Tragedi KM Titian Muhibah
Penumpang Mengapung 2 Hari di Laut Lalu Diselamatkan Kapal Perang AS
Kulit tubuhnya yang hitam terbakar matahari, bajunya pun lusuh. Dia seperti sudah tak kuat berjalan terpaksa dibantu petugas Tagana dan seorang warga.
Penulis: tribunkaltim |
Baca: BREAKING NEWS - 65 Korban Penumpang Kapal Berhasil Dievakuasi
"Iya, dua hari saya terapung di atas air. Bertahan hidup dengan memeras roti yang menampung air hujan. Jika terminum air laut, akan semakin haus. Untungnya selamat," ujar Rimal.
Kabul, korban selamat yang berprofesi sebagai penjual nasi goreng sampai saat ini belum menemukan keluarganya. Dia berangkat bersama 3 anak dan seorang istri. Saat ini hanya seorang anaknya saja yang bersamanya.
"Waktu saya di Kapal Amerika, kapal sempat berputar di lokasi tenggelam. Saya coba mencari keluarga yang lain. Ada waktu itu perempuan, tetapi itu bukan istri saya. Meninggal karena sudah mengapung. Kapal Amerikanya tidak mengangkut yang sudah meninggal. Mereka hanya menarik korban yang masih selamat saja," kata Kabul.
Kamis (10/6/2015), para korban selamat akhirnya dievakuasi di Pelabuhan Semayang Balikpapan.
"Basarnas menerima laporan dari Athase Amerika pada Rabu malam (10/6/2015). Berselang dua hari sejak kapal tenggelam pada Senin tengah malam. Setelah menerima laporan, langsung kami gerakkan tim penyelamat ke lokasi kejadian. Sebelumnya, Rabu sore, para korban selamat sudah diangkut Kapal Amerika," ucap Kasi Potensi Basarnas Balikpapan Djoni Sugiarto.
Menurut Direktur RSUD Balikpapan Dyah Muryani, korban selamat yang berada di RSUD Balikpapan hingga Kamis (11/6/2015) siang 30 orang, terdiri dari 7 anak, 8 orang pria dan 15 orang wanita.
Sementara, jumlah korban selamay yang tercatat di Basarnas Balikpapan berjumlah 68 orang. "Mayoritas penumpang perempuan," ujar Ari, anggota Basarnas Balikpapan.
Kapal Ilegal
Kapal Titian Muhibah yang tenggelam di perairan Selat Makassar Senin (8/6/2015) tengah malam, ternyata bukan kapal penumpang. Hal itu dikemukakan Direktur Polair Polda Kaltim Kombes Pol Muhammad Yasin Kosasih.
"Kami koordinasi dengan Kapolres Bontang, ternyata kapal ini bukanlah kapal resmi. Kapal juga tidak berlayar dari pelabuhan umum. Itu sebenarnya hanyalah kapal barang, yang semestinya tidak diperuntukkan membawa penumpang," jelas Yasin.
Hal senada disampaikan beberapa penumpang yang selamat saat diwawancarai di Posko Pelabuhan Semayang.
"Tidak ada karcisnya. Kami bayar Rp 250 ribu jika sampai tujuan nanti. Untuk anak-anak tidak bayar. Sekarang ini saya ya belum bayar, karena belum sampai Mamuju. Kemarin berangkatnya dari Jembatan kuning di Bontang, bukan berangkat dari Pelabuhan Bontang," ujar Iceng, seorang penumpang selamat.
Irma juga menjelaskan di kapal itu juga tidak ditemukan life jacket, ketika peristiwa tenggelamnya kapal terjadi. Lebih lanjut, Yasin mengatakan saat ini Nakhoda Kapal, Halim (70) diamankan di di Kantor Direktorat Polair Polda Kaltim untuk menjalani pemeriksaan.
"Saat ini baru nakhodanya yang kami periksa untuk mengetahui sebenarnya berapa jumlah penumpang yang ia angkut," katanya.
Yasin juga menemui kesulitan untuk mengetahui jumlah pasti dari penumpang di kapal tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/penumpang-km-titian-muhibah_20150612_105428.jpg)