Film
Inilah Tujuh Film Dokumenter Musik Rock Terbaik
Sebuah film tentang pentolan grup band Nirvana, Kurt Cobain, menambah daftar panjang film dokumenter tentang musik rock.
Kritikus terkenal almarhum Roger Ebert menyorot sang bintang, “Bagi mereka yang menganggap Dylan sebagai seorang sosok yang berjuang sendirian dan beretika melawan kepalsuan, sesudah melihat film ini akan merasa kehilangan pahlawan mereka itu.”
Namun bagi banyak orang, legenda pemberontakan Dylan, sudah tersimpan aman di hati mereka.
Baca: Tantri Kotak Tak Sabar Nonton Film Rock N Love yang Dibintanginya
Gimme Shelter, The Rolling Stones (1970)
Tur Rolling Stones di Amerika tahun 1969 telah menjadikan mereka sebagai status “band rock ‘n’ roll terbaik dunia” dan juga nyaris membawa pada akhir tragis pada festival Altamont di Kalifornia.
Kamera dari sutradara Albert dan David Maysles tidak melewatkan satu hal pun, termasuk penikaman mematikan terhadap seorang penggemar Afro-Amerika oleh anggota geng motor Hells Angels ketika Stones sedang tampil.
Kamera mereka tak berdaya menghentikan bencana itu bergulir di depan mereka. Film ini menyedihkan sekaligus memukau.
The Filth and the Fury, Sex Pistols (2000)
Julien Temple dua kali mencoba bercerita tentang Sex Pistols lewat film. Pertama, "The Great Rock and Roll Swindle" (1980), lebih mirip mockumentary (istilah untuk film dokumenter musik rock 'palsu' yang bermaksud mengolok-olok subjeknya), kisah seloroh lewat musik tiga kunci yang sederhana.
Karya yang kedua, menampilkan korban yang jatuh bukan hanya karena para musisi ini mencoba untuk melawan industri musik, tetapi juga melawan masyarakat dan pemerintah.
Ketika Johnny Lydon tersedak saat berbicara tentang kematian Sid Vicious, “kecohan” Sex Pistols menjadi sesuatu yang tragis.
Some Kind of Monster, Metallica (2004)
Banyak acuan kepada film "This is Spinal Tap" muncul dalam potret tumbuhnya kelompok 'heavy metal' ini. Dua orang pentolan Metallica, James Hetfield dan Lars Ulrich, memberi akses tak terbatas kepada sutradara senior Joe Berlinger dan Bruce Sinofsky selama dua tahun, ketika kelompok musik ini bertikai, hampir bangkrut dan menyewa “pelatih untuk meningkatkan kepercayaan diri” seharga US$40.000 per bulan, yang ujung-ujungnya mencoba menulis lirik lagu untuk mereka.
Bagi sebagian penonton, film ini tak ragu lagi akan memperlihatkan bahwa raja musik heavy metal ini menelanjangi diri mereka. Namun pada kasus ini, sang raja lah yang memerintahkan pembuatan film tentang penelanjangan itu.
You’re Gonna Miss Me, Roky Erickson (2005)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/courtney-love-and-kurt-cobain_20150612_084915.jpg)