Inspiring
Kuliah di Planologi, Wanita Ini Sekarang Jadi Insinyur Batik Kaltim
Banyak orang tidak mau keluar dari zona nyaman. Maklum, untuk memulai sesuatu dari dari nol bukan sesuatu yang mudah.
Penulis: Fransina Luhukay |
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Banyak orang tidak mau keluar dari zona nyaman. Maklum, untuk memulai sesuatu dari dari nol bukan sesuatu yang mudah. Banyak orang tidak tahan menghadapi risiko, tantangan, kendala yang menghadang.
Begitulah yang dituturkan Fanti Wahyu Nurvita saat mengawali bincang-bincangnya dengan Tribun Kaltim, Rabu (22/4/2015) sore.
Fanti -begitu kalau disapa- tiba di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Balikpapan, setelah menempuh perjalanan panjang menghadiri pameran di Vietnam.
Fanti memang aktif menjajal pasar nasional maupun internasional untuk lebih meningkatkan grafik penjualan batik, bordir dan aksesori Hesandra Indonesia yang diproduksinya.
Baca juga: Tembus Pasar Mancanegara Aset Miliaran Rupiah
Fanti bertekad meninggalkan zona nyaman dalam kehidupannya. Sebagai sarjana teknik perencanaan wilayah dan kota Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Fanti sebenarnya sudah merintis karir sebagai konsultan.
Hampir lima tahun, ia habiskan waktu untuk bekerja sesuai disiplin ilmunya.Namun akhirnya ia berani memilih jalur kehidupan sesuai passion.
"Tidak ada tokoh atau sosok siapapun yang menginspirasi saya. Semua ini berawal dari rasa senang dan kecintaan terhadap budaya atau etnik. Sejak kecil di Kota Semarang, saya memang menyukai sesuatu yang unik-unik. Misalnya kalau ke Bali, saya pasti cari gelang yang aneh dan unik walaupun kadang tidak dipakai," tutur putri dari Adji Nurul Koewanto dan Ir Kuwanto Waluyono ini.
Meski begitu, Fanti sejak kecil bercita-cita menjadi insinyur. "Saya dulu termotivasi kuliah planologi karena ingin jadi insinyur tapi yang tidak banyak membuat gambar. Sejak kecil kalau ditanya, saya jawab mau jadi insinyur karena ayah saya PNS di Jawab Tengah lulusan teknik sipil," ungkapnya.
Seiring perjalanan waktu, dunia planologi perlahan ditinggalkan. Apalagi setelah menikah tahun 1999, Fanti berpindah dari satu kota ke kota lain mengikuti sang suami, Ir Wahyu Setiaji MT.
Dari Semarang, ikut suami ke Tanjung Enim Sumatera Selatan, kemudian pindah ke Jakarta, lalu ke Sangatta Kutai Timur, ke Jakarta lagi, lalu hijrah ke Kota Samarinda dan kembali lagi ke Jakarta.
Baca juga: 10 Kostum Kreasi Batik Dibuat Dalam 21 Hari
Ketika pindah ke Samarinda tahun 2008, Fanti 'membanting setir'. Ia serius menggeluti dunia batik dan produk etnik lainnya.
Awalnya hanya membeli produk batik dari Jawa kemudian jual di Samarinda, kemudian membuat butik di rumahnya di Jl Pramuka Samarinda.
Fanti bersama anak-anak pindah ke ibukota Provinsi Kaltim itu karena sang suami bertugas di Perusda Pertambangan Kaltim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/fanti-wahyu-nurvita_20150426_215016.jpg)