TribunKaltim/

Bandar Narkoba Raup Keuntungan Besar, Kurir Cuma Jadi Serdadu

Mereka dijadikan peluncur yang berjuang digaris depan memobilisi narkoba sampai kepada tangan pembelinya.

Bandar Narkoba Raup Keuntungan Besar, Kurir Cuma Jadi Serdadu
NET
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Muhammad Fachri Ramadhani

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Di tengah kelesuan ekonomi disertai naiknya biaya hidup saat ini, menjadikan seseorang nekat bertindak apa saja demi mendapatkan rupiah.

Hal itu yang dilihat para pebisnis besar narkoba dewasa kini, mereka memanfaatkan masyarakat menengah ke bawah untuk dijadikan sebagai kurir.

Mereka dijadikan peluncur yang berjuang digaris depan memobilisi narkoba sampai kepada tangan pembelinya.

Baca: Warga Samarinda, Hati-hati di Lokasi ini Sering Banget Terjadi kecelakaan

Hal itu diungkapkan Direktur Reserse Narkoba Polda Kaltim Kombes Pol Kris Erlangga Ani Wijaya.

"Ya, semuanya bisa tergoda dengan uang. Seperti tersangka tadi (SUP), ia yang biasa hanya bisa meraup 50 ribu rupiah per hari. Saat dihadapkan uang jutaan rupiah hanya dalam waktu singkat, siapa yang tak tergiur," ungkapnya.

Orang-orang kecil tersebut dijadikan serdadu para bandar besar meraup keuntungan.

Apa yang didapat sang bandar tentu jauh lebih besar dari apa yang didapat mereka yang hanya sekelas kurir, pengecer dan pengedar.

"Bisnis mana yang keuntungannya 400 persen dalam seminggu (selain narkoba)," bebernya.

Namun dirinya menegaskan saat ini pemerintah bersama aparatur negara lainnya sepakat dan berkomitmen memberantas narkoba dari negara ini.

Baca: Baru 3 Hari Kerja Waria ini Berhasil Gasak Laptop dan Kamera Majikannya

Kris mengatakan narkoba jenis sabu yang beredar di Indonesia merupakan barang produksi luar alias negara lain. "Jalur kita terlalu megah untuk masuknya barang-barang itu (sabu) dari luar," bebernya.

Ia mengimbau, bagi masyarakat yang ditawari untuk membantu melancarkan peredaran gelap barang tersebut harus berpikir ulang. Memang keuntungan begitu besar, namun konsekeuensi dan resiko juga tak kalah besar. Kurungan penjara bakal menunggu, hukum saat ini semakin kuat.

"Dibutuhkan sinergitas semua pihak mengatasi persoalan tersebut. Tak hanya polisi," katanya.

Baca: Samarinda Punya Ikon Wisata Baru, Kampung Ketupat Warna-warni, Disini Lokasinya

Ia turut menyesalkan masih banyaknya narkoba yang masuk ke Indonesia, khususnya di Kaltim. Hal tersebut mengartikan bahwa memang masih banyak peminatnya, masih banyak yang membutuhkan.

Sebab itu, tugas pihaknya tak hanya melakukan pengungkapan semata. Bagaimana bisa merubah perilaku masyarakat terhadap narkoba iu dirasa menjadi penting, ungkap perwira 3 melati di pundak tersebut. (*)

Penulis: Muhammad Fachri Ramadhani
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help