Kisah Pakar Maritim Dicurigai sebagai Intel CIA lalu Ditahan 38 Hari

Rumah Aprilani yang berlokasi di kawasan Kebun Raya Bogor digeledah. Aprilani bahkan dikonsinyasi atau ditahan sebagai titipan selama 38 hari

PROSEANET-KOMPAS.COM
Aprilani Soegiarto saat menandatangani kontrak kerjasama PROSEA Foundation dengan Menteri Luar Negeri Belanda, A. P.M. van der Zon, pada 3 Mei 1996 di Den Haag. 

TRIBUNKALTIM.CO - Pakar maritim Indonesia Aprilani Soegiarto memiliki kisah pilu di masa silam. Laki-laki berusia 80 tahun itu, sempat dicurigai sebagai agen intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA).

Aprilani Soegiarto yang lahir pada 15 April 1935 di Solo, Jawa Tengah, sempat dituduh "membocorkan rahasia negara" dan "menjadi agen CIA.

Aprilani pada tahun 1967 berpangkat Letnan Tituler di Angkatan Laut dicurigai bekerja sama dengan asing. Pangkat tituler adalah gelar atau pangkat (umumnya pada militer) yang diberikan kepada seseorang di luar kalangan militer berkaitan dengan tugas yang diembannya.

Rumah Aprilani yang saat itu berlokasi di kawasan Kebun Raya Bogor sempat digeledah. Aprilani bahkan dikonsinyasi atau ditahan sebagai titipan selama 38 hari di Markas Besar Angkatan Laut (MBAL) di Gunung Sahari, Jakarta.

Prof Dr Aprilani Soegiarto (iocwestpac.org)

Tapi pemeriksaan selanjutnya menunjukkan Aprilani tak terbukti membocorkan rahasia negara, dan bukan agen CIA.

Lucunya, pria yang berjulukan "flying director" sebab punya jam kerja tinggi itu malah kemudian menjadi pengajar di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Bagian Laut (SESKO-AL) dan Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas).

Baca Juga: Bos CIA Kewalahan Hadapi Ancaman Teror Lewat Media Sosial

Ketika ditemui usai peluncuran buku "Kenangan Jejak Langkah Aprilani Soegiarto" di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (30/4/2015), Aprilani menuturkan, masalah tuduhan agen CIA sebenarnya dipicu oleh konflik di internal LIPI saat itu. Akhirnya, konflik berimbas pada dia yang sebenarnya juga masih staf baru di lingkungan LIPI.

Tubuh Aprilani tampak rapuh. Maklum usianya sudah delapan puluh. Namun demikian pemikirannya masih tajam, mampu memberi gagasan dan kritikan akan pembangunan kelautan Indonesia.

Seperti orang Jawa lain yang lahir awal abad 20, Aprilani terlahir dengan satu nama saja, yaitu Soegiarto. Nama "Aprilani" punya sejarah tersendiri, bermula ketika pria yang pernah punya mimpi jadi dokter itu bersekolah di SMP Bopkri Yogyakarta pada tahun 1950.

Baca juga: Kejar Pimpinan ISIS, CIA Kerahkan 100 Agen dan Pasukan Khusus

Ada dua nama "Soegiarto" di kelas sehingga sang guru aljabar yang bernama Kusumawardhani memberi tambahan nama "Aprilani", sesuai bulan lahir, untuk membedakan. Sejak saat itu, nama Aprilani seperti melekat pada diri Soegiarto.

Menjadi peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak 1959, Aprilani telah menunjukkan kiprah dalam bidangnya sekaligus karya yang berdampak luas dalam lingkup dalam negeri maupun internasional.

Lulus S-3 di University of Hawaii pada tahun 1972, Aprilani dipercaya sebagai Direktur Lembaga Oseanografi Nasional (LON), cikal bakal Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Dalam kariernya, Aprilani Soegiarto yang menyandang gelar Prof Dr, sempat menjabat sebagai Wakil Kepala LIPI.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved