TribunKaltim/

UPBU Kalimarau Buka Peluang Maskapai Lain

Sekarang harus ke Balikpapan dulu, baru lanjut perjalanan darat ke Samarinda, makan waktu lebih banyak

UPBU Kalimarau Buka Peluang Maskapai Lain
TRIBUN KALTIM/GEAFRY NECOLSEN
Setelah beroperasi sejak tahun 2012 lalu, sejumlah fasilitas di Bandara Kalimarau perlu dilakukan perawatan dan perbaikan. Salah satunya adalah landasan pacu yang mulai bergelombang di sejumlah titik. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Berhentinya layanan penerbangan Kalstar Aviation dari Bandara Kalimarau ke Bandara Temindung, Samarinda dikeluhkan oleh masyarakat Berau. Pasalnya, selama ini hanya maskapai ini yang melayani rute penerbangan ke ibukota Kaltim.

“Sekarang harus ke Balikpapan dulu, baru lanjut perjalanan darat ke Samarinda, makan waktu lebih banyak,” kata Andi Fitri, warga Berau yang kebetulan sedang menempuh pendidikan sebagai mahasiswa di Universitas Mulawarman, Samarinda.

Diakuinya, harga tiket pesawat dari maskapai lain yang menuju bandara di Balikpapan, lebih murah jika dibandingkan dengan harga tiket pesawat Kalstar dari Berau ke Samarinda.

“Tapi kalau dihitung-hitung, biayanya sama saja kalau ditambah perjalanan darat dari Balikpapan ke Samarinda.
Menanggapi hal itu,  Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kalimarau, Bambang Hartato membenarkan, sejak 30 September lalu, rute penerbangan Kalstar Aviation dibekukan. Kemenhub mengumumkan penghentian resmi operasi maskapai Kalstar Aviation mulai 30 September 2017.

Namun pihaknya tetap membuka peluang bagi maskapai lain untuk membuka rute dari Berau-Samarinda.

“Sampai saat ini belum ada yang ambil rutenya. Kalau ada maskapai lain yang berminat boleh saja selama prosedurnya terpenuhi pasti akan dibantu operasionalnya,” kata Bambang.

Menurut informasi, pembekuan sejumlah rute Kalstar disebabkan kinerja keuangan yang dikhawatirkan akan berdampak terhadap pemenuhan standara Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS). Tidak hanya itu, Kalstar dianggap tidak memenuhi syarat jumlah pesawat yang harus diterbangkan berdasarkan Undang-Undang 1/2009 tentang Penerbangan.

Dalam regulasi penerbangan, maskapai penerbangan berjadwal minimal memiliki lima pesawat serta menguasai (bisa dalam bentuk sewa) lima pesawat lainnya. Kenyataannya, dari 22 rute yang harus dilayani Kalstar hanya empat yang benar-benar diterbangi, diantaranya Surabaya-Pangkalan Bun, Pangkalan Bun-Ketapang, Ketapang-Pontianak dan rute Samarinda-Berau.

Pantauan Tribun, pesawat ATR 42-300 Kalstar Aviation masih berada di Bandara Kalimarau. Bambang Hartato mengungkapkan, pesawat Kalstar Aviation tetap diwajibkan membayar retribusi yang masuk dalam Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Kami kenakan biaya RON (Remain Over Night) jenis pesawat ATR dikenakan Rp 300 per jam. Ditambah landing fee sebesar Rp 47.500 dan jasa counter per pax serta ground handling service,” jelasnya. (*)

Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help