Kolom Rehat

Jones dan PHP

Di ujung persimpangan, saya lambatkan mobil untuk memberi kesempatan mereka memotong. Tapi rupanya sepeda motor itu juga berhenti...

TRIBUN KALTIM
Arif Er Rachman 

Rupanya makin banyak saja istilah gaul anak muda sekarang seiring dengan makin banyaknya media sosial. Begitu saya sudah mulai mengetahui istilah yang menurut saya baru, istilah-istilah baru lainnya bermunculan. Tidak terkejar.

Zaman saya remaja dulu, jauh sebelum era media sosial, bahasa-bahasa pergaulan tentu sudah ada, seperti memble, kece, cileduk (cinta lewat dukun), waduk jatiluhur (wajah dukun tapi jiwa dan hati luhur) , SKSD (sok kenal sok dekat), dan tentu saja juga ada tambahan kata "nih yeee.." pada setiap kalimat. Seperti: Sudah tua nih yeee...Ketinggalan zaman nih yee... :(

Media sosial memang banyak menghadirkan kata dan istilah baru serta membuat kata dan istilah itu menyebar bagai virus. Media sosial bahkan mengubah kebiasaan dan perilaku: orang jadi semakin suka memotret dan melakukan selfie, lalu seketika itu juga dapat menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.

Mengapa? Karena itu memungkinkan dan gratis. Hanya butuh pulsa dan sambungan internet yang memang sudah ada di hampir semua ponsel.

Untuk apa? "Biar eksis dan dianggap selalu kekinian, Om," kata keponakan saya.

Pekan lalu, saya ada janji dengan seorang rekan. Tempat pertemuan di resto cepat saji Jepang, Marugame Udon. Saya datang lebih dahulu dan langsung memilih satu makanan utama dan beberapa makanan tambahan.

Saat ingin mulai menyantap, saya lihat empat anak muda (tiga cowok dan satu cewek) membawa makan pesanan masing-masing, mengambi tempat di meja samping saya. Setelah duduk dan meletakkan semua makanan di meja, mereka melakukan kegiatan pendahuluan bersama.

Berdoa? Bukan! Keempatnya memotret makanan masing-masing dengan ponsel dan tentu saja langsung menyebarkannya dengan gembira pada dunia.

Saat mereka mulai makan saya dengar ada ponsel berbunyi di situ dan langsung dilihat oleh si empunya ponsel yang kemudian senyum sambil mengetik di ponsel. Saya yakin pasti ada yang mengomentari foto yang baru saja dia posting dan dia langsung mengomentari balik.

Selama seperempat jam lebih jam, keempatnya beberapa kali melakukan hal serupa itu: menyuap, melihat ponsel, senyum, mengetik di ponsel, menyuap lagi, melihat ponsel lagi, kadang tanpa senyum tapi sambil mengunyah, mengetik lagi, dan begitu seterusnya.

Salah seorang dari mereka mencuri pandang ke arah saya karena mungkin menyadari saya sering mencuri pandang ke arah mereka. Saya pura-pura tidak memperhatikan dan kemudian mencari kesibukan dengan mengeluarkan ponsel untuk memotret makanan saya yang tinggal separuh. Foto itu pun langsung saya posting ke akun Path saya yang juga di-share ke Facebook dan Twitter.

Tanpa saya sadari rekan saya sudah ada di hadapan dengan membawa makanannya. "Sebentar, saya mau foto makanan ini dulu... buat seru-seruan di Path," katanya.

Ya, ya, ya... Saya tahu. Biar eksis dan dianggap selalu kekinian!

Salahkah? Tentu saja tidak. Selama kegiatan bermedia sosial membuat senang dan bahagia, tidak merugikan orang, dan tidak menjurus pada pelanggaran hukum, ya sah-sah saja. Lagian, media sosial bisa menghibur para jones dan itu mencegah mereka untuk menjadi PHP atau jadi korban PHP. :)

Begitulah. Selamat berakhir pekan. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved