Sumarti dan Seneng Dibunuh di Hongkong
Sumarti Dibunuh Bankir Muda Inggris 5 Hari Sebelum Pulang ke Cilacap
Malem Rebo tanggal 15 Oktober lalu, dia bilang mau pulang tanggal 2 November ini, tapi tidak ada kabar lagi.
CILACAP, TRIBUNKALTIM.co.id - Keluarga Sumarti Ningsih (23), syok berat mendengar kabar tenaga kerja Indonesia itu tewas mengenaskan di Hongkong. Ahmad Kaliman (58), ayahnya, mengetahui berita meninggalnya anak ketiganya tersebut sekitar pukul 17.00 WIB, Senin kemarin.
Saat itu, ada anggota kepolisian datang ke rumah dan mengabarkan anaknya mengalami musibah. Tak berapa lama kemudia, agen tenaga kerja di Hongkong juga menelepon.
"Saya terkejut sekali memang, dan saya di minta tabah. Dari agen bilangnya kalau anak saya meninggal sudah di bungkus," kata Kalimah saat ditemui di kediamannya di Grumbul Banaran RT 2 RW 5 Desa Gandrungmangu Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap, Jawa Tengah. (Baca: Salah Satu WNI yang Tewas di Hongkong Dilaporkan Berasal dari Sulawesi)
Terakhir berkomunikasi dengan anaknya pada 15 Oktober lalu. Sumarti sudah memiliki satu anak, mengatakan akan pulang ke Cilacap, 2 November. Karena visa turisnya selama tiga bulan sudah habis. Itu artinya, hanya berselang 5 hari dari tanggal kematiannya, 27 Oktober. Namun tidak ada kabar lanjutan mengenai kepulangan itu. Teleponnya sudah tidak aktif dalam 10 hari.
"Pas malem Rebo tanggal 15 Oktober lalu, dia bilang mau pulang tanggal 2 November ini. Ditunggu-tunggu ngga ada kabarnya, di hubungi nomor teleponnya sudah nggak aktif," kata Kaliman. Sumarti merupakan akan ketiga pasangan Kaliman dan Suratmi (49).
Setelah berhari-hari tak dapat dihubungi, keluarga mulai merasa khawatir. Namun, pada Senin siang, Suratmi mengecek ke BNI untuk ngeprint buku tabungan milik Sumarti Ningsih. Ternyata terakhir dia menabung pada 22 Oktober. Sehingga dipastikan pada itu anaknya tersebut masih hidup.
Ahmad Kaliman yang juga sebagai ketua RT di permukimannya mengaku mendapatkan firasat sebelum mendengar kabar meninggalnya anaknya tersebut. Namun, awalnya dia hanya menganggap itu hanya sebuah mimpi.
"Sabtu malam saya mimpi lihat pesawat di depan rumah, di jendela pesawat kok saya melihat anak saya itu. Mungkin itu pas kejadian anak saya meninggal," katanya.
Ibunya, Suratmi juga mengaku tidaka da yang berubah dari anaknya sebelum berangkat ke Hongkong. Anaknya yang satu ini selalu ceria dan sangat menyayangi keluarganya.
Sumarti Ningsih, lahir di Bongo Tebu tanggal 22 April 1991. Dia yang hanya lulus Sekolah Dasar ini sempat mengikuti kursus suster di Jatinegara. Bahkan sampai bekerja di Bangka dan kota lainnya. Sampai akhirnya dia menikah dengan warga Semarang secara siri dan memiliki satu anak bernama Muhammad Hafid Arnovan yang lahir pada tanggal 19 November 2009.
Tahun 2011, Suratmi yang nekat pergi ke Hongkong melalui PT Arafah Bintang Perkasa. Selama dua tahun delapan bulan dia bekerja di Hongkong. Setelah pulang dari Hongkong, dia tidak lantas bekerja di Gandrungmangu, namun memilih untuk kursus menjadi Disk Joki (DJ) di Jogjakarta. Selama lima bulan kursus di Doperspinners mendapatkan sertifikat Basic DJ Mixing Course, dengan grade Good.
"Baru satu bulan di rumah, dia pingin lagi ke Hongkong, tapi kali ini pakai visa wisata. Saya sudah larang, tapi dia pingin nyari uang dan ingin nabung untuk masa depan anaknya, maka kami silahkan saja,' kata ayahnya yang menjadi seorang petani ini.
Ia menggunakan visa wisata dengan masa berlaku tiga bulan. Dia sempat kembali ke rumah sebelum Ramada lalu, usai lebaran tepatnya apda tanggal 2 Agustus, Sumarti kembali ke Hongkong, dan rencannaya akan pulang pada 2 November ini. "Saya tahunya anak saya kerja di restoran," katanya. (satelit post/ale)
Baca Berita Terkini Tribun Kaltim:
ADA OBAT KUAT DI KAMAR KAKAK ANGELINA SONDAKH
HAKIM MAAFKAN USTAZ GUNTUR BUMI TAPI PROSES HUKUM BERLANJUT
MAYJEN BENNY TIDUR NYENYAK TANPA AC DI PERBATASAN INDONESIA - MALAYSIA