Tragedi KM Titian Muhibah
Penumpang Mengapung 2 Hari di Laut Lalu Diselamatkan Kapal Perang AS
Kulit tubuhnya yang hitam terbakar matahari, bajunya pun lusuh. Dia seperti sudah tak kuat berjalan terpaksa dibantu petugas Tagana dan seorang warga.
Penulis: tribunkaltim |
Laporan wartawan Tribun Kaltim Anjas Pratama, Jino Prayudi Kartono, Cornel Dimas, dan Rudy Firmanto
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Kulit tubuhnya yang hitam terbakar matahari, bajunya pun lusuh. Dia seperti sudah tak kuat berjalan terpaksa dibantu petugas Tagana dan seorang warga.
"Bagaimana sudah aku ini?" ucap seorang wanita sambil menangis di Pelabuhan Semayang Balikpapan, Kamis (10/6/2015).
TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMANcaption: Evakuasi penumpang KM Titian Muhibah yang dilakukan Tim Basarnas di Pelabuhan Semayang,Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (11/6/2015). BACA JUGA: Beginilah Rekaman Foto-foto Evakuasi Korban Kapal Karam yang Ditolong Tentara AS
Pemandangan ini hanyalah satu dari 65 penumpang Kapal Titian Muhibah yang mengalami kecelakaan di perairan Selat Makassar, Selasa (8/6/2015) tengah malam.
BACA JUGA: BREAKING NEWS - Kabul Tak Mampu Tolong Istrinya yang Mengapung Dibiarkan di Laut
TRIBUN KALTIM / ANJAS PRATAMASalah satu korban selamat KM Titian Muhibah oleh tim Basarnas, Kamis (11/6/2015) di pelabuhan Semayang
Kapal barang yang mengangkut penumpang dari Bontang menuju Mamuju, Sulawesi Barat tersebut tenggelam dihantam ombak.
Puluhan penumpang kapal terombang-ambing dan mengapung di tengah lautan selama lebih dari 2 hari tanpa makan dan minum. Berusaha berjuang hidup dengan mencari alat penyelamat yang ada di kapal. Irma, penumpang kapal yang selamat mengaku lolos dari maut setelah berpegangan jeriken yang ditemukan di kapal.
Baca: BREAKING NEWS: Kapal Perang Amerika Selamatkan Korban KM Karam
"Hilang tanteku, juga keponakanku. Tanteku kulihat mengambang di laut. Meninggal sudah mereka," ujar Irma seraya terus menangis.
Menurut Irma, Kapal Titian Muhibah berangkat dari Pelabuhan Rakyat, Bontang Selatan, Senin (8/6/2015) pukul 12.00 Wita. Selama kurang lebih 12 jam perjalanan kapal berlayar dengan lancar. Tiba-tiba saat memasuki wilayah Selat Makassar, sekitar pukul 24.00 Wita, kapal diterjang ombak hingga akhirnya tenggelam.
"Saat itu kapal diterjang ombak yang menghantam sisi kiri kapal. Kapal pun terbalik. Saat itu saya ada di dek kapal. Penumpang lain banyak yang ada di dalam kapal. Begitu kapal terbalik, puluhan penumpang berebut pelampung, karena memang tidak saya temukan jaket penyelamat di dalam kapal. Masing-masing selamatkan diri sendiri. Ada pakai kayu, jeriken. Pokoknya yang penting bisa selamat. Ombak yang bergelombang membuat para korban terpisah-pisah," tutur Irma saat ditemui di Pelabuhan Semayang, Kamis (11/6/2015).
BACA JUGA: BREAKING NEWS - Saya Lihat Tante dan Sepupu Mengapung di Laut
Abel, penumpang selamat lainnya turut menjelaskan kejadian naas tersebut. "Malam saat kejadian terasa begitu cepat. Setelah kapal tenggelam, penumpang terpisah-pisah. Semuanya berpegangan pada benda yang bisa diambil. Ada juga yang berenang, berebutan pelampung. Saat itu saya melihat ada bayi yang tak bisa diselamatkan. Saya tak bisa menolong, karena sudah menjaga pelampung masing-masing waktu itu," ucapnya.
Hal senada dikatakan pasangan suami istri, Kartini dan Muhammad Tahin. "Saya pakai jeriken juga sama suami. Solarnya saya buang ke laut. Takutnya saya mati. Bersama suami berdoa terus kita. Tak tahu Tuhan kasih jalan, ada pohon hanyut, saya sama suami kemudian berpegangan, baru merasa sedikit aman" kata Kartini sedikit lega.
Sejak hari itu, para korban berusaha untuk bertahan hidup sebisa mungkin. Lebih dua hari puluhan penumpang terombang-ambing di tengah lautan, hingga akhirnya diselamatkan oleh Kapal USS Rush More milik USA yang tak sengaja melintasi wilayah tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/penumpang-km-titian-muhibah_20150612_105428.jpg)