Bos CIA Kewalahan Hadapi Ancaman Teror Lewat Media Sosial

Menurut pengakuan Brennan, para militan kini mulai menggunakan media sosial dan teknologi informasi untuk menyebar informasi dan melakukan operasi.

AP
Direktur CIA John Brennan 

TRIBUNKALTIM.CO, NEW YORK - Direktur Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) John Brennan mengatakan, media sosial dan teknologi lain mempersulit upaya memerangi militan yang mampu memanfaatkan kecanggihannya.

Menurut pengakuan Brennan, para militan kini mulai menggunakan media sosial dan teknologi informasi untuk menyebar informasi dan melakukan sejumlah operasi.

Namun, CIA menganggap ini sebagai sebuah tantangan, terutama untuk mengantisipasi pergerakan yang dilakukan militan sejenis Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). (Baca: Kejar Pimpinan ISIS, CIA Kerahkan 100 Agen dan Pasukan Khusus)

"Teknologi baru bisa membantu kelompok seperti ISIS untuk mengkoordinasi operasi, memikat calon yang akan direkrut, melaksanakan propaganda, dan menginspirasi para simpatisannya di seluruh dunia untuk melakukan aksi atas nama mereka," ucap Brennan dalam sebuah pidato di New York, dilansir dari Reuters, Sabtu (14/3/2015).

Tantangan dalam menghadapi ancaman terorisme, menurutnya, diperberat dengan dunia yang semakin terhubung.

"Saat sebuah insiden di pojok bumi bisa memicu reaksi ribuan lainnya walau bermil-mil jauhnya. Saat seorang ekstremis bisa online dan melakukan serangan tanpa harus keluar rumah," ucapnya. (Baca: Boko Haram Gabung ISIS)

Dalam pidatonya, Brennan pun menyebut penembakan Charlie Hebdo sebagai contoh. Selain itu, insiden yang disebut dia adalah penembakan di sebuah sekolah di Pakistan dan penembakan di sebuah kafe di Denmark.

"Serangan itu menggarisbawahi sebuah tren yang mengganggu, yang telah kita monitor sepanjang waktu: Munculnya ancaman teroris yang meningkat namun tidak terpusat, sulit dilacak, dan sulit dihadapi," ujarnya.

Brennan pun menyebut sejumlah strategi yang bisa dilakukan. Di antaranya adalah pengawasan media sosial. Hal ini dianggap bisa membantu dalam mengantisipasi serangan teroris.

"Kita harus punya perasaan yang lebih baik mengenai apa yang akan terjadi di jalan. Karena itu dengan mengawasi media sosial dan semacamnya, Anda mungkin bisa memiliki sense yang lebih baik untuk mengenali kondisi, dari negara yang sudah kondusif hingga yang sudah kacau," ujarnya.

Selama ini Amerika Serikat sendiri mendapat kritik keras atas upaya penyadapan di internet yang dilakukan terhadap warga negaranya. Penyadapan itu dilakukan oleh Badan Keamanan Nasional AS (NSA), yang pertama kali diungkap oleh mantan analis NSA yang juga pernah bekerja di CIA, Edward Snowden.

Akibat mengungkap aksi NSA itu, Snowden pun menjadi pelarian dan diburu oleh pemerintah AS. Saat ini Snowden sedang berada di Rusia yang memberikannya perlindungan selama setahun. Saat ini, Snowden berharap bisa mendapatkan suaka di Swiss. (Bayu Galih)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved