Kumpulkan Pengelola Kapal, Ini Peringatan Keras dari KSOP soal Keselamatan Penumpang

Dalam pertemuan itu, KSOP menekankan kepada pengelola kepal agar melengkapi alat keselamatan berlayar di kapal.

Kumpulkan Pengelola Kapal, Ini Peringatan Keras dari KSOP soal Keselamatan Penumpang
TRIBUN KALTIM/CHRISTOPER DESMAWANGGA
Praktik penggunaan life jacket juga dilakukan pada pertemuan yang dihadiri oleh pengelola jasa usaha perkapalan, Jumat (6/7/2018). Tribun Kaltim/Christoper D 

Laporan wartawan tribunkaltim.co, Christoper D

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Maraknya kejadian kecelakaan di perairan beberapa bulan terakhir ini, membuat Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Klas II Samarinda mengumpulkan para pengelola usaha jasa perkapalan.

Bertempat di ruang pertemuan KSOP, terdapat puluhan pengelola usaha jasa perkapalan yang hadir dalam pertemuan tersebut, tak hanya pengelola kapal penumpang konvensional, namun juga pengelola kapal tradisional, serta kapal wisata.

Dalam pertemuan itu, KSOP menekankan kepada pengelola kepal agar melengkapi alat keselamatan berlayar di kapal, sesuai dengan Peraturan Dirjen Hubla No : HK. 103/2/8/DJPL-17 tentang petunjuk kapal tradisional pengangkut penumpang.

Baca: Hasil Mengecewakan, Begini Ucapan Terima Kasih Manajemen Persiba untuk Wanderley

Dalam penyampaian yang dilakukan Kasi Status Hukum dan Sertifikasi Kapal KSOP Samarinda, Capt M Ridha R, tujuan dari dikumpulkannya pengelola kapal tersebut, yakni untuk menyosialisasikan peraturan tersebut.

Hal itu perlu dilakukan, sebagai langkah antisipasi terjadinya kecelakaan di perairan, yang dapat menimbulkan korban jiwa, seperti yang terjadi diberbagai daerah di Indonesia beberapa bulan terakhir.

"Banyak hal yang harus diperhatikan terkait dengan keselamatan berlayar, terutama tentang alat keselamatan yang harus tersedia di kapal, kita tidak ingin kejadian di Danau Toba atau di Selayar terjadi," ungkapnya, Jumat (6/7/2018).

Tidak hanya terkait dengan alat keselamatan berlayar, seperti jangkar, tali, lampu navigasi, penerangan, kompas, life jacket, lifebouy, suling, teropong hingga alat pemadam api ringan, namun juga terkait dengan konstruksi pembuatan, permesinan dan kelistrikan kapal tradisional.

"Konstruksi juga harus diperhatikan, karena banyak yang mengatakan kecelakaan terjadi akibat faktor alam, padahal kondisi kapal yang tidak sesuai juga menjadi sebab," ungkapnya.

Baca: 19 Siswa Lulusan SMA Kaltara Diterima di PTN, 10 di Antaranya Anak-anak Pedalaman Malinau!

Pihaknya pun tidak akan segan tidak mengeluarkan izin berlayar, jika seluruh kelengkapan dan ketentuan tidak dipatuhi oleh pengelola kapal.

"Sanksinya jelas, kalau terkait pidana akan berurusan dengan kepolisian, kalau kita dari Perhubungan Laut, akan kita cabut izinnya, atau tidak sertifikasinya tidak kita perpanjang," tegasnya.

Sementara itu, Pengelola kapal wisata Pesut Kita dan Pesut Bentong, M Ishak Sidik yang hadir dalam pertemuan itu mengaku, untuk perawatan kapal pihaknya melakukan satu tahun sekali, perawatan pun mencakup semua aspek yang ada di kapal.

Bahkan, guna mencegah terjadinya kepanikan akibat terjadinya insiden dikapal, pihaknya selalu memberikan arahan dan peragaan kepada penumpang sebelum berlayar.

Baca: Embun Beku Melanda Dieng, Hamparan Tanaman Hijau Berubah Memutih Seperti Salju

"Sebelum berangkat kita peragakan penggunaan alat keselamatan, kita beri tahu letaknya, itu salah satu upaya kami untuk menghindari adanya korban jika terjadi insiden," ucapnya.

"Kapal yang kita gunakan juga sudah standar, di bawah pemantauan Dishub dab Dinas Pariwisata. Namun, dengan adanya pertemuan ini, kita diingatkan kembali terkait hal-hal yang mengenai keselamatan berlayar," ucapnya. (*)

Penulis: Christoper Desmawangga
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved