Golkar Pecah?
Partai terkuat di Indonesia berlambang pohon beringin, terancam pecah. Sebanyak 232 Ketua DPD II menyatakan siap mundur,
Dia mengatakan aksi ini sebagai respon atas ancaman pemecatan terhadap sejumlah politikus senior Golkar seperti Jusuf Kalla dan Akbar Tandjung, "Salah satunya itu (isu pemecatan JK), masalah lainnya pencalegan, juga pemecatan pengurus," kata Muntasir.
Menurutnya, saat ini DPD II tidak ada lagi sosok yang bisa memberikan kesejukan di Partai Golkar. Karenanya, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar harus segera mengambil langkah proaktif dan konkret, termasuk meminta masukan DPD II.
Sebab, suara DPD II juga menentukan pertarungan di Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2014. "Ibarat kapal Titanic tinggal kita tonton saja. 232 ketua DPD II mau mundur, itu setengah pengurus DPD II Golkar di Indonesia," ujar Muntasir.
Sebelumnya, pihak DPP telah menyatakan bahwa Muntasir sudah dipecat sebagai anggota DPD II Golkar Banda Aceh. Pemecatan itu tak lepas karena vokalnya Muntasir mengkritisi pemilihan sang ketua Partai Golkar Aburizal Bakrie sebagai capres tunggal tanpa melibatkan DPD II.
Apakah begitu? Nanti dulu! Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie, membantah kabar yang menyebutkan sekitar 232 kader Partai Golkar di DPD tingkat II yang siap hengkang dari partai Golkar.
"Korannya (yang memuat) bisa dipercaya tidak? Muntazir Hamid bisa dipercaya tidak?," tukas Ical saat ditanya soal kebenaran kabar tersebut pada acara Sarasehan & Buka Puasa Bersama di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (30/7).
Menurut pria yang akrab disapa Ical ini, kabar yang menyebutkan sejumlah kader Partai Golkar di daerah menyatakan siap mundur akibat tidak puas dengan kepemimpinannya hanyalah kabar miring yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
"Tidak ada satu pun. Pohon itu makin tinggi anginnya makin kencang, Karena Golkar makin tinggi maka pasti orang mencoba menjatuhkan pohon yang tinggi itu dengan meniupkan anging sekencang-kencangnya," jawab Ical bermetafora.
Meskipun demikian, Ical yakin Partai Golkar akan dapat bertahan menghadapi terpaan angin yang mendera. "Tapi Golkar akan lentur dia tidak akan patah dan dia tidak akan tumbang," ujarnya.
Di tengah merebaknya isu perpecahan, politisi senior Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) menghadiri acara sarasehan dan buka puasa bersama Pimpinan Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (PP-AMPG) di DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Senin (30/7) petang. Kalla mendapat sambutan dari petinggi DPP Partai Golkar dan tak menunjukkan adanya konflik di antara mereka.
Setiba di lokasi acara Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) langsung duduk bersebelahan dengan Kalla. Tak lupa Ical yang datang terlambat menyalami dan cium pipi kanan kiri dengan Kalla.
Meski duduk berdampingan, tutur kata JK tetap tajam dan mengarah. Dia secara terbuka mengatakan jika Golkar ingin memenangkan pemilu, maka DPP Partai Golkar tidak boleh menindas ataupun mendikte pengurus di bawahnya atau DPP Tingkat I. DPD Tingkat I tidak boleh mendikte jajaran pengurus DPD Tingkat II.
JK menceritakan, pada saat dipimpin Presiden Soeharto, Partai Golkar sangat dominan dan berkuasa. Namun, setelah reformasi semuanya telah berubah, di mana tidak pernah ada kader Partai Golkar yang menjadi presiden. "Zaman Soeharto semua (presiden, gubernur, wali kota, dan bupati) Golkar, kecuali PPP dan PDIP. Mau jadi bupati dan lainnya harus lewat Golkar," ujar Kalla.
Nah, sekarang ini mampukah Golkar melakukan perubahan perilaku politiknya? Pesan-pesan JK merupakan obat bagi Golkar yang gagal di dalam Pilpres 2009 silam. Kalau polanya masih kayak begini, maka bersiap-siaplah menerima kegagalan selanjutnya. (*)