Kamis, 7 Mei 2026

Berita Balikpapan Terkini

Kisah Sutiani, Guru asal Balikpapan yang Mengabdi di Pedalaman Kutai Barat Sejak 2007

Dedikasi tanpa batas ditunjukkan Sutiani, seorang guru yang telah mengabdi di wilayah pedalaman Kutai Barat sejak tahun 2007

Tayang:
Penulis: Dwi Ardianto | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/HO
MENGABDI - Dedikasi tanpa batas ditunjukkan Sutiani (tengah), seorang guru yang telah mengabdi di wilayah pedalaman Kutai Barat sejak tahun 2007. Meski berasal dari Balikpapan, ia memilih mengabdikan diri di SDN 015 Bongan, sekolah yang dulunya bernama SDN 015 Lemper Deraya.(HO/PRIBADI) 

TRIBUNKALTIM.CO,BALIKPAPAN– Dedikasi tanpa batas ditunjukkan Sutiani, seorang guru yang telah mengabdi di wilayah pedalaman Kutai Barat sejak tahun 2007.

Meski berasal dari Balikpapan, ia memilih mengabdikan diri di SDN 015 Bongan, sekolah yang dulunya bernama SDN 015 Lemper Deraya.

Perjalanan karier Sutiani di dunia pendidikan dimulai sebagai tenaga honorer sekolah pada 2007 hingga 2012. Selanjutnya, ia berstatus sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) atau honorer daerah pada 2012 hingga 2021.

Hingga akhirnya, pada 1 Februari 2022, ia resmi diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan tetap mengajar di sekolah yang sama.

“Memang sejak 2007 saya mulai berdinas di SDN 015, dulunya Lemper Deraya, sekarang menjadi SDN 015 Bongan. Sampai sekarang saya masih di sana,” ujarnya kepada tribunkaltim.co,  Sabtu (2/5/2026). 

Baca juga: Guru SLB Negeri Balikpapan Raih Penghargaan Hardiknas, Dedikasi 16 Tahun Dampingi Anak Disabilitas

Sutiani mengaku awalnya bergabung karena kebutuhan tenaga pengajar di wilayah tersebut, terutama saat dibukanya SMP Satu Atap di Bongan. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk tetap mengabdi hingga kini.

Meski telah lama mengajar di pedalaman, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Keterbatasan infrastruktur menjadi salah satu kendala utama, terutama akses jalan menuju sekolah yang masih memprihatinkan.

“Kalau hujan, kami harus berjalan di jalan tanah liat yang berlumpur sejauh 1 kilometer. Kalau panas, debunya sangat tebal. Itu sudah jadi bagian dari keseharian kami,” ungkapnya dengan nada bergetar.

Ia menyebut akses jalan di sejumlah wilayah seperti Lemper, Deraya, Gerunggung hingga Tanjung Soke masih tergolong sulit, meski saat ini mulai ada perbaikan dari berbagai pihak.

Wawancara dengan Sutiani pun sempat terputus akibat kendala sinyal telekomunikasi di wilayah pedalaman tersebut, menggambarkan langsung tantangan yang dihadapi, tidak hanya dalam aktivitas sehari-hari, tetapi juga dalam hal komunikasi.

Di tengah keterbatasan tersebut, Sutiani dan rekan-rekan guru tetap berupaya memberikan pendidikan terbaik bagi siswa. Ia berusaha membawa anak-anak didiknya mengenal dunia luar, meski dengan berbagai keterbatasan.

“Sedikit demi sedikit kami bawa anak-anak untuk ikut kegiatan di luar, seperti pramuka, proseni, atau kegiatan dinas pendidikan. Supaya mereka tahu bagaimana pendidikan di luar sana dan bisa berinteraksi dengan teman-teman dari sekolah lain,” jelasnya.

Bagi Sutiani, kebahagiaan terbesar sebagai guru adalah melihat perkembangan dan keceriaan anak didiknya.

“Melihat mereka bisa berkembang, berani tampil, itu rasanya tidak bisa digambarkan. Itu kebahagiaan terbesar buat saya,” katanya.
Ia mengakui, mengajar di pedalaman penuh dengan suka dan duka. Namun, semua perjuangan tersebut terbayar ketika melihat anak-anak tetap semangat belajar meski dalam keterbatasan.

“Dengan kondisi yang ada, kami tetap berupaya agar anak-anak di sini bisa mendapatkan pendidikan seperti anak-anak di luar,” tuturnya.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved