Citizen Journalism

(Robohnya) Jembatan Kami

Awalnya tak percaya. Karena semalam saya baru melewatinya. Saya juga membayangkan jembatan itu sangat susah roboh.

(Robohnya) Jembatan Kami
tribun kaltim/Nevrianto Hardi Prasetyo
Runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara
Oleh: Bambang Prayitno
Mantan Ketua KAMMI Wilayah Kalimantan, warga Tenggarong

SABTU (26/11) sekitar pukul 16.22, saya mendapati pesan singkat di ponsel saya dari seorang kawan; " Jembatan Kutai Kartanegara ambruk barusan."

SAYA awalnya tak percaya. Karena, disamping semalam tadi saya baru melewatinya, saya juga membayangkan bahwa jembatan itu sangat susah sekali untuk roboh karena mengingat usianya yang muda. Bukan saya tak percaya takdir Tuhan. Ini bukan bentuk pengabaian. Tapi logika konstruksi bangunan yang menjadikan saya meyakini bahwa jembatan sekokoh jembatan Kutai Kartanegara, harusnya (bisa) kuat dan mampu bertahan hingga berpuluh ratus tahun.

Waktu informasi ini saya ceritakan ke istri saya, dia juga tak percaya. Dia cuma bilang; "Masa sih?. Kasihannya ya yah."

Saya cuma diam. Tapi istri saya yang mendengar lamat-lamat pembicaraan tetangga, mulai gelisah. Entah apa yang dipikirkannya. "Sudah yah, lihat sana. Sekalian carikan air kelapa untuk alergi Ummi dan Ade". Begitu katanya tiba-tiba. Dan saya tak berpikir lama untuk segera beranjak. Istri dan dua anak saya memang terserang alergi. Sepertinya, ikan yang dijual di pasar tak lagi segar.

Saya segera mengambil motor. Saya nyalakan motor dengan terburu-buru dan mendekati tempat kejadian yang jaraknya tak lebih dari setengah kilometer. Entah kebetulan atau tidak, HBO dua hari ini sedang menayangkan film "Knowing". Film yang dibintangi oleh Nicholas Cage ini menceritakan tentang seseorang yang bisa mengetahui informasi bencana-bencana besar dari seluruh dunia, karena tulisan angka-angka yang dibuat oleh seorang anak dan ditanamkan di halaman sekolahnya 50 tahun lalu.

Lalu saya membayangkan; seharusnya, dengan teknologi kontruksi yang sudah sedemikian canggih seperti sekarang ini, Dinas PU sudah bisa seperti Nicholas dalam "Knowing". Kontraktor yang bertugas memelihara dan Dinas PU sendiri harusnya bisa memprediksi kapan jembatan itu butuh perawatan, kapan dilaksanakan perawatan, langkah apa saja yang harus dilakukan agar proses perawatan berjalan aman dan seterusnya.

Tapi entahlah. Saya mendengar, dua hari ini -kata beberapa warga yang saya temui, telah dipasang rambu-rambu untuk berhati-hati melintas, karena ada perbaikan. Tapi apa benar, itu saya tidak tahu. Kalau di luar negeri, proses perbaikan fasilitas yang mengabaikan keselamatan publik dan pekerja, bisa dikenakan pidana berat. Di dalam negeripun harusnya begitu.

Kecelakaan yang menimpa masyarakat umum akibat abainya kontraktor pengerjaan fasilitas publik dalam memberlakukan standar keselamatan kerja bisa dipidanakan. Setidaknya itulah tafsir sederhana dalam UU No 22 Tahun 2009. Siapapun pihaknya; Pemda, Dinas atau Kontraktor, bisa dituntut, dan warga yang menjadi korban berhak mendapatkan ganti rugi yang makksimal.

Saya sampai di pertigaan jalan di depan Kantor DPRD sepuluh menit kemudian, dan saya lihat jalan jembatan itu telah habis dan hilang. Semua badan jalan telah hilang ditelan Sungai Mahakam. Yang tersisa hanya tiang dan tali yang berayun. Saya benar-benar gemetar. Tak bisa membayangkan berapa korban yang terjebak diantara jembatan.

Yang mengherankan saya, banyak sekali warga yang menonton kejadian. Sambil mengendarai mobil dengan santainya. Sesekali berhenti di tengah jalan untuk memotret menggunakan HP. Membuat macet dan terkesan sangat egois. Bagaimana cara mereka berpikir? Bukankah kejadian besar seperti ini akan memacetkan jalan? Saya baru tahu jawabannya saat saya membeli air kelapa. Waktu saya katakan kepada penjual air kelapa; "banyak benar orang yang menonton jembatan yang roboh ya mas"

Dia hanya tersenyum kecut dan menimpali, "Orang Tenggarong ya begitu. Senang menonton musibah, tapi sedikit yang mau menolong." "Ah, mungkin mereka mau menolong tapi bingung bagaimana caranya mas," kata saya mencoba berpikir positif. Tapi memang jika harus jujur, kejadian sore tadi terlalu menyedihkan. Penontonnya puluhan ribu, tapi Tim SAR dan regu penolong yang turun terhitung hanya tiga atau empat kapal. Padahal, warga sebenarnya bisa menjadi relawan bencana termasuk untuk kejadian seperti ini.

Mereka bisa tergabung di MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) dan diberikan pelatihan reguler. Organisasi mahasiswa pencinta alam, pramuka dan palang merah remaja di Kutai Kartanegara juga sebenarnya bisa (atau mungkin sudah) diberikan pelatihan pertolongan bencana. Tapi saya heran juga, apa karena kurangnya informasi atau tiadanya organisasi pemersatu, atau tiadanya koordinasi, sehingga regu penolong yang turun demikian sedikit.

Dulu, waktu ada bencana longsor di sebuah kecamatan di Kutai Kartanegara, salah seorang kawan juga pernah memberi masukan untuk membuat pelatihan relawan di seluruh kecamatan kepada salah satu pengambil kebijakan penting di kabupaten ini. Tapi responnya kurang menggembirakan. Mungkin ada hal yang lebih penting dari sekedar pelatihan kerelawanan dan pembuatan organisasi solidaritas sosial seperti relawan bencana.

Tak sampai lima menit saya berada di pertigaan itu. Dan saya segera pergi lagi mencari air kelapa. Saya tak bisa memberikan bantuan apa-apa, kecuali doa. Doa dan hanya doa. Semoga Tuhan memberikan kemudahan, kesabaran dan hikmah dari setiap kejadian

Lalu, di sepanjang jalan, saya membayangkan. Jika jembatan ini terputus, mungkin akan butuh dua atau tiga tahun untuk membangun kembali. Atau, jika keuangan Pemkab sedang sehat, mungkin perlu diambil langkah berani dengan membangun segera jembatan itu dengan pembiayaan tahun jamak. Dengan dana sebesar 7 triliun, Kukar bisa menganggarkan pembangunan jembatan kembali.

Selama terputusnya jembatan penghubung, tentu saja akan ada kepanikan massal, setidaknya hingga satu atau dua minggu ke depan. Terutama terkait transportasi yang selama ini memudahkan masyarakat dari dan ke Samarinda atau sebaliknya. Perlu ada langkah cepat dan taktis untuk mengngkut manusia, kendaraan dan keperluan masyarakat yang selama ini rutin diseberangkan lewat jembatan.

Pasca bencana, kemungkinan harga kebutuhan pokok dan yang lainnya akan mahal. Biaya hidup bisa jadi lebih tinggi dari sebelumnya. Bisakah Dinas terkait nanti melakukan operasi pasar dan atau membuat regulasi agar bahan-bahan kebutuhan rakyat tidak dipermainkan ya?. Yah, mudah-mudahan saja bisa. Sebab kalau tak bisa, yang kasihan tentu rakyat kecil. Seperti saya.
Saat diam dalam perjalanan itulah, tiba-tiba, mobil ambulans yang mengangkut korban lewat di samping saya. Dan hati saya menjadi miris, melihat kondisi mobil yang sudah sangat tua dan tak lagi lincah. Bisakah Pemkab Kukar mengganti mobil ambulans rumah sakit daerah yang tua itu? Penyediaan mobil ambulans adalah salah satu ciri kecil buruk atau tidaknya pelayanan publik di Kukar.

Bagaimana mungkin kita bisa menyakini bahwa pelayanan publik di Kutkar sudah demikian baik? Karena, jangankan di 17 kecamatan pelosok, di kecamatan Kota Tenggarong saja sudah sedemikian buruk.

Saya mendengar, ruangan inap Rumah Sakit Daerah di Tenggarong juga sangat kumuh sekali. Kontras dengan APBD nya yang sangat besar. Kontras dengan gaya hidup para petinggi-petingginya. Bagaimana dengan pelayanan publik yang lain?. Saya yakin nasibnya sama. Kan lucu, kalau pejabat akhirnya bukan jadi pelayan rakyat tapi malah jadi pelayan diri sendiri. Mungkin, yang tak kalah pentingnya adalah audit seluruh proses pembangunan fisik termasuk Jembatan dan yang lainnya di Kutai Kartanegara.

Audit ini penting agar menjadi rambu-rambu yang tegas bagi para pelaksana proyek dan pemberi anggaran. Saya membaca celoteh kawan saya di jejaring sosial, seperti Jembatan Ampera usianya hampir delapan puluh tahun, tapi masih kokoh. Satunya lagi berkata, "Jembatan Mahakam di Samarinda bisa kuat dan tahan lama karena dibangun orang yang profesional."
Satunya lagi lebih lugas, "Di Tenggarong, apa-apa dikorupsi sih."

Menyakitkan memang. Tapi sepertinya itu kenyataan. Saya melihat, banyak sekali proyek yang berjalan di Kutai Kartanegara yang tidak sesuai spesifikasi, tak berumur panjang dan penuh dengan kecurangan. Penguasaan proyek-proyek fisik baik besar atau kecil oleh sebuah tim kecil yang konon mewakili penguasa tentunya sudah menjadi rahasia umum dan menjadi perbincangan sehari-hari di semua SKPD. Saya hanya mengelus dada.

Ingat kan, kenapa Tuhan menutup jalan bagi Firaun setelah Laut Merah terbelah?. Penyebabnya hanya satu, Firaun terlalu angkuh menyandingkan kekuatannya dengan kekuatan Tuhan. Mungkin karena Firaun kaya, banyak uang, gagah dan berkuasa. Boleh jadi, Jembatan Kutai Kartanegara bisa runtuh karena makin menyeruaknya jiwa Firaun dalam diri kita.
Sementara jiwa-jiwa Musa makin larut atau makin cadel melebihi Musa, hingga tak mampu berkata-kata lantang dan benar lagi. Mungkin juga karena semua rakyat yang sadar, makin abai atas semua hal yang terjadi. Jembatan itu pengubung. Ia menjadi penyambung segala keperluan.

Mungkin saja, kita dianggap Tuhan sudah tak memerlukan jembatan itu lagi. Karena kita telah memutus penghubung diri kita dengan Tuhan. Mungkin saja, kita sudah tak memerlukan jembatan itu lagi, karena para pemimpin telah memutus penghubung dirinya dengan rakyatnya.

Saya berduka untuk korban di Jembatan Tenggarong. Informasi terakhir jumlahnya sudah sampai 4 orang. Lamat-lamat adzan maghrib mengudara di masjid-masjid. Saya pacu motor dengan kecepatan penuh. Mengantarkan air kelapa untuk obat alergi keluarga di rumah. Semoga saja, rakyat Kutai Kartanegara mulai alergi juga. Mulai gatal-gatal juga, karena "ikan" yang diberikan "tak lagi utuh" dan "tak lagi segar". Jadi semakin banyak yang mencari obatnya. Semakin banyak yang mencari obat sakit, semakin baik. Bupati pasti senang karena banyak yang membantunya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved