Tribun Kaltim Hari Ini
Pedagang di Kaltim Terhimpit Harga Plastik, Lonjakan Harga Bahan Kemasan Menekan Laba
Kenaikan harga plastik yang dipicu dinamika global kini tidak lagi sekadar angka di tingkat industri.
Penulis: Tribun Kaltim | Editor: Briandena Silvania Sestiani
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga plastik di Samarinda hingga Balikpapan berdampak langsung pada pedagang kecil, dengan margin keuntungan menurun meski omzet tetap atau meningkat
- Lonjakan harga dipicu faktor global, terutama kenaikan harga minyak dunia sebagai bahan baku plastik
- Pemerintah daerah memanfaatkan kondisi ini sebagai momentum untuk mengurangi penggunaan plastik melalui regulasi, bank sampah, hingga program pengolahan limbah seperti insinerator.
TRIBUNKALTIM.CO - Kenaikan harga plastik yang dipicu dinamika global kini tidak lagi sekadar angka di tingkat industri.
Dampaknya telah menjalar hingga ke lapak-lapak kecil di pasar tradisional, menekan pelaku usaha mikro yang menggantungkan hidup dari barang kebutuhan sehari-hari.
Di Samarinda, denyut kenaikan itu terasa nyata.
Para pedagang mengaku harus memutar otak untuk bertahan, ketika harga bahan kemasan terus merangkak naik, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Mawarni, pedagang plastik yang telah berjualan sejak 2018, menjadi salah satu yang merasakan langsung tekanan tersebut.
Di tokonya yang sederhana, ia kini harus menghadapi kenyataan bahwa hampir seluruh jenis plastik yang dijual mengalami kenaikan harga.
Baca juga: Harga Plastik Melonjak Drastis, Pedagang Kena Dampak Penurunan Omzet hingga 30 Persen
“Plastik merah besar sekarang Rp12 ribu, sebelumnya Rp10 ribu. Semua naik sejak awal Maret,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Kenaikan itu, menurutnya, tidak terjadi secara perlahan seperti biasanya, melainkan cukup terasa dalam waktu singkat. Bahkan, untuk beberapa jenis barang, lonjakan harga dinilai cukup signifikan.
Namun yang paling memberatkan bukan sekadar kenaikan harga, melainkan dampaknya terhadap keuntungan.
Meski omzet penjualan masih terjaga bahkan cenderung meningkat margin keuntungan justru semakin tipis.
“Kita jual sedikit saja. Tapi karena modal naik, untungnya berkurang. Hampir semua jenis plastik naik,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Mawarni tetap berusaha menjaga stok barang. Keputusan itu diambil bukan tanpa alasan permintaan pasar masih stabil.
“Masih dicari orang. Jadi tetap harus ada barang,” ujarnya singkat.
Fenomena serupa juga dirasakan di sisi konsumen.
Fendi, salah satu pembeli plastik, mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan sebelumnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260404_harga-plastik-naik.jpg)