Cak Imin Tertinggi Dampingi Jokowi

Sebanyak 100 persen orang yang mengaku pilih Muhaimin ketika ditanya seandainya Cak Imin jadi wakilnya Jokowi mau pilih atau nggak

Cak Imin Tertinggi Dampingi Jokowi
TRIBUN KALTIM/NALENDRO PRIAMBODO
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar atau akrab disapa Cak Imin, menerima mandat dari kyai dan santri, khusunya kalangan Nahdlatul Ulama se-Kaltim sebagai Cawapres 2019. Deklarasi sekaligus penyerahan mandataris itu berlangsung di Pondok Pesantren Al-Muttaqin, Balikpapan, Selasa (3/4/2018). 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Nama Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, menjadi sosok calon wakil presiden (cawapres) paling ideal atau cocok jika dipasangkan dengan Joko Widodo.

Direktur Riset Median Sudarto mengatakan nama Cak Imim tertinggi sebagai cawapres Jokowi jika dibandingkan Gatot Nurmantyo maupun Anies Baswedan.

"Sebanyak 100 persen orang yang mengaku pilih Muhaimin ketika ditanya seandainya Cak Imin jadi wakilnya Jokowi mau pilih atau nggak, 100 persen mau milih. Itu pertama tokoh yang cocok jadi wakil Jokowi," kata Sudarto di kawasan Cikini, Jakarta, Senin (16/4).

Menurut survei Median, jika Jokowi dipasangkan dengan Gatot Nurmantyo (mantan Panglima TNI) tingkat keterpilihannya hanya 28,6 persen. Sedangkan, jika dipasangkan dengan Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Jokowi hanya mendapatkan suara sebesar 21,7 persen.

Diungkapkan, jika dipasangkan dengan Prabowo, hanya ada 16,7 persen responden yang akan memilih. "Tidak semua tokoh bisa dipasangkan dengan Jokowi," jelasnya.

Menurut Sudarto, Cak Imin memiliki usaha keras untuk memperkenalkan diri di berbagai daerah melalui baliho-baliho.

"Cak Imin membangun image siap. Kemudian Cak Imin juga koalisinya Jokowi sehingga 100 persen mendukung Cak Imin kalau dipasangkan dengan Jokowi. Selain itu usaha keras menebar baliho-baliho," jelasnya.

Survei dilakukan terhadap 1.200 responden dan margin of error sekira 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Rentang waktu survei 24 Maret-6 April 2018.

Sample dipilih secara random menggunakan teknik multistage random sampling dan proporsional atas populasi provinsi dan gender.

Mengenai kandidat presiden, nama Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo makin melambung.

Pada survei Median pada Februari lalu, elektabilitas Gatot Nurmantyo berada di angka 5,5 persen, namun pada survei terbaru naik jadi 7 persen.

Sudarto mengatakan, Gatot Nurmantyo mengambil keuntungan dari turunnya elektabilitas Prabowo. "Pemilih Pak Prabowo beralih ke Gatot. Mereka melihat Pak Prabowo agak temperamental akhir-akhir ini, sehingga dilihat dan beralih ke figur Gatot," kata Sudarto.

Menurutnya, faktor lainnya adalah melihat latar belakang sosok militer yang masih jadi dambaan pemilih Indonesia.

"Jika sebelumnya ada pada Prabowo (latar belakang militer), kali ini berpindah ke Gatot," ujarnya.
Nama tokoh lain yang juga kian berkembang elektabilitasnya yaitu Muhaimin Iskandar (dari 0,29 persen menjadi 1,9 persen), Tuan Guru Bajang Zainul Majdi (dari 0,8 persen menjadi 1,5 persen), dan Anis Matta (dari 1,5 persen menjadi 1,7 persen). (*)

Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help