Rabu, 6 Mei 2026

Travel

Bukan Sekadar Pantai, Intip Pesona Bukit Peramun, Hutan Digital Pertama di Belitung yang Mendunia

Bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda, Bukit Peramun di Desa Air Selumar menawarkan sensasi petualangan hutan

Tayang:
Editor: Budi Susilo
KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU
WISATA ALAM BELITUNG - Pemandu Bukit Peramun membeberkan cara menggunakan virtual assistant berbasis android melalui aplikasi khusus. Pengunjung dapat memindai titik-titik putih di batang pohon, lalu informasi mengenai pohon akan ditampilkan dalam bentuk visual dan audio. (KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU) 

TRIBUNKALTIM.CO, BELITUNG – Destinasi wisata di Belitung kini tidak lagi hanya identik dengan hamparan pasir putih dan batu granit di tepi pantai.

Bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda, Bukit Peramun di Desa Air Selumar menawarkan sensasi petualangan hutan yang memadukan keasrian alam dengan teknologi mutakhir.

Dikenal sebagai "Hutan Digital Pertama Berbasis Masyarakat" oleh MURI sejak 2023, Bukit Peramun berhasil mentransformasi cara wisatawan berinteraksi dengan alam melalui inovasi digital yang interaktif.

Salah satu daya tarik utama di Bukit Peramun adalah penggunaan aplikasi berbasis Android bernama Kepo (Kenali Pohon).

Baca juga: IKN Diserbu 59 Ribu Pengunjung Saat Paskah, Aktivitas Tanam Pohon Jadi Daya Tarik

Inovasi ini lahir dari kendala pemandu lokal yang sering kesulitan menjelaskan detail jenis tanaman secara berulang.

"Kami mengenalkan informasi secara interaktif melalui visual dan audio. Ada gambar robot dan penjelasan dalam Bahasa Indonesia serta Inggris. Ini jauh lebih efektif dibanding sistem barcode atau teks panjang yang sering membuat pengunjung bosan," ujar Wahyu Ramadhan, IT Support Bukit Peramun, Sabtu (25/4/2026).

Uniknya, penggunaan teknologi ini tetap mengedepankan prinsip konservasi. Penanda pada pohon tidak menggunakan paku atau kawat, melainkan hanya cat sederhana agar tidak merusak jaringan tanaman.

Selain edukasi digital, pengunjung dapat menikmati berbagai pengalaman fisik yang menantang:

  • Trekking dan Batu Kembar:

Menyusuri jalur hutan yang dihiasi batu granit raksasa ikonik yang disebut Batu Kembar.

  • Melihat Tarsius:

Bertemu dengan primata terkecil di dunia yang langka. Namun, satwa eksotis ini hanya dapat ditemui pada malam hari.

  • Kuliner di Puncak:

Menikmati hidangan khas lokal sembari memandang cakrawala dari ketinggian bukit.
Transformasi Wisata: Dari Kuantitas ke Kualitas

Menariknya, Bukit Peramun kini tidak lagi mengejar kunjungan massal.

Sejak pandemi, pengelola yang tergabung dalam Air Selumar Community mengubah strategi menjadi wisata berbasis komunitas yang lebih bernilai tinggi.

Baca juga: Wisata Alam Tane Olen Setulang di Malinau, Unjuk Keistimewaan Konservasi Ikan dan Hukum Adat 

Ketua komunitas, Fahri Rizaldi, mengungkapkan bahwa meski jumlah wisatawan menurun, pendapatan justru melonjak hingga 70 persen.

Hal ini dikarenakan paket wisata yang ditawarkan lebih eksklusif dan berkualitas.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved