Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Kaltim Terkini

5 Daerah di Kaltim yang Rumahnya Paling Banyak Gunakan Atap Seng

Penggunaan atap seng masih mendominasi rumah tangga di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Tayang:
freepik/rawpixel
ATAP SENG - Ilustrasi atap seng. Berikut daerah di Kaltim yang paling banyak gunakan atap seng. 

Ringkasan Berita:
  • BPS mencatat 89,65 persen rumah di Kaltim masih memakai seng, kayu, dan sirap sebagai atap utama
  • Lima daerah tertinggi: Berau, Kutai Barat, Bontang, Mahakam Ulu, Kutai Kartanegara
  • Presiden Prabowo mendorong proyek “gentengisasi” karena seng panas dan berkarat, demi hunian lebih sehat.

TRIBUNKALTIM.CO - Penggunaan atap seng masih mendominasi rumah tangga di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 menunjukkan bahwa mayoritas kabupaten/kota di Kaltim masih mengandalkan seng, kayu, dan sirap sebagai bahan utama atap rumah.

Fakta ini bukan sekadar angka statistik, tetapi potret nyata kondisi perumahan masyarakat di luar Pulau Jawa yang masih menghadapi tantangan iklim, ekonomi, dan ketersediaan material bangunan.

Dominasi seng kembali menjadi sorotan nasional setelah Presiden Prabowo Subianto menyinggung wacana proyek yang ia sebut sebagai “gentengisasi”, yakni gerakan nasional untuk mengganti atap seng dengan genteng.

Menurut Presiden, atap seng membuat hunian menjadi lebih panas dan rentan berkarat, sehingga tidak ideal untuk kenyamanan dan kesehatan penghuni.

Baca juga: Baru 6,05 Persen Rumah Tangga Pakai Atap Genteng di Kaltim, Ini 5 Daerah yang Paling Banyak Gunakan

Pernyataan ini menempatkan Kaltim sebagai salah satu wilayah penting dalam diskusi besar tentang perbaikan kualitas hunian di Indonesia.

Berdasarkan data BPS berjudul Persentase Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota dan Bahan Bangunan Utama Atap Rumah Terluas Provinsi Kalimantan Timur, 2025, tercatat bahwa secara provinsi, 89,65 persen rumah tangga di Kaltim menggunakan seng, kayu, atau sirap sebagai bahan atap utama.

Sementara itu, hanya 6,05 persen yang memakai genteng, 1,53 persen beton, 2,54 persen asbes, dan 0,23 persen bambu/ijuk/daun rumbia/lainnya.

Angka ini menempatkan Kaltim sebagai salah satu provinsi dengan ketergantungan tertinggi pada seng dan bahan sejenis di Indonesia.

Kondisi tersebut juga mempertegas pernyataan Presiden bahwa persoalan atap rumah bukan sekadar isu teknis, melainkan menyangkut kenyamanan, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat.

Atap seng adalah penutup bangunan yang terbuat dari lembaran logam tipis, umumnya baja berlapis seng (galvanis) atau campuran aluminium-zink.

Seng dikenal ringan, murah, mudah dipasang, dan relatif tahan terhadap hujan deras. Di daerah dengan curah hujan tinggi seperti Kaltim, seng sering dipilih karena cepat kering dan tidak mudah lapuk.

Namun, seng juga memiliki kelemahan:

- Panas saat terpapar matahari, membuat suhu rumah meningkat.

- Berisik saat hujan.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved