Tak Punya Psikolog, Pemkab Nunukan Terpaksa Datangkan dari Luar Daerah

“Kami melalui P2TP2A tetap melakukan pendampingan meskipun belum ada psikolog,” katanya.

Tak Punya Psikolog, Pemkab Nunukan Terpaksa Datangkan dari Luar Daerah
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Niko Ruru

TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Pemerintah Kabupaten Nunukan harus menyewa psikolog dari luar daerah untuk menangani korban asusila, kekerasan, dan tekanan mental.

"Kami paling sewa ke Tarakan atau bersurat ke Jakarta minta pendampingan ketika anak-anak atau perempuan menjadi korban asusila atau kekerasan," ujar Faridah Aryani, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Nunukan, Kamis (8/3/2018).

Selama ini para korban ditampung di rumah aman.

Para korban itu harusnya menjalani terapi penyembuhan psikologis. Sayangnya, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Nunukan belum memiliki tenaga psikolog untuk pendampingan terhadap korban.

“Kami melalui P2TP2A tetap melakukan pendampingan meskipun belum ada psikolog,” katanya.

Baca juga:

Australia-Timor Leste Sepakat Berbagi Migas di Celah Timor, Lokasi Pemprosesan Masih Tanda Tanya

Mau Lihat F16 dan Sukhoi di Balikpapan? Catat Waktu dan Lokasinya

PBB Pastikan Tak Gabung Koalisi Pendukung Jokowi, Begini Postingan Yusril

Hanya saja diakuinya, pendampingan dimaksud kurang efektif. Sehingga pihaknya wajib menyewa psikolog untuk memantau perkembangan serta kondisi korban.

"Kalau psikolog tentu punya cara sendiri untuk melakukan tugasnya. Yang jelas ketika psikisnya mendapat perawatan tepat, tentu waktu untuk sembuh lebih singkat," katanya.

Perempuan dan anak menjadi objek kejahatan paling rentan mengalami kekerasan, diskriminasi, ataupun eksploitasi dari orang dekat.

Pada 2016 misalnya, dari 34 kasus kekerasan dan asusila pada anak dan perempuan, mayoritas pelaku diketahui orang yang memiliki hubungan saudara dengan korban atau memiliki kedekatan secara emosional.

"Kami lakukan sosialisasi pengenalan seks sejak dini di sekolah-sekolah, kasusnya turun cukup signifikan," ujarnya. (*)

Penulis: Niko Ruru
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help