Harga Pertamax Naik
Antrean Panjang SPBU Berau Dinilai Lebih Membebani Warga daripada Kenaikan Harga Pertamax
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertamax yang kini mencapai Rp16.250 per liter, kembali menjadi perhatian warga Berau
Penulis: Renata Andini Pengesti | Editor: Budi Susilo
Ringkasan Berita:
- Masyarakat lebih memilih membeli BBM eceran yang lebih mahal demi efisiensi waktu saat beraktivitas mendesak;
- Terdapat dugaan praktik pengetapan atau pembelian berulang yang memperparah kepadatan antrean kendaraan;
- Warga mendesak pemerintah untuk memperketat pengawasan distribusi BBM agar ketersediaan tetap terjaga dan efektif.
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertamax yang kini mencapai Rp16.250 per liter, kembali menjadi perhatian masyarakat di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Namun di Kabupaten Berau, persoalan antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) justru dinilai lebih meresahkan dibandingkan kenaikan harga itu sendiri.
Sejumlah warga mengaku lebih memilih membeli BBM secara eceran meski harganya lebih mahal.
Alasannya sederhana, mereka tidak ingin menghabiskan waktu berjam-jam mengantre di SPBU maupun Pertashop yang kerap dipadati kendaraan.
Baca juga: Jeritan Driver Ojol Balikpapan, Beban Harga Pertamax Melonjak hingga Pendapatan Kian Tergerus
Warga Tanjung Redeb, Andi Saputra (35), mengatakan dirinya lebih sering membeli BBM eceran saat memiliki aktivitas yang mendesak.
Menurutnya, antrean di SPBU sering kali memakan waktu cukup lama.
“Kalau sedang buru-buru bekerja, saya lebih memilih beli eceran. Memang harganya lebih mahal, tetapi tidak perlu antre panjang. Kadang antre sampai lebih dari satu jam, apalagi saat kondisi ramai. Di Pertashop juga sering sama, banyak kendaraan yang mengisi berulang kali,” ujarnya kepada TribunKaltim.co, Rabu (10/6/2026) di Berau.
Andi menilai antrean panjang telah menjadi pemandangan yang cukup sering terjadi di sejumlah SPBU di Berau, Kalimantan Timur.
Kondisi tersebut membuat masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi terpaksa mencari alternatif lain agar aktivitas mereka tidak terganggu.
Keluhan serupa disampaikan Nurhayati (42), warga Kecamatan Sambaliung, Berau.
Ia mengakui kenaikan harga BBM turut menambah beban pengeluaran rumah tangga.
Namun menurutnya, persoalan antrean panjang justru lebih sering dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Tentu kenaikan harga BBM terasa bagi kami. Tetapi yang lebih sering menjadi masalah adalah antreannya. Kadang sudah menunggu lama, prosesnya tetap lambat. Kalau sedang mendesak, akhirnya saya memilih membeli BBM eceran,” katanya.
Baca juga: 3 Alasan Penyesuaian Harga BBM Pertamina, Pertamax Kaltim Naik Rp4.050 jadi Rp16.650 per Liter
Nurhayati berharap distribusi BBM di Kabupaten Berau dapat berjalan lebih lancar sehingga masyarakat tidak perlu kehilangan banyak waktu hanya untuk mendapatkan bahan bakar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260610_Harga-BBM-di-Balikpapan-Naik.jpg)