Breaking News
Senin, 8 Juni 2026

Berita Kaltim Terkini

Tahongai dan Kratom Terancam Hilang, ASPETRI Kaltim Gencarkan Edukasi Herbal

ASPETRI Kaltim mengedukasi masyarakat meracik jamu higienis sekaligus mengajak melestarikan tanaman obat asli Kalimantan

Tayang:
TRIBUNKALTIM.CO/Mohammad Fairoussaniy
EDUKASI JAMU HERBAL - Peserta mengikuti pelatihan pembuatan jamu yang diselenggarakan DPD Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia (ASPETRI) Kalimantan Timur di Griya Sehat, Jalan Kesehatan Dalam No.70, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan edukasi masyarakat terkait pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) secara aman dan higienis. (TRIBUNKALTIM.CO/MOHAMMAD FAIROUSSANIY) 

Ringkasan Berita:
  • ASPETRI Kaltim menggelar pelatihan pembuatan jamu bagi masyarakat di Samarinda.
  • Pelestarian tanaman obat asli Kalimantan seperti Tahongai dan Kratom menjadi perhatian utama.
  • Komunitas Kerabat ASPETRI Kaltim dibentuk untuk mewadahi masyarakat yang tertarik pada dunia herbal.

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - ASPETRI Kaltim dan tanaman obat keluarga (TOGA) menjadi fokus utama dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pemanfaatan obat herbal sekaligus menjaga kelestarian tanaman obat asli Kalimantan yang semakin terancam akibat alih fungsi lahan dan pembabatan hutan.

Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia (ASPETRI) Kalimantan Timur (Kaltim) bergerak cepat menggalakkan edukasi pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA).

Di bawah komando ketua yang baru menjabat pada akhir 2025 lalu, Hery Romadan, ASPETRI Kaltim langsung tancap gas lewat aksi nyata mengajari masyarakat meracik jamu yang higienis dan benar di Griya Sehat, Jalan Kesehatan Dalam No.70, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur Sabtu (6/6/2026).

EDUKASI TOGA - Edukasi pemanfaatan tanaman obat keluarga (Toga) yang diselenggarakan DPD Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia (ASPETRI) Kalimantan Timur (Kaltim) di Griya Sehat Jalan Kesehatan Dalam No.70, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, Sabtu (6/6/2026) agar masyarakat mendapat edukasi serta pemanfaatan tanaman obat keluarga (Toga).
EDUKASI TOGA - Edukasi pemanfaatan tanaman obat keluarga (Toga) yang diselenggarakan DPD Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia (ASPETRI) Kalimantan Timur (Kaltim) di Griya Sehat Jalan Kesehatan Dalam No.70, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, Sabtu (6/6/2026) agar masyarakat mendapat edukasi serta pemanfaatan tanaman obat keluarga (Toga). (TRIBUNKALTIM.CO/Mohammad Fairoussaniy)

Tak hanya sekadar edukasi musiman, gerakan ini sekaligus menjadi pemantik komitmen ASPETRI dalam menjaga kelestarian tanaman obat asli hutan Kalimantan yang kian terancam punah akibat pembabatan lahan.

Ajarkan Cara Meracik Jamu yang Benar

Ketua DPD ASPETRI Kaltim, Hery Romadan, mengungkapkan salah satu program perdana yang diusung kepengurusannya adalah memberikan pelatihan pembuatan jamu bagi masyarakat umum.

Baca juga: Gencarkan Edukasi Toga, Aspetri Kaltim Ajarkan Warga Samarinda Cara Membuat Jamu yang Benar

Dalam pelatihan terbaru tersebut, sebanyak 25 peserta diajarkan teknik dasar meracik jamu sesuai standar kesehatan.

"Ini salah satu kegiatan pertama kita untuk mengajari orang-orang bagaimana membuat jamu yang benar. Mulai dari wadahnya harus pakai stainless agar higienis, jenis gula yang tepat, hingga takaran yang pas," ujar Hery.

Menurutnya, edukasi seperti ini penting agar masyarakat tidak hanya mengonsumsi herbal secara turun-temurun, tetapi juga memahami aspek kebersihan, keamanan, dan kualitas dalam proses pengolahannya.

Tahongai dan Kratom Jadi Perhatian

Hery menyayangkan jika kekayaan flora hutan Kalimantan yang bernilai medis tinggi harus habis dibabat tanpa kontrol.

Ia mencontohkan dua tanaman endemik yang memiliki khasiat luar biasa namun sering kali terabaikan, yakni Tahongai dan Kratom.

Baca juga: 3 Daerah di Kaltim Ini Masih Memiliki Rumah Tangga Tanpa Tempat Buang Air Besar

"Bayangkan saja seperti Tahongai, tanaman asli Kalimantan itu, kalau sekali dibabat habis padahal nilainya banyak sekali. Terus ada tanaman lain seperti Kratom yang bagus sekali untuk stamina, kesehatan, dan menghilangkan capek-capek. Kalau dihabiskan, berapa nilai value-nya yang hilang? Nah, pelestarian ke depan harus dikontrol, dan ASPETRI mau ambil bagian di situ," tegasnya.

Lewat edukasi ini, Hery ingin masyarakat semakin sadar bahwa alam Kalimantan Timur menyediakan sumber obat alami yang melimpah.

Jika masyarakat memahami cara mengolah dan memanfaatkannya dengan baik, maka manfaat kesehatan dan potensi ekonomi dapat berjalan beriringan.

Apalagi, tren konsumsi produk herbal saat ini mulai berkembang dan telah masuk ke berbagai sektor, termasuk industri perhotelan.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved