Kolom Rehat
FIFA, PSSI dan Tarkam
Dalam kalimat Loretta, mereka "mengorupsi bisnis sepak bola dunia untuk kepentingan pribadi dan menumpuk kekayaan."
Oleh: ARIF ER RACHMAN
@ariferrachman
SEPAK bola adalah olahraga. Inti dari olahraga (sport) adalah sportivitas dan kebaikan. Tapi ketika sport sudah melibatkan sejumlah besar uang dengan begitu banyak orang dalam puluhan organisasi yang saling terkait secara global baik horisontal maupun vertikal, maka praktik-praktik kekuasaan dan manipulasi kerap tak terhindarkan.
Itulah yang terkuak dari penangkapan beberapa pejabat tinggi organisasi sepakbola dunia FIFA oleh polisi federal Amerika Serikat FBI di Zurich, Swiss, pada Rabu (27/5/2015), tiga hari menjelang pemilihan Presiden FIFA di kota yang sama.
Kejaksaan Agung AS menuduh sejumlah pejabat FIFA melakukan pemerasan, penipuan, dan pencucian uang yang melibatan ratusan dollar AS selama waktu 24 tahun.
Para penuntut Kejagung AS mengaku telah membongkar puluhan rencana mereka, termasuk membiarkan Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010. Selain itu, mereka juga dituduh menerima suap dan sogokan yang diperkirakan mencapai lebih dari 150 juta dollar AS (sekitar Rp 1,9 triliun) dalam periode waktu 24 tahun, sejak 1991.

Jaksa Agung AS, Lorreta Lynch, mendakwa para pejabat FIFA tersebut mengumpulkan hasil tindakan suap yang mereka lakukan setiap tahun untuk setiap turnamen yang akan berlangsung.
Dalam kalimat Loretta, mereka "mengorupsi bisnis sepak bola dunia untuk kepentingan pribadi dan menumpuk kekayaan."
Peristiwa penangkapan pejabat FIFA dan pengungkapan-pengungkapan lain yang menyusulnya sungguh sayang bila tak dijadikan cermin sekaligus pelajaran bagi persepakbolaan nasional Indonesia dan mereka-mereka yang terlibat di dalamnya.
Bercermin pada FIFA, apakah PSSI atau setidaknya orang-orang di dalamnya terbebas dari praktik kekuasaan yang menjurus pada tindakan korup seperti pada FIFA? Ini merupakan tugas para penegak hukum bersama pembuat kebijakan untuk mengusut, menindak, dan menciptakan kondisi persepakbolaan Indonesia yang semakin mendekati inti dari olahraga.

Peristiwa ini juga membukan mata dunia bahwa organisasi olahraga terbesar seperti FIFA pun sama sekali tidak berada di luar hukum, apalagi organisasi-organisasi di bawahnya, termasuk PSSI.
Kita perlu berhenti sejenak atau mundur selangkah untuk memperbaiki cara pandang kita terhadap FIFA yang menurut Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sering "diagung-agungkan". Seolah-olah, bila tak ada FIFA maka sepak bola akan mati.
Tanggal 29 Mei kemarin adalah tenggat waktu yang diberikan FIFA bagi Menpora untuk mencabut pembekuan PSSI. Menurut Wakil Ketua Umum PSSI Hinca Panjaitan yang berada di Zurich untuk mengikuti Kongres FIFA, karena SK (surat keputusan) Menpora belum dicabut maka sanksi tak terhindarkan. Sanksi mulai diberlakukan pada 30 Mei hari ini.
Lantas apa dan bagaimana kemudian?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/arif_20150419_103718.jpg)