Inspiring
Kuliah di Planologi, Wanita Ini Sekarang Jadi Insinyur Batik Kaltim
Banyak orang tidak mau keluar dari zona nyaman. Maklum, untuk memulai sesuatu dari dari nol bukan sesuatu yang mudah.
Penulis: Fransina Luhukay |
Di sela-sela mengurus keluarga, ibu tiga anak ini, makin giat berbisnis batik.
"Intinya saya tidak bisa diam. Makanya saya jualan. Kalau saya pulang ke Jawa pasti bawa barang saat kembali ke Samarinda. Kemudian bikin butik di rumah. Kemudian teman-teman sarankan, mengapa tidak membuat batik Kaltim? Benar juga. Kalau saya mencari oleh-oleh khas Kaltim untuk saudara yang datang, kok tidak pernah ketemu yang khas. Dari zaman dulu produk Kaltim selalu begitu-begitu saja. Akhirnya mulailah saya merintis dan sekarang berkembang menjadi macam-macam," bebernya.
Baca juga: Bupati Yusran Perkenalkan Batik Khas Penajam
Fanti lebih termotivasi ketika pemerintah mencanangkan Hari Batik Nasional dan setiap daerah harus punya batik kas.
Berbekal modal hanya Rp 10 juta, tahun 2008 hingga 2010 ia berjualan dan mulai mendesain motif batik, namun masih dititip ke orang lain untuk mengerjakannya karena belum memiliki workshop.
"Di Pekalongan kan banyak perajin. Saya belum punya perajin, sedangkan saya sudah punya desain. Nah mereka yang membantu mengerjakannya. Namun bila ikut orang, selalu ada hal yang tidak terpuaskan," ujarnnya.
Tahun berikutnya atau 2011, ia mendesain batik sendiri dan 2012 miliki workshop sendiri. Fanti sangat dinamis.
"Saya berpikir begini, bila orang lain bisa mengapa saya nggak? Kalau daerah lain bisa maju mengapa Kalimantan nggak? Setelah saya terjun ke ranah ini ternyata potensinya sangat luar biasa. Kaltim punya banyak potensi etnik tapi kok produknya gitu-gitu aja," tandasnya.
Fanti lebih tertantang untuk lebih berkarya. Diakuinya, sang suami awalnya kurang senang dengan apa yang dilakukan. Namun bagi Fanti ini merupakan bukti eksistensi diri.
"Apalagi saya tidak bisa diam. Di rumah saja, ngapain? Alhamdulillah sekarang suami mengerti dan ikut mendukung lebih dan sekarang lebih maju. Memang modal dana saja tidak cukup. Tetap lebih dibutuhkan kreativitas dan inovatif. Tidak mudah menyerah," tandas perempuan yang kini aktif sebagai anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi).
Kini sudah ratusan motif batik yang dihasilkan Fanti. Produk batik, bordir dan akserori Hesandra pun terkenal.
Produk Hesandra selalu punya ciri khas yang mudah dikenali customer, yakni detailnya. Tantangan yang paling berat adalah menjaga kepercayaan customer. Ujiannya di sini. Bila ada customer yang kecewa, Fanti berusaha menangani dengan baik. Tidak menyesali dulu kuliah di Planologi?
"Saya tidak menyesal mengapa dulu harus kuliah di planologi. Saya tidak menyesal sama sekali. Karena kuliah itu kan membentuk pola pikir menjadi sistematis, bersosialisasi dan berorganisasi. Sekarang saya jadi insinyur batik. Planologi itu kan merencanakan atau mendesain suatu wilayah. Sekarang saya mendesain batik," ujar Fanti sembari tertawa.
Orangtuanya pun semula tidak mendukung Fanti geluti bisnis batik. Mereka berharap seorang planolog, insinyur perencanaan wilayah, harusnya bekerja di perusahaan atau jadi PNS.
"Mereka mengomel, insinyur kok ngurusin batik. Disekolahin susah-susah malah ngurus batik. Namun setelah saya konsisten dengan bisnis ini, mereka akhirnya mengakui. Inilah proses dalam hidup saya," tegasnya yakin. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/fanti-wahyu-nurvita_20150426_215016.jpg)