Senin, 11 Mei 2026

Berita Viral

Viral Diduga Orang Indonesia Bobol Grok Pakai Kode Morse, Kripto Rp 3,4 Miliar Dipindahkan Otomatis

Dalam kasus ini, aset kripto yang dilaporkan berpindah tangan mencapai sekitar 200.000 dollar AS atau setara Rp 3,4 miliar.

Tayang:
SHUTTERSTOCK
GROK AI - Ilustrasi Grok AI. Sebuah chatbot AI besutan xAI dilaporkan berhasil ditipu hingga memindahkan aset kripto senilai sekitar 200.000 dollar AS atau setara Rp 3,4 miliar. 

Laporan Economic Times menyebut kasus ini memperlihatkan betapa berbahayanya ketika AI diberikan akses langsung ke sistem keuangan tanpa pengawasan dan validasi ketat.

Prompt Injection Jadi Sorotan

Para pakar keamanan siber sebenarnya sudah lama memperingatkan ancaman serupa yang dikenal sebagai prompt injection.

Prompt injection merupakan teknik manipulasi AI dengan cara menyisipkan instruksi tersembunyi agar sistem menjalankan perintah tertentu di luar tujuan awal.

Dalam dunia AI, prompt sendiri merupakan instruksi atau teks yang diberikan pengguna kepada sistem kecerdasan buatan.

Teknik prompt injection sering dianggap berbahaya karena AI bisa saja memproses instruksi tambahan tanpa mampu membedakan mana perintah sah dan mana yang bersifat manipulatif.

Kasus dugaan pembobolan Grok ini dianggap menjadi contoh nyata bagaimana prompt injection dapat digunakan untuk memengaruhi sistem AI yang sudah terhubung langsung dengan aset keuangan.

Jika sebelumnya ancaman prompt injection lebih banyak dibahas dalam teori dan simulasi keamanan siber, insiden kali ini memperlihatkan dampaknya secara langsung terhadap transaksi bernilai miliaran rupiah.

Kekhawatiran Baru di Dunia AI dan Kripto

Peristiwa ini memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pengembang AI maupun komunitas aset digital. Banyak pihak mulai mempertanyakan sejauh mana AI boleh diberi akses untuk mengambil keputusan finansial secara otomatis.

Apalagi industri kripto selama ini memang dikenal rentan terhadap eksploitasi sistem, mulai dari pencurian dompet digital, manipulasi smart contract, hingga serangan phishing.

Smart contract sendiri merupakan program otomatis di blockchain yang menjalankan transaksi berdasarkan aturan tertentu tanpa perantara.

Ketika AI mulai terhubung dengan smart contract dan sistem perdagangan otomatis, risiko keamanan dinilai menjadi jauh lebih kompleks.

Dalam kasus Grok dan Bankrbot, celah keamanan diduga muncul karena sistem terlalu percaya pada hasil interpretasi AI tanpa pengecekan manual.

Padahal, dalam sistem finansial modern, proses validasi berlapis biasanya menjadi standar penting untuk mencegah transaksi ilegal maupun manipulatif.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved