Breaking News
Selasa, 19 Mei 2026

Berita Kaltim Terkini

Kisah Pak Ambo dan Buaya Riska Difilmkan, Angkat Mitologi 'Saudara Kembar' Tradisi Bugis

Nama buaya Riska mungkin sudah tidak asing di telinga masyarakat Kalimantan Timur, terkhusus Kota Bontang

Tayang:
Penulis: Raynaldi Paskalis | Editor: Samir Paturusi
TRIBUN KALTIM/Ho/Fatqurozi
BUAYA RISKA - Director, Writer and Actor Film Ambo Riska, Fatqurozi saat melakukan penandatangan MoU dengan ambo sebagai pemilik kisah yang akan di filmkan. (Ho/Fatqurozi) 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Nama buaya Riska mungkin sudah tidak asing di telinga masyarakat Kalimantan Timur, terkhusus Kota Bontang.

Buaya Riska mulai ramai menjadi perbincangan pada tahun 2020 silam. 

Hubungannya dengan salah satu warga di Muara Sungai Guntung, Bontang bernama Ambo menarik banyak perhatian publik.

Buaya muara dengan panjang hampir 5 meter tersebut telah dirawat Ambo seperti anaknya sendiri selama 26 tahun di habitat alaminya.

Namun pada tahun 2023, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim mengevakuasi buaya Riska dengan alasan membahayakan.

Baca juga: Kisah Pak Ambo dan Buaya Riska Bakal Jadi Film, Kilas Balik Persahabatan di Sungai Guntung Bontang

Dengan begitu, Ambo tidak lagi dapat merawat buaya yang sudah dia anggap sebagai anaknya.

Kisah hubungan unik antara Riska dengan Ambo kini bukan lagi sebatas cerita lama.

Tim produksi KAWALAND FILM resmi mengumumkan tengah menggarap proyek besar untuk mengangkat kisah itu ke layar lebar dengan judul "Ambo Riska".

Director, Writer and Actor Film Ambo Riska, Fatqurozi menjelaskan ide untuk mengangkat kisah ini berawal dari kegiatan tim yang aktif di industri film pendek sejak 2012.

"Dari perjalanan itu melihat kemampuan teman-teman kayaknya memang sudah saatnya untuk langkah lebih besar lagi, lebih panjang lagi," ujarnya melalui sambungan telepon kepada Tribunkaltim.co, Rabu (28/1/2026).

Dirinya mengakui, terdapat banyak perbedaan antara Industri film layar lebar dengan industri film pendek yang biasa digarap bersama teman-temannya.

Pihaknya memahami bahwa memproduksi film cerita tidak hanya sekadar menyampaikan cerita idealis atau kegelisahan semata tetapi juga harus sederhana sehingga mudah diterima oleh masyarakat luas.

Fatqurozi menambahkan, pilihan mengambil kisah Ambo dan Riska bukan tanpa alasan. Selain sudah viral dan dikenal luas, cerita ini dinilai memiliki kekuatan konten dan daya tariknya tersendiri.

"Kenapa sampai melihat ke Bontang, karena memang secara konten, secara item, dia memang sudah viral juga, dan sudah terkenal, dan semua orang sudah tahu, bahkan sampai ke luar negeri juga sudah tahu," jelasnya.

Lanjut dia, film ini juga akan memuat isu lingkungan yang selama ini kerap menjadi perhatian dalam karya-karyanya. 

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved