Rabu, 22 April 2026

Kisah Pakar Maritim Dicurigai sebagai Intel CIA lalu Ditahan 38 Hari

Rumah Aprilani yang berlokasi di kawasan Kebun Raya Bogor digeledah. Aprilani bahkan dikonsinyasi atau ditahan sebagai titipan selama 38 hari

PROSEANET-KOMPAS.COM
Aprilani Soegiarto saat menandatangani kontrak kerjasama PROSEA Foundation dengan Menteri Luar Negeri Belanda, A. P.M. van der Zon, pada 3 Mei 1996 di Den Haag. 

Namun ternyata dengan anggaran kecil, Aprilani tetap bisa berkarya. Dalam bidang pembinaan sumber daya manusia misalnya, dia berhasil mengorbitkan 16 doktor filsafat (PhD) selama masa kepemimpinan di lembaganya.

Sementara itu, dia sendiri menghasilkan karya penelitian yang diakui dunia dan bahkan diaplikasikan secara luas.

"Saya memperkenalkan teknik pengukuran produktivitas kelautan, yaitu dengan mengukur produktivitas plankton dengan klorofil dan perunut radioaktif karbon C-14. Dengan itu kita bisa tahu, cukup tidak produktivitas itu untuk menopang perikanan yang besar," urainya.

Teknik itu dipakai oleh sejumlah peneliti dunia untuk mengukur produktivitas. Setidaknya, itu tercermin dari pengakuan Anugerah Nontji yang kini juga merupakan periset di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.

Anugerah terkejut ketika mengetahui dari peneliti University of Hawaii bahwa teknik pengukuran produktivitas plankton sebenarnya diperkenalkan oleh Aprilani.

Tahun 1970-an, Anugerah baru masuk LIPI ikut International Indian Ocean Expedition (IIOE) dengan kapal riset Amerika USCGDD Pioneer. Dia masuk tim Plankton Productivity. Kala itu, dia menanyakan kepada ketua tim tentang referensi untuk teknik pengukuran.

"Saya mendapatkan jawaban yang mengagetkan, Dia menyodorkan paper yang ternyata adalah paper Aprilani Soegiarto dari Indonesia, dari lembaga saya, yang saya sendiri belum kenal. Malu juga saya ketika ditanya, 'So do you know Aprilani Soegiarto,'" kata Anugerah.

Di tingkat internasional, Aprilani juga memelopori beridirnya sejumlah organisasi dan meraih penghargaan.

Tahun 1976, dia mempelopori berdirinya Program Group on Western Pacific di Tokyo dan menjadi ketua pertamanya. Awal tahun 1980-an, dia menjadi anggota Executive Council Intergovernmental Oceanographic Commision (IOC) di UNESCO.

Tahun 2003, dia menerima Appreciation Awards dari World Fish Center, lembaga di mana Aprilani juga pernah menjabat sebagai wakil ketua. Di Asia Tenggara sendiri, oleh para peneliti, Aprilani dijuluki Bapak Ilmu Kelautan Asia Tenggara.

Puluhan tahun berkarya, Aprilani punya banyak pengalaman unik. Misalnya saat menyelesaikan studi S-3 University of Hawaii di mana dia harus mengirimkan sampel plankton ke dosennya.

Di masa senjanya, Apriliani masih punya banyak angan-angan tentang Indonesia dan maritimnya.

Ia mengakui bahwa program presiden Jokowi dan menteri kelautan dan perikanan Susi Pudjiastuti sudah cukup baik. Upaya tol laut, pengendalian perikanan ilegal, adalah beberapa yang dibilang sebagai prestasi.

Namun, dia merasa bahwa masih banyak hal harus diupayakan, seperti pengolahan hasil laut agar tak hanya dijual mentah. Aprilano mencontohkan pengolahan rumput laut yang saat ini masih kurang.

"Tahun 60-an, saya mulai perkenalkan budidaya rumput laut. Sekarang saya bersyukur sudah banyak tapi sayangnya diekspor mentah, tidak diolah," ungkapnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved