Sabtu, 11 April 2026

Berita Samarinda Terkini

Insinerator Samarinda Mulai Beroperasi, Sampah Campur Jadi Kendala Utama

DLH Samarinda uji coba insinerator, hadapi tantangan sampah campur dan operasional teknis

TRIBUNKALTIM.CO/Sintya Alfatika Sari
TPS INSINERATOR SAMARINDA - Suasana TPS insinerator di Jalan Wanyi Samarinda. Selain memastikan kesiapan elektrikal dan suhu pembakaran mencapai 800 derajat Celsius, DLH Samarinda kini tengah mengevaluasi pola pemilahan sampah di lokasi guna meningkatkan efisiensi pembakaran sampah segar dari TPS pada Jumat (10/4/2026). (TRIBUNKALTIM.CO/SINTYA ALFATIKA SARI) 

Ringkasan Berita:
  • DLH Samarinda mulai operasikan insinerator untuk pengolahan sampah modern.
  • Sampah campur dan teknis pemanasan jadi tantangan utama di lapangan.
  • Pemilahan sampah dari sumber dinilai penting untuk efektivitas pembakaran.

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Meski pengelolaan sampah di Kota Samarinda kini mulai menerapkan sistem modern menggunakan mesin insinerator, realitas teknis di lapangan menunjukkan bahwa pengoperasian mesin pembakar sampah tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan.

Dari proses pemanasan awal yang masih menggunakan bahan kayu hingga tantangan utama berupa sampah yang belum terpilah, pemerintah terus berpacu mencari pola operasional paling efektif agar teknologi ini dapat bekerja optimal.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, menjelaskan bahwa setiap operasional insinerator diawali dengan pengecekan menyeluruh terhadap seluruh komponen mesin.

“Jadi awal mesin sebelum dipanaskan kita lakukan pengecekan seluruh kondisi mesin elektrik, blower-nya, kita pastikan dulu semuanya berfungsi baru dilakukan proses pemanasan mesin,” jelasnya kepada TribunKaltim.co, Jumat (10/4/2026).

Setelah dipastikan seluruh sistem berfungsi, mesin kemudian memasuki tahap pemanasan awal.

Baca juga: DLH Samarinda Terapkan Operasional Khusus untuk Truk Sampah yang Sudah Tua, Layani Rute Pendek 

Pada fase ini, penggunaan bahan kayu masih diperlukan untuk mempercepat kenaikan suhu hingga mencapai titik pembakaran ideal.

“Proses inilah awalnya membutuhkan bahan kayu untuk mempercepat proses peningkatan suhunya. Jadi dilakukan sekitar setengah jam,” ujarnya.

Ketika suhu mesin telah mencapai sekitar 600 derajat Celsius, sampah mulai dimasukkan ke dalam insinerator.

Namun, tidak semua jenis sampah dapat langsung diproses pada suhu tersebut, khususnya sampah basah yang membutuhkan suhu lebih tinggi.

“Kalau sudah di atas 800 derajat baru sampah basah dimasukkan. Karena kalau belum 800 derajat takutnya masih menimbulkan asap,” terangnya.

Baca juga: Berbagi di Hari Jumat, Warga RT 33 Kelurahan Gunung Samarinda Gelar Program “Halte Sedekah”

Uji Coba dan Pembatasan Operasional

Dalam tahap uji coba saat ini, operasional insinerator masih dibatasi hanya setengah hari.

Setelah itu, mesin harus melalui proses pendinginan yang memerlukan pengawasan ketat dari petugas.

“Sementara ini setengah hari dulu sampai jam 14.00 maksimal, karena setelahnya sudah masuk ke proses pendinginan mesin. Material bahan baku sampah di-stop dan menunggu api mati. Blower dimatikan. Prosesnya mematikan dua jam jadi petugas standby memastikan api itu sudah mati,” jelasnya.

Proses penutupan operasional juga dilakukan secara berurutan dan disiplin, termasuk pengecekan akhir mesin serta fasilitas pendukung bagi petugas.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved