Berita Mahulu Terkini
Komponen PLTS Terus Menurun Sejak Beroperasi, Tarif Layanan Dinilai Mendesak
Akademisi ITN Malang mengingatkan penundaan tarif PLTS berpotensi memengaruhi perawatan dan keberlanjutan layanan listrik
Penulis: Desy Filana | Editor: Amelia Mutia Rachmah
Ringkasan Berita:
- Akademisi ITN Malang menilai tarif layanan PLTS penting untuk menjaga keberlanjutan pembangkit.
- Komponen PLTS, khususnya baterai, mengalami penurunan performa sejak mulai beroperasi.
- Tarif layanan dibutuhkan untuk mendukung pemeliharaan, pengelolaan, dan keberlangsungan fasilitas listrik.
TRIBUNKALTIM.CO, UJOH BILANG - Penundaan regulasi tarif layanan energi listrik berbasis PLTS dinilai dapat berpengaruh terhadap keberlanjutan dan kinerja komponen pembangkit di lapangan.
Tenaga teknis tim perumus tarif layanan energi listrik berbasis PLTS Kabupaten Mahakam Ulu dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Fransiskus Xaverius Arwibisono, S.T., M.Kom., mengatakan sejak PLTS mulai beroperasi, usia pakai setiap komponen sudah berjalan dan mengalami penurunan performa.
“Begitu pembangkit mulai beroperasi, masa waktu dari sebuah komponen itu pasti menurun. Contohnya baterai, lima sampai sepuluh tahun tergantung spesifikasi dan kualitasnya, sejak mulai operasi sudah masuk countdown,” ujar Fransiskus kepada Tribunkaltim.co pada Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, dalam beberapa kajian dan pengalaman pengelolaan PLTS di sejumlah tempat, keterlambatan pengelolaan dapat memunculkan persoalan seperti baterai yang tidak lagi optimal hingga akhirnya harus diganti karena melewati masa pakai.
Tarif Dibutuhkan untuk Pemeliharaan
Karena itu, keberadaan tarif layanan dinilai penting agar ada mekanisme pemeliharaan, pengelolaan, serta keberlanjutan fasilitas yang digunakan masyarakat.
Baca juga: Mahakam Ulu Susun Tarif Listrik PLTS, Fokus Jaga Layanan hingga Daerah Terpencil
Akademisi ITN Malang itu menjelaskan, PLTS yang ada di Mahakam Ulu merupakan bantuan hibah dari ESDM Provinsi sehingga masyarakat tidak dibebani nilai investasi awal, namun tetap membutuhkan pola pengelolaan bersama.
“Harapannya sesegera mungkin bisa dimulai dan dipercepat, termasuk edukasi serta partisipasi masyarakat karena pengguna dan pengelola akhirnya masyarakat juga,” katanya.
Ia menambahkan, pengaturan tarif bukan hanya soal biaya, tetapi juga memastikan pembangkit tetap terawat sehingga manfaat listrik dari energi terbarukan dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Menurutnya, tanpa adanya sistem pengelolaan yang berkelanjutan, risiko kerusakan komponen akan semakin besar dan dapat mengganggu layanan listrik yang selama ini menjadi kebutuhan utama masyarakat di kampung-kampung terpencil.
Selain aspek teknis dan pendanaan, Fransiskus juga menilai keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan pengelolaan PLTS.
Baca juga: Filosofi Oman Atun Onam Adet Mahakam Ulu, Ikatan Magis Antarsub-Suku Lewat Tradisi Gotong Royong
Partisipasi masyarakat diperlukan agar fasilitas yang telah tersedia dapat dirawat secara bersama-sama dan memiliki manfaat yang lebih panjang bagi generasi berikutnya.
Dengan adanya regulasi tarif yang jelas, diharapkan proses operasional, perawatan, dan penggantian komponen dapat berjalan lebih terencana sehingga layanan listrik berbasis energi terbarukan tetap terjaga dan mampu mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan. (*)
| Mahakam Ulu Susun Tarif Listrik PLTS, Fokus Jaga Layanan hingga Daerah Terpencil |
|
|---|
| Filosofi Oman Atun Onam Adet Mahakam Ulu, Ikatan Magis Antarsub-Suku Lewat Tradisi Gotong Royong |
|
|---|
| Mengenal Nari Nalang dan Bulan Nari, Tiang Ulin Ukir Simbol Bangsawan di Ritual Adat ASB di Mahulu |
|
|---|
| Bulu Enggang hingga Manik-manik, Ini Produk Kerajinan Dayak Paling Laris di Omin Atun Onam Adet |
|
|---|
| Disparpora Mahakam Ulu Targetkan Event Budaya Jadi Ladang Rezeki UMKM |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260611_Salah-satu-titik-PLTS-di-Kampung-Tri-Pariq-Makmur.jpg)