Berita Kaltim Terkini
Pengamat Unmul Sebut Respons Video Dinilai Tak Efektif, Gubernur Kaltim Disarankan Dialog Langsung
Gaya komunikasi Gubernur Kaltim dikritik akademisi karena dinilai kurang empati dan minim dialog
Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Amelia Mutia Rachmah
Ringkasan Berita:
- Akademisi menilai komunikasi Gubernur Kaltim terlalu formal dan satu arah.
- Respons melalui video dinilai kurang empati dan tidak menyentuh publik.
- Disarankan dialog langsung dan pembentukan tim manajemen krisis.
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Gaya komunikasi Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud, dalam merespons rentetan kritik hingga aksi demonstrasi belakangan ini mendapat rapor merah dari kalangan akademisi.
Alih-alih meredam suasana dengan dialog langsung, langkah orang nomor satu di Benua Etam yang lebih memilih membuat video klarifikasi di media sosial justru dinilai nirempati dan kehilangan sentuhan emosional.
Pengamat komunikasi politik sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Mulawarman (Unmul), Dr. Silviana Purwanti, menyoroti pola komunikasi gubernur yang dianggap terlalu formal dan kaku.
Menurutnya, pendekatan tersebut membuat pesan pemerintah tidak tersampaikan secara efektif kepada masyarakat.
“Kalau saya lihat, pola komunikasinya lebih ke top-down, sangat formal, seperti pernyataan resmi biasa. Secara legitimasi mungkin kuat, tapi emosinya tidak sampai ke masyarakat,” ungkap Silvi, Sabtu (25/4/2026).
Baca juga: Pengamat Unmul Sebut Komunikasi Gubernur Kaltim Top-Down Bikin Jarak dengan Rakyat
Lemahnya Koneksi dengan Masyarakat
Silvi menjelaskan, masalah mendasar dari gaya komunikasi Rudy Mas’ud saat ini adalah lemahnya hubungan emosional antara pemimpin dan masyarakat.
Ia melihat adanya kontradiksi antara pernyataan terbuka terhadap kritik dengan praktik yang dinilai membatasi ruang aspirasi.
“Jadi lemah di connection. Di satu sisi mencoba menyampaikan bahwa beliau siap dikritik, tapi di sisi lain tindakannya justru terlihat membatasi kritik itu sendiri,” sebutnya.
Lebih lanjut, ia menilai pola komunikasi satu arah sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman, terutama di era digital yang menuntut interaksi dua arah.
“Sekarang ini eranya media digital, komunikasi itu harus dua arah. Tapi yang terlihat sekarang masih seperti gaya komunikasi di media konvensional yang kaku,” kata Silvi.
Baca juga: Kader Gerindra Kaltim Tersinggung Pernyataan Gubernur Rudy Mas’ud Terkait Hashim Djojohadikusumo
Dampak dari komunikasi yang defensif ini, menurut Silvi, adalah munculnya sentimen negatif di ruang publik yang sulit dikendalikan.
Jika kondisi ini terus berlanjut, maka setiap penjelasan pemerintah berpotensi tidak lagi mendapat kepercayaan dari masyarakat.
“Ketika narasi publik sudah terlanjur negatif, beliau bicara apa pun jadi tidak berdampak. Itu masalah besarnya,” tegasnya.
Rekomendasi Perbaikan Komunikasi
Ia menyarankan agar Gubernur memiliki keberanian untuk hadir langsung di tengah masyarakat, khususnya dalam menghadapi aksi demonstrasi.
| Pengamat Unmul Sebut Komunikasi Gubernur Kaltim 'Top-Down' Bikin Jarak dengan Rakyat |
|
|---|
| Kader Gerindra Kaltim Tersinggung Pernyataan Gubernur Rudy Mas’ud Terkait Hashim Djojohadikusumo |
|
|---|
| POPULER KALTIM: KPK Sambangi Kantor Gubernur, Nasib Tersangka BLKI Balikpapan Tunggu Putusan PN |
|
|---|
| Siasat Pariwisata Kaltim Hadapi Kenaikan Tiket Pesawat, Bidik Rute Langsung dari Kuala Lumpur |
|
|---|
| 5 Daerah dengan Desa Paling Sedikit di Kalimantan Timur 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20241009_Dr-Silviana-Purwanti.jpg)