Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Balikpapan Terkini

Orangutan Terjepit Sawit, BOSF Waspada Area Isolasi Kian Terhimpit Perkebunan

Di tengah sunyi hutan konservasi, upaya penyelamatan orangutan terus berlangsung tanpa henti. 

Tayang:
HO//BKSDA Kaltim
ORANGUTAN -  Proses evakuasi induk Orangutan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim dan Conservation Action Network (CAN) yang ditemukan tengah berjuang membesarkan dua bayi kembarnya di tengah habitat yang telah hancur dan terfragmentasi lokasi tepatnya penemuan dan translokasinya masih di satu landscape dengan kawasan Perdau yaitu di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) pada 15 Februari 2025 lalu. (HO/ BKSDA Kaltim) 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMBOJA - Di tengah sunyi hutan konservasi, upaya penyelamatan orangutan terus berlangsung tanpa henti. 

Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) menjadi salah satu garda terdepan yang menjaga harapan bagi satwa endemik Kalimantan ini.

Sejak berdiri pada 1991, BOSF telah melepasliarkan 556 orangutan kembali ke habitat alaminya.

Namun perjuangan belum usai.

Baca juga: Samboja Lestari Terancam, Ekspansi Perkebunan Sawit Merambah Pusat Rehabilitasi Orangutan

Saat ini, masih ada 110 individu orangutan yang menjalani masa rehabilitasi, berdampingan dengan 76 beruang madu dalam perawatan.

Manager Program Regional Kalimantan Timur BOSF, Aldrianto Priadjati, mengungkapkan bahwa tidak semua orangutan memiliki kesempatan kembali ke alam liar.

Sebanyak 78 orangutan dipastikan tidak bisa dilepasliarkan, sebagian besar karena kondisi kesehatan yang serius. 

Hampir separuh dari jumlah tersebut terindikasi mengidap tuberkulosis (TBC).

“Sekitar 78 orangutan yang terindikasi TBC ini menjadi concern kita untuk mendapatkan penanganan khusus,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).

Untuk itu, BOSF menempatkan mereka dalam fasilitas khusus Special Care Unit (SCU), yang dibangun di area terpencil guna mencegah penularan serta memastikan proses pemulihan berjalan optimal.

Baca juga: Cerita Sedih Induk Orangutan di Kutai Timur, Bertahan Hidup dengan Bayi Kembar di Hutan Rusak

Muncul Ancaman Baru

Namun di balik upaya tersebut, ancaman baru muncul. 

Area di sekitar SCU dilaporkan mulai dirambah untuk perkebunan kelapa sawit, dengan jarak hanya sekitar 300 meter dari lokasi isolasi.

Kondisi ini memicu kekhawatiran serius.

ORANGUTAN DI KALTIM - Orangutan yang berada di Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Samboja, Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur pada Selasa (22/4/2025). BOSF mencatat bahwa sekitar 90 persen orangutan yang masuk ke pusat rehabilitasi adalah korban konflik dengan manusia. Faktor utama penyebabnya adalah degradasi dan alih fungsi habitat menjadi kawasan industri, pemukiman, dan perkebunan. (TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO)
ORANGUTAN DI KALTIM - Orangutan yang berada di Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Samboja, Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur pada Selasa (22/4/2025). BOSF mencatat bahwa sekitar 90 persen orangutan yang masuk ke pusat rehabilitasi adalah korban konflik dengan manusia. Faktor utama penyebabnya adalah degradasi dan alih fungsi habitat menjadi kawasan industri, pemukiman, dan perkebunan. (TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO) (TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO)

Bukan hanya terhadap keselamatan orangutan yang sedang dalam masa pemulihan, tetapi juga terhadap keberlangsungan program rehabilitasi itu sendiri.

“Dari sisi belakang SCU tersebut dirambah sawit, kira-kira hanya berjarak sekitar 300 meter. Ini sangat mengkhawatirkan kalau tidak segera ada upaya,” kata Aldri.

Baca juga: 5 Fakta Bayi Orangutan Ditemukan di Kebun Sawit di Kutim, Kondisi Stres, Demam dan Luka

BOSF menegaskan bahwa perlindungan orangutan tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci, terlebih sekitar 90 persen populasi orangutan dunia berada di Indonesia.

“Harusnya kita bisa bertanggung jawab terhadap satwa ini. Kalau bukan kita, siapa lagi,” tegasnya.

Libatkan Warga

Di sisi lain, BOSF juga membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam upaya konservasi melalui program penanaman di kawasan Samboja Lestari.

Aldrianto menjelaskan, masyarakat diperbolehkan menanam berbagai jenis tanaman, terutama buah-buahan yang dapat mendukung kebutuhan pakan satwa.

Kebutuhannya pun tidak sedikit.

Kawasan ini memerlukan sekitar 1 ton buah setiap hari untuk memenuhi kebutuhan orangutan.

“Kalau masyarakat ingin menanam buah-buahan untuk mendukung satwa, silakan. Itu sangat membantu,” ujarnya.

Menariknya, hasil panen tidak hanya untuk kebutuhan konservasi. Warga juga diperbolehkan  menjual buah ke pasar, sehingga memberikan nilai ekonomi tambahan.

Program ini mulai berjalan di Kelurahan Karya Merdeka, Samboja Barat, Kutai Kartanegara.

Sejumlah warga telah terlibat dengan dukungan pemerintah setempat.

Tak berhenti di situ, BOSF juga membuka peluang pemanfaatan pohon aren.

Masyarakat dapat menyadap nira secara gratis dan menjualnya, sementara pihak yayasan hanya meminta data produksi harian sebagai bagian dari kerja sama.

“Kami tidak meminta bayaran. Yang kami butuhkan hanya data produksi per hari,” tutup Aldri. (TribunKaltim.co/ars)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved