Berita Kaltim Terkini
10 Provinsi dengan Ruang Kelas SMA Rusak Ringan Terbanyak, Ada Kaltim!
Kondisi ruang kelas menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kualitas layanan pendidikan di Indonesia.
TRIBUNKALTIM.CO - Kondisi ruang kelas menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kualitas layanan pendidikan di Indonesia.
Di balik proses belajar mengajar yang berlangsung setiap hari, terdapat persoalan infrastruktur yang belum sepenuhnya merata.
Data terbaru Tahun Ajaran 2024/2025 menunjukkan masih tingginya persentase ruang kelas Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berada dalam kondisi rusak ringan hingga sedang di sejumlah provinsi, termasuk Kalimantan Timur.
Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang bersumber dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Pusat Data dan Teknologi Informasi), dalam publikasi Statistik Persekolahan SD, SMP, SMA, dan SMK 2024/2025, kondisi ruang kelas SMA di Indonesia terbagi dalam tiga kategori utama, yakni baik, rusak ringan/sedang, dan rusak berat.
Istilah “rusak ringan/sedang” merujuk pada kondisi ruang kelas yang mengalami kerusakan pada sebagian komponen bangunan seperti atap bocor, plafon rusak, dinding retak, lantai pecah, atau instalasi listrik yang tidak berfungsi optimal, namun masih dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Baca juga: Ruang Kelas Terbatas, Siswa SDN 038 PPU Belajar di Balik Sekat dan Laboratorium
Menurut BPS, dikatakan rusak ringan apabila : (1) bangunan masih berdiri, sebagian komponen struktur retak (struktur masih bisa di fungsikan; (2) retak-retak pada dinding plasteran (3) sebagian kecil komponen penunjang lainnya rusak (4) masih bisa difungsikan; (5) secara fisik kerusakan >30 persen (Perka BNPB RI No.8 Tahun 2011).
Sementara “rusak berat” adalah kondisi kerusakan signifikan yang membuat ruang kelas tidak layak pakai dan berpotensi membahayakan keselamatan siswa dan guru.
Gambaran Nasional Kondisi Ruang Kelas SMA
Secara nasional, persentase ruang kelas SMA dalam kondisi baik mencapai 60,27 persen.
Artinya, lebih dari separuh ruang kelas di Indonesia masih dalam kondisi memadai untuk mendukung proses pembelajaran.
Namun demikian, terdapat 33,56 persen ruang kelas yang masuk kategori rusak ringan/sedang, serta 6,17 persen dalam kondisi rusak berat.
Angka 33,56 persen untuk kategori rusak ringan/sedang menunjukkan bahwa sepertiga ruang kelas SMA di Indonesia memerlukan perhatian dan perbaikan.
Meski belum sepenuhnya tidak layak, kondisi ini berpotensi memengaruhi kenyamanan dan efektivitas proses belajar mengajar.
10 Provinsi dengan Persentase Rusak Ringan/Sedang Tertinggi
Jika ditelusuri lebih lanjut, terdapat sepuluh provinsi dengan persentase ruang kelas SMA rusak ringan/sedang tertinggi di Indonesia pada Tahun Ajaran 2024/2025.
Urutan pertama ditempati Papua dengan persentase mencapai 59,57 persen. Artinya, lebih dari separuh ruang kelas SMA di provinsi tersebut berada dalam kondisi rusak ringan hingga sedang.
Di posisi kedua terdapat Nusa Tenggara Barat dengan angka 51,85 persen. Disusul Papua Pegunungan di peringkat ketiga dengan 49,27 persen.
Posisi keempat ditempati Bengkulu dengan 47,73 persen, sementara Papua Barat Daya berada di peringkat kelima dengan 47,03 persen.
Maluku menempati posisi keenam dengan 44,90 persen ruang kelas rusak ringan/sedang.
Kalimantan Timur berada di peringkat ketujuh secara nasional dengan angka 43,46 persen.
Posisi ini menempatkan provinsi tersebut dalam sepuluh besar wilayah dengan tingkat kerusakan ringan/sedang tertinggi di Indonesia.
Di bawah Kalimantan Timur, terdapat Sulawesi Utara dengan 42,45 persen di posisi kedelapan, Aceh dengan 42,27 persen di peringkat kesembilan, dan Sulawesi Selatan dengan 41,99 persen di posisi kesepuluh.
Dengan angka 43,46 persen, Kalimantan Timur berada jauh di atas rata-rata nasional sebesar 33,56 persen.
Selisih hampir 10 poin persentase ini menunjukkan tantangan infrastruktur pendidikan yang cukup serius di provinsi tersebut.
Potret Lengkap Kalimantan Timur
Kalimantan Timur mencatatkan 52,90 persen ruang kelas SMA dalam kondisi baik.
Angka ini berarti lebih dari separuh ruang kelas masih layak dan dapat menunjang proses pembelajaran secara optimal.
Namun, di sisi lain, sebanyak 43,46 persen ruang kelas berada dalam kategori rusak ringan/sedang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa hampir setengah ruang kelas membutuhkan perbaikan, meski belum masuk kategori rusak berat.
Adapun ruang kelas dengan kondisi rusak berat di Kalimantan Timur tercatat sebesar 3,64 persen.
Persentase ini memang lebih rendah dibanding rata-rata nasional untuk kategori rusak berat yang mencapai 6,17 persen.
Meski demikian, keberadaan ruang kelas rusak berat tetap menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan keselamatan dan kelayakan proses pendidikan.
Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Kalimantan, posisi Kalimantan Timur tergolong tinggi dalam kategori rusak ringan/sedang.
Kalimantan Barat mencatat 30,93 persen, Kalimantan Tengah 36,44 persen, Kalimantan Selatan 25,93 persen, dan Kalimantan Utara 31,41 persen.
Dengan demikian, Kalimantan Timur menjadi provinsi dengan persentase rusak ringan/sedang tertinggi di Pulau Kalimantan.
Perbandingan dengan Provinsi Lain
Papua sebagai provinsi dengan angka tertinggi juga memiliki persentase ruang kelas baik sebesar 30,36 persen dan rusak berat 10,07 persen.
Papua Pegunungan bahkan mencatat angka rusak berat 15,66 persen, tertinggi secara nasional.
Sementara itu, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan persentase rusak ringan/sedang terendah, yakni 7,95 persen.
Sebanyak 91,62 persen ruang kelas SMA di DKI Jakarta berada dalam kondisi baik, dan hanya 0,43 persen yang tergolong rusak berat.
Kepulauan Riau dan Bali juga mencatat kondisi relatif baik, masing-masing dengan 76,36 persen dan 76,24 persen ruang kelas dalam kondisi baik, serta rusak ringan/sedang di bawah 20 persen.
Data ini memperlihatkan adanya ketimpangan infrastruktur pendidikan antarwilayah di Indonesia.
Provinsi di kawasan timur Indonesia dan daerah kepulauan cenderung memiliki persentase kerusakan yang lebih tinggi dibanding wilayah perkotaan dan pusat pemerintahan.
Tingginya persentase ruang kelas rusak ringan/sedang bukan sekadar angka statistik.
Kondisi fisik bangunan sekolah berpengaruh terhadap kenyamanan belajar siswa, konsentrasi, serta keselamatan selama proses pembelajaran berlangsung.
Ruang kelas dengan atap bocor, ventilasi tidak memadai, atau instalasi listrik bermasalah dapat mengganggu kegiatan belajar, terutama saat musim hujan atau cuaca ekstrem.
Dalam jangka panjang, kondisi ini juga berpotensi memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260228_ruang-kelas-ilustrasi.jpg)