Senin, 4 Mei 2026

Berita Mahulu Terkini

Harga LPG Non-Subsidi Naik, Warung Makan di Long Bagun Mahulu Tertekan

Kenaikan harga LPG non-subsidi berdampak pada operasional warung makan di Long Bagun

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Desy Filana | Editor: Amelia Mutia Rachmah
TRIBUNKALTIM.CO/Desy Filana
AKTIVITAS WARUNG MAKAN - Nasrul, pegawai Rumah Makan Sofi Lamongan di Long Bagun, menggunakan gas non-subsidi saat menyajikan makanan pada Selasa (28/4/2026). (TRIBUNKALTIM.CO/DESY FILANA) 
Ringkasan Berita:
  • Kenaikan LPG non-subsidi hingga 30 persen membebani usaha kuliner.
  • Harga beras sempat melonjak akibat distribusi terganggu.
  • Pelaku usaha memilih menaikkan harga minuman untuk menutup biaya.

TRIBUNKALTIM.CO, UJOH BILANG - Kenaikan harga LPG non-subsidi di Mahakam Ulu berdampak langsung pada operasional warung makan, memaksa pelaku usaha mencari strategi agar tetap bertahan.

Nasrul, pegawai Rumah Makan Sofi Lamongan di Long Bagun, mengungkapkan kenaikan harga bahan bakar gas LPG non-subsidi berdampak pada operasional warung.

Ia menjelaskan bahwa harga kebutuhan terus meningkat, termasuk beras yang sempat mencapai Rp540 ribu untuk 25 kilogram akibat distribusi terganggu.

Harga Bahan Pokok Ikut Naik

Menurutnya, kenaikan harga makanan belum terjadi karena masih menunggu kondisi stabil, sementara yang sudah mengalami penyesuaian adalah harga minuman.

Nasrul mengatakan strategi yang dilakukan adalah menaikkan harga minuman secara bertahap, dari Rp5 ribu menjadi Rp7 ribu hingga Rp10 ribu untuk menutup biaya operasional.

Baca juga: Dishub Akui Ada Sinyal Kenaikan Tarif Travel ke Mahulu, Dampak Kenaikan BBM Nonsubsidi

Ia menyebutkan bahwa pelanggan yang membeli makanan untuk dibawa pulang biasanya tidak membeli minuman, sehingga penyesuaian harga minuman menjadi solusi sementara.

Kenaikan LPG Signifikan

Selain itu, harga LPG non-subsidi ukuran 12 kilogram juga mengalami kenaikan sekitar 30 persen dari harga sebelumnya.

Ia menambahkan bahwa harga gas di pangkalan tidak menentu, berkisar antara Rp275 ribu hingga Rp290 ribu, sementara dari pusat sudah mencapai Rp230 ribu.

Menurut Nasrul, kenaikan tersebut dinilai cukup signifikan dan memberatkan, terutama bagi masyarakat dengan penghasilan tetap.

“Kalau naiknya langsung 30 persen, itu tidak masuk logika, seharusnya bisa 10 sampai 15 persen supaya masih terjangkau,” ujarnya kepada Tribunkaltim.co pada Selasa (28/4/2026).

Baca juga: Kotoran Sapi Jadi Solusi Energi, Warga Kaltim Bisa Pensiun dari LPG

Ia juga menilai kondisi ini berdampak luas, tidak hanya di Mahakam Ulu tetapi juga di wilayah Kalimantan lainnya.

Meski demikian, masyarakat tetap harus membeli kebutuhan pokok meskipun harga meningkat demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjaga usaha tetap berjalan. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved