Pendatang asal Samarinda Burhanudin tak Tahu Rumahnya Masuk Kawasan Budidaya Kehutanan Wilayah Kukar

Pendatang asal Samarinda Burhanuddin tak Tahu Rumahnya Masuk Kawasan Budidaya Kehutanan Wilayah Kukar

Pendatang asal Samarinda Burhanudin tak Tahu Rumahnya Masuk Kawasan Budidaya Kehutanan Wilayah Kukar
TRIBUN KALTIM / RAHMAD TAUFIK
Rumah Burhanuddin di Tanjung Una, Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kukar, masuk ke dalam Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK). Burhanuddin merupakan warga asal Samarinda yang tinggal dan mencari nafkah di Anggana. Pihak kecamatan mengemukakan ada banyak warga seperti Burhanuddin yang tinggal di KBK sehingga perlu upaya penertiban dari Satpol PP 

Pendatang asal Samarinda Burhanuddin tak Tahu Rumahnya Masuk Kawasan Budidaya Kehutanan Wilayah Kukar

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Camat Anggana Noorhairi meminta Satpol PP untuk menertibkan Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK) di wilayah Anggana, Kukar, dari para pendatang yang bertempat tinggal di sana. Dia mengaku khawatir jika hal ini dibiarkan bakal banyak warga pendatang mendiami kawasan yang dilindungi undang-undang itu.

Belum lama ini, Noorhairi bersama Kasi Kesra Kecamatan Anggana Dedy Wahyudiansyah menjumpai warga pendatang asal Samarinda, Burhanuddin, yang tinggal di Tanjung Una Desa Kutai Lama, Anggana. Dia tinggal agak ke hulu Sungai Mahakam yang masuk wilayah KBK. Ia mendirikan rumah panggung di pinggiran sungai.

Selain Burhanuddin, ibu dan saudaranya juga tinggal di dekat kawasan itu. Burhanuddin mengaku tinggal di sana karena untuk mencari kerja. Ia memulung barang-barang bekas di kolong rumahnya dan sekitar sungai. Kemudian barang-barang bekas itu dijualnya ke Samarinda, lalu uangnya dipakai untuk belanja kebutuhan keluarga sehari-hari. Ia tinggal bersama istri dan ketiga anak perempuannya.

Saat didatangi pihak kecamatan, Burhanuddin mengaku tidak tahu rumah yang didiami itu masuk kawasan KBK. "Kami malah tidak tahu kalau tidak boleh tinggal di sini (KBK), tapi ibu saya sudah lama tinggal di sini," ujar Burhanuddin kepada pihak kecamatan.

Selama ini, ia juga tidak pernah melaporkan diri kepada pihak RT, desa atau kecamatan setempat kalau tinggal di wilayah Anggana, sedangkan di KTP ia tercatat sebagai warga Jl Lumba-Lumba, Kelurahan Selili, Samarinda.

Burhanuddin mengaku kurang paham terkait masalah administrasi kependudukan. Bahkan, ia tak pernah mengurus perpanjangan KTP-nya yang mati sejak 2013 silam. "Saya repot mengurus ke kecamatan karena saya harus kerja mulai pagi sampai sore," ujarnya beralasan.

Ketika pihak kecamatan berupaya memberikan pemahaman bahwa wilayah yang ditinggali Burhanuddin sekarang masuk KBK, ia malah berdalih masih banyak warga lain tinggal seperti dirinya. "Di wilayah hilir, malah lebih banyak penduduk tinggal di sana," tuturnya pada Tribun Kaltim.

Atas dasar hal tersebut, Camat Anggana Noorhairi berharap aparat Satpol PP segera menertibkan wilayah KBK dari penduduk yang ingin menetap dan membangun tempat tinggal di sana.

Sesuai Permendagri Nomor 14 Tahun 2015, ia tidak wajib memberikan SK domisili bagi para pendatang yang mencari nafkah di Anggana seperti Burhanuddin. Pihaknya hanya bisa memberikan SK penduduk nonpermanen.

"Saya takutnya ini nanti jadi modus seseorang tinggal di wilayah kita kalau pemerintah yang fasilitasi dia pindah, seharusnya sebagai warga yang baik dia harus lapor ke RT," ucap Noorhairi. (*)

Penulis: Rahmad Taufik
Editor: Reza Rasyid Umar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved