Senin, 4 Mei 2026

Salam Tribun

Literasi 'PR' yang tak Kunjung Tuntas

Tahun ini, kita memperingati Hardiknas ke-67. Namun, berbagai persoalan pendidikan di negeri ini masih banyak yang harus diselesaikan.

Tayang:
Penulis: Sumarsono | Editor: Amalia Husnul A
DOK PRIBADI
SALAM TRIBUN - Sumarsono, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. Salam Tribun hari ini, Senin (4/5/2026) membahas pekerjaan rumah peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026. (DOK PRIBADI). 

Oleh: Sumarsono. S. Sos

Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim/TribunKaltim.co

TANGGAL 2 Mei merupakan spesial bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi para pelaku di dunia pendidikan, yakni Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas

Sejak diperingati pertama kalinya di era Presiden RI pertama Ir Soekarno, tahun 1960 berdasarkan Keputuran Presiden Nomor 316 tahun 1959. Dan tahun ini, kita memperingati Hardiknas yang ke-67. 

Artinya Pendidikan Nasional sudah memasuki usia yang matang atau tahap kedewasaan. 

Ibarat  matahari usia ke-67 sudah mulai masuk ke peraduannya, Namun, berbagai persoalan pendidikan di negeri ini masih banyak yang harus diselesaikan.

Baca juga: Isi Tuntutan Mahasiswa di Demo Hardiknas 2026: Sekolah Rusak, Guru Honorer hingga Audit Anggaran

Kilas balik sejarah penetapan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional mengacu pada Hari lahirnya Ki Hajar Dewantara – yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.

Perlu diketahui, Ki Hajar Dewantara adalah pendiri Taman Siswa dan mantan Menteri Pendidikan pertama pada kepemimpinan Presiden Soekarno.

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Wafat pada 26 April 1959 di Yogyakarta.

Ki Hajar Dewantara seorang bangsawan yang tidak mempertahankan kebangsawanannya. Dia rela turun ke bawah untuk mengangkat derajat rakyat lewat pendidikan.

Dia dikenal dengan semboyan “Ing ngarso sung tuladha - Ing madya mangun karsa - Tut wuri handayani”. 

Ajaran ini bukan hanya sebagai slogan, tetapi merupakan “Trilogi Kepemimpinan Pendidikan”. 

Namun realita yang terjadi dalam dunia pendidikan di negeri kita saat ini,masih dari jauh dari apa yang diharapkan Ki Hajar Dewantara. 

Setiap memperingati Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei, masih terkesan sekadar dipenuhi oleh residu pidato yang manis. Slogan tentang "mencerdaskan kehidupan bangsa" menggema dari berbagai podium. 

Ketika gema itu surut, kita kembali dihadapkan pada realitas yang dingin: pendidikan kita masih sering terjebak dalam formalitas, sementara ruh utamanya—yakni literasi—masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang tak kunjung tuntas.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved