merujuk pada perlakuan tidak adil terhadap seseorang berdasarkan ras, agama, atau latar belakang tertentu.

Isu ini mencuat setelah insiden dalam laga Liga Champions UEFA antara Benfica dan Real Madrid.

Dalam pertandingan tersebut, pemain Benfica, Gianluca Prestianni, dituduh melontarkan ujaran diskriminatif kepada pemain Real Madrid, Vinicius Junior.

Insiden itu membuat pertandingan sempat dihentikan setelah wasit mengaktifkan protokol anti-diskriminasi. Protokol ini merupakan prosedur resmi untuk menangani dugaan rasisme atau tindakan tidak pantas di lapangan.

Akibat kejadian tersebut, Prestianni kemudian dijatuhi sanksi larangan bermain sebanyak enam pertandingan oleh UEFA.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya juga telah menyoroti kebiasaan menutup mulut saat bertengkar. Menurutnya, tindakan itu menyulitkan pengawasan terhadap potensi pelanggaran serius.

Sanksi Tegas untuk Aksi Walk Out Pemain

Selain aturan soal konfrontasi, IFAB juga memperkenalkan kebijakan baru terkait aksi meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit, yang dikenal dengan istilah “walk out”.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved