Berita Samarinda Terkini
Harga Minyak Goreng dan Ayam Naik di Samarinda, Emak-Emak dan UMKM Kian Terjepit
Harga minyak goreng dan ayam potong di Samarinda naik tajam, memukul daya beli warga dan pelaku UMKM
Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Amelia Mutia Rachmah
Ringkasan Berita:
- Harga minyak goreng kemasan di Samarinda naik hingga Rp5.000 per liter dalam dua bulan terakhir.
- Harga ayam potong melonjak dari Rp50 ribu menjadi Rp55 ribu per ekor dalam tiga hari terakhir.
- Pelaku UMKM dan ibu rumah tangga berharap pemerintah segera menggelar operasi pasar.
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Pergerakan harga bahan pokok penting (bapokting) di beberapa pasar di Kota Samarinda memicu keluhan emak-emak.
Kondisi ini pun mulai memicu keluhan dari masyarakat, khususnya ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil.
Pasalnya, di kala beberapa komoditas pangan dilaporkan melandai, harga minyak goreng dan ayam potong justru merangkak naik secara signifikan hingga membuat isi dompet warga kian terjepit.
Ditemui di sela kegiatannya berbelanja di Pasar Segiri, Jalan Pahlawan, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur Senin (8/6/2026), salah seorang ibu rumah tangga asal Kelurahan Sidodadi, Siti Rahmah (42), mengeluhkan lonjakan harga minyak goreng yang sudah terjadi sejak dua bulan belakangan ini.
Pasalnya, ia pun harus berhemat agar tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangganya.
Baca juga: Samarinda hingga Kubar Waspada Cuaca Buruk Malam Ini! BMKG: Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang
"Sekarang kalau ke pasar memang ada yang naik, minyak goreng kemasan Minyakita sekarang harganya Rp23 ribu per liter, padahal dulunya cuma Rp18 ribu. Belum lagi merek lain seperti Rosebrand yang sekarang Rp25 ribu dari awalnya Rp20 ribu. Kalau begini terus, uang belanja dari suami ya bisa tekor," keluh Siti saat ditemui di area pasar sembako tradisional terbesar di Kota Samarinda tersebut.
Minyak Subsidi Sulit Ditemukan
Siti menambahkan, selain harga yang naik, ketersediaan minyak subsidi pemerintah dengan kemasan satu liter juga kerap kali sulit ditemui di lapak-lapak pedagang.
Sehingga warga terpaksa membeli kemasan dua liter yang secara nominal membutuhkan pengeluaran uang tunai lebih banyak di awal.
“Ya beli sekalian, tapi masaknya kadang goreng kadang juga masak lain, misalnya dikukus. Supaya hemat saja uang belanja suami,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak hanya berdampak pada pengeluaran rumah tangga, tetapi juga mengubah pola konsumsi masyarakat yang mulai mencari cara untuk menghemat penggunaan bahan pokok.
Baca juga: Takut Kehilangan Pelanggan, Pedagang Gorengan Kukar Rela Pangkas Untung di Tengah Harga Minyak Naik
Pelaku UMKM Terpaksa Menekan Keuntungan
Tak hanya ibu rumah tangga, jeritan atas fluktuasi harga ini juga dirasakan oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kenaikan harga daging ayam potong dalam tiga hari terakhir langsung berimbas pada kelangsungan bisnis kuliner lokal.
Rahmiati Nur (37), seorang pengusaha warung makan di kawasan Loa Janan Ilir, saat ditemui di Pasar Baqa di Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Samarinda Seberang, mengaku pusing setelah mengetahui harga ayam potong dengan bobot sekitar dua kilogram melonjak dari Rp50 ribu menjadi Rp55 ribu per ekor.
Kenaikan Rp5.000 per ekor dinilai sangat menekan margin keuntungan usahanya.
| Daya Beli Warga Samarinda Melemah? Harga Minyak dan Ayam Naik, Pedagang Pasar Segiri Mengeluh Sepi |
|
|---|
| Nestapa Korban Ke-53 di Lubang Tambang Kaltim, Berburu Burung yang Berujung Maut di Palaran |
|
|---|
| Tutup Kala Fest 2026, Wawali Samarinda Ajak Warga Hidupkan Kembali Kejayaan Citra Niaga |
|
|---|
| APBD Samarinda Anjlok dari Rp5,8 Triliun ke Rp3,2 Triliun, Ini Strategi Walikota Andi Harun |
|
|---|
| Walikota Samarinda Hadiri Pelantikan Kerukunan Keluarga Wajo, Tekankan Pentingnya Persatuan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260608_Pedagang-Warung-Pasar-Harga-Sembako-Telur.jpg)