TribunKaltim/

Upacara Bendera

Stevan Danny Tetap Gugup, Natalie Berusaha Terus Tersenyum

Mungkin dalam tiga minggu latihan, rasa deg-degan itu tidak ada. Tapi, pas masuk minggu terakhir sebelum upacara barulah rasa gugup itu ada

Stevan Danny Tetap Gugup, Natalie Berusaha Terus Tersenyum
istimewa
Ilustrasi: Pasukan Pengibar Bendera bertugas di bawah guyuran hujan 

Mengatasi Rasa Gugup pada Upacara Bendera Peringatan HUT Proklamasi RI

SETIAP tanggal 17 Agustus merupakan hari sakral bagi seluruh warga negara Indonesia (WNI) dimanapun berada. Hari itu juga menjadi ajang unjuk kebolehan pelajar di seluruh Indonesia yang tergabung dalam pasukan pengibar bendera (Paskibra). Kamis (17/8) kemarin tepat 72 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

SUASANA deg-degan sudah terasa oleh puluhan putra putri Malinau Provinsi Kalimantan Utara yang terpilih sebagai anggota Paskibra pada peringatan HUT RI di Kantor Bupati Malinau. Mereka bakal memperlihatkan aksi baris berbaris di depan Bupati Malinau, Kepala Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) dan seluruh pejabat di lingkungan Pemkab Malinau. Juga warga masyarakat yang mengikuti upacara.

Rasa deg-degan semakin menyelimuti suasana hati tiga putra terbaik yang bertindak sebagai pengibar bendera. Stevan Danny Christian (16), adalah salah satu dari tiga pengibar bendera. Satu bulan dilatih oleh anggota TNI dari Kodim 0910/Mln, bukan berarti membuat ia tidak gugup. Latihan keras dari pagi hingga sore selama sebulan, tidak dapat menghilangkan rasa gugup pada dirinya.

"Mungkin dalam tiga minggu latihan, rasa deg-degan itu tidak ada. Tapi, pas masuk minggu terakhir sebelum upacara barulah rasa gugup itu ada. Sampai-sampai terbawa mimpi pas tidur. Paling saya khawatirkan itu, kalau-kalau ada kesalahan saat pengibaran bendera. Apakah itu saat baris berbaris dan saat melangkah. Tapi yang paling saya takutkan, kesalahan saat mengibarkan bendera," ujar pelajar kelas 2 SMAN 3 Malinau ini.

Demi menghilangkan rasa gugup itu, Danny mengungkapkan, semakin keras lagi dalam berlatih. Sebab selain sebagai pengibar. Danny juga pemberi instruksi baris berbaris untuk dua rekan lainnya sesama pengibar bendera. Sehingga, ia harus mengolah vokalnya agar lantang saat memberikan instruksi kepada rekannya. "Latihan teriak itu juga paling utama harus saya lakukan setiap hari. Tapi tetap juga harus menjaganya, agar saat hari pelaksanaan suara saya tidak habis," ucapnya.

Kekhawatiran yang sama juga dirasakan petugas pembawa bendera Merah Putih, Jessica Frisilia Natalie Rengkung (15), kalau-kalau saja ada kesalahan dalam menjalankan tugasnya. Putri almarhumah Prince Ishak dan almarhum Tico Alu Rengkung ini terus memberikan senyuman sebagai salah satu usahanya menghilangkan rasa gugupnya dalam menjalankan tugas.

Iya kak! Memang harus senyum saat menerima dan membawa bendera itu. Tapi, senyum itu saya jadikan senjata saya untuk menghilangkan rasa gugup. Syukur, puji Tuhan, usaha itu berhasil. Memang dari awal saya menanamkan itu pada diri saya. Menjadi penerima dan pembawa bendera ini merupakan kebanggaan bagi saya pribadi dan kedua orang tua saya yang sudah meninggal," ujar perempuan berparas ayu khas Dayak ini.

Anak pertama dari dua bersaudara ini juga mengatakan, hal tersulit dalam melaksanakan tugasnya adalah berjalan mundur saat membawa bendera. Saat itu, kata siswi SMAN 8 Malinau ini, ia tetap harus menatap kedepan saat menuruni tangga dengan berjalan mundur. Latihan untuk menyempurnakan gerakannya itu, menghapal langkah hingga menuju tangga.

"Kalau sampai selip sedikit saja, bisa sembalit kebelakang," candanya. Bagaimana tidak, saya menatap kedepan. Lalu, jalan dan tangga yang harus saya lewati kan tertutup wadah bendera. Jadi, saya harus hapal betul berapa langkah menuju podium, dan berapa anak tangga yang harus saya lewati," lanjutnya. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help