TribunKaltim/

Lima Napi Anak Dipindahkan ke LPKA, Fasilitas Ruangan pun Beda

Lima orang narapidana (Napi) anak sudah dipindahkan dari Lapas Klas II B Tengarong ke Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas IIA Samarinda

Lima Napi Anak Dipindahkan ke LPKA, Fasilitas Ruangan pun Beda
KOMPAS.COM
Ilustrasi - Fasilitas perpustakaan di lapas anak.

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Lima orang narapidana (Napi) anak sudah dipindahkan dari Lapas Klas II B Tengarong ke Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas IIA Samarinda yang berlokasi di eks Gedung RSUD AM Parikesit, Jalan Imam Bonjol Tenggarong. Kepala LPKA Klas IIA Samarinda Salis Farida mengatakan, napi anak ini sudah dipindahkan dari lapas sejak 18 September lalu.

"Di dalam ruangan, kami menyediakan televisi, kipas angin dan kasur. Fasilitas ini disiapkan secara swadaya. Pegawai yang bawa televisi buat mereka," ujat Salis ditemui Selasa (3/10).

Baca: Bagaimana Suasana Hati Anda Hari Ini, Bahagia atau Depresi?

Sedangkan makan mereka masih menjadi tanggungan pihak lapas, termasuk pengobatan. Maklum, keberadaan LPKA ini terbilang baru setelah mendapatkan hibah gedung dari Pemkab Kukar yang menempati gedung eks RSUD AM Parikesit.

"Kami belum ada anggaran (sendiri), termasuk biaya operasional. Statusnya saat ini memindahkan anak-anak dari Lapas ke LPKA. Secara administrasi, mereka masih ikut Lapas," kata Salis.

Ke depan, LPKA ini mencangkup wilayah Kaltim dan Kaltara. Salis mengakui, sementara ini ruangan belum memadai untuk menampung seluruh anak bermasalah hukum di seluruh Kaltim dan Kaltara. Ruangan yang tersedia saat ini hanya berkapasitas 12 orang. "Pegawai kami juga masih terbatas, yakni berjumlah 18 orang," tuturnya.

Baca: Ini Bedanya Generasi Milenial dan Baby Boomer saat Nongkrong di Kedai Kopi

Paling tidak, lanjut Salis, jika tahun depan sudah dianggarkan, 2019 LPKA ini sudah bisa menampung anak-anak dari seluruh Kaltim dan Kaltara. Pegawainya juga bisa ditambah untuk memaksimalkan pengawasan. Lima orang anak yang berada di LPKA saat ini tersandung kasus perlindungan anak dan perkelahian. Usia mereka berkisar 16-17 tahun.

Selama di LPKA, anak-anak ini tetap dilakukan pembinaan melalui berbagai kegiatan positif, seperti olahraga, latihan baris-berbaris, mengaji dan salat berjamaah.

"Kami memang belum punya perpustakaan. Tapi kami juga membawakan buku-buku bacaan, termasuk komik buat anak-anak," kata Salis. (*)

Penulis: Rahmad Taufik
Editor: Sumarsono
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help