Speedboat Tabrakan
Tabrakan, Speedboat Rombongan BPN Hancur
Kedatangannya ke Balikpapan kali ini diselimuti rasa duka yang mendalam setelah mengetahui suaminya Rahmat (42) jadi satu dari tiga korban meninggal.
Laporan wartawatn Tribunkaltim.co, Rudy Firmanto
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN ‑ Air mata Jurmiati tak habis‑habis keluar membasahi wajahnya. Sesekali ia merebahkan kepala ke pundak sanak keluarga yang datang bersama ke ruang jenazah Rumah Sakit Pertamina Balikpapan, Sabtu (14/5/2016).
Kedatangannya ke Balikpapan kali ini diselimuti rasa duka yang mendalam setelah mengetahui suaminya Rahmat (42) menjadi satu dari tiga korban meninggal kecelakaan yang terjadi di perairan Teluk Balikpapan.
Speedboat yang ditumpangi korban Rahmat bersama empat temannya tabrakan dengan speedboat milik PT Petrosea.
Kondisi speedboat umum rusak parah di bagian depan hancur.
Speedboat tersebut dibiarkan tenggelam bersama mesin speedboat di dekat pelabuhan Penajam.
Sedangkan speedboat milik Petrosea tidak mengalami kerusakan. Hanya cat bodi speedboat yang mengalami lecet. Speedboat terbuat dari besi dan masih kondisi baru.
BACA JUGA: Tim BPBD Tunggu Basarnas untuk Lakukan Penyelaman
Saat ditemui Tribun, Jurmiati mengaku masih tak percaya dengan kejadian yang baru saja dialami suaminya. Ia mengetahui kejadian setelah ditelepon keluarga sekitar pukul 09.00 Wita.
Saat itu ia sedang menghadiri acara keluarganya. "Saya ditelepon katanya suami saya meninggal. Saya sempat bilang jangan bercanda ternyata benar," katanya sambil terisak‑isak.
Tak ada firasat apapun sepeninggal suaminya yang telah memberikan 4 anak tersebut. Seperti biasa setiap pergi Rahmat selalu meminta izin kepada Jurmiati.
Kemarin, sebelum kejadian suaminya minta izin akan mengikuti arisan bersama pegawai Badan Pertanahan Nasional (BPN) PPU ke Samarinda.
BACA JUGA: BREAKING NEWS - Tiga Penumpang Speedboat yang Tabrakan Dipastikan Meninggal
"Acara arisan memang rutin. Saya tidak tahu persis waktunya sekitar 2 bulan sekali. Pesertanya orang BPN dan beberapa notaris jadi saya sudah biasa kalau Bapak pergi ke acara tersebut," katanya.
Hanya saja saat hari nahas, Jurmiati mengingatkan agar suaminya berangkat menggunakan sepeda motor. Mobil akan digunakan pergi ke acara keluarga.
"Saya bilang pakai motor saja sebab mobil mau saya pakai karena acara keluarga pergi ramai‑ramai sehingga tak bisa pakai motor," ungkapnya.
Atas kejadian ini Jurmiati mengaku sangat terpukul, terlebih lagi suaminya merupakan tulang punggung keluarga yang membiayai anak-anak yang masih sekolah.
"Saya tidak kerja, hanya ibu rumah tangga saja. Anak saya paling besar sudah kerja, tapi sisanya masih sekolah semua paling kecil kelas 2 SD," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/pencarian-korban-tabrakan-speedboat_20160515_103606.jpg)