Kolom Rehat
FIFA, PSSI dan Tarkam
Dalam kalimat Loretta, mereka "mengorupsi bisnis sepak bola dunia untuk kepentingan pribadi dan menumpuk kekayaan."
Ya, tidak apa-apa. Dunia sama-sekali tidak kiamat bagi sepak bola Indonesia. Paling-paling Indonesia tak dilibatkan dalam kegiatan sepak bola global.
Memang ini sangat merugikan bagi mereka yang menjadikan olahraga sepak bola sebagai sarana untuk mencapai kesuksesan, kebanggaan, dan nama besar di kancah dunia. Tapi bagi yang melihat sepakbola sebagai sarana menjunjung tinggi sportivitas dan fairness sekaligus kegembiraan, sanksi FIFA tidak berarti banyak.
Menpora Imam Nahrawi, saat menemui Bonek Persebaya 1927 dari Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (13/3/2015). Foto: KOMPAS.com/ Ahmad Winarno.
Kali ini rasanya kita perlu mendukung sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mendukung penuh keputusan Menpora untuk membenahi sepakbola nasional dengan di antaranya membekukan PSSI meski akhirnya terkena sanksi FIFA.
Jokowi memerintahkan Menpora untuk menjamin keberlangsungan kompetisi sepak bola di Indonesia dan tak mempermasalahkan andai tim sepak bola Indonesia absen untuk beberapa saat dari kompetisi internasional.
Artinya, kompetisi harus berjalan meski hanya berupa liga-liga amatir atau bahkan turnamen antar kampung (tarkam) sekali pun. Intinya, terasingkan dari kancah sepakbola dunia jangan sampai membuat inti dari sepak bola sebagai ajang unjuk sportivitas dan kegembiraan juga ikut tercerabut. Hidup sepak bola Indonesia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/arif_20150419_103718.jpg)