Selasa, 21 April 2026

Ramadhanku

Masjid Raya Darussalam Jadi Masjid Tersibuk di Indonesia

Masjid Raya Darussalam, Samarinda, Kalimantan Timur merupakan masjid tersibuk di Indonesia.

Penulis: Rafan Dwinanto |
NET
Masjid Raya Darussalam merupakan salah satu masjid tersibuk di Indonesia. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Masjid Raya Darussalam, Samarinda, Kalimantan Timur  merupakan masjid tersibuk di Indonesia.

Masjid ini terkenal lantaran tidak pernah sepi dari aktivitas dakwah. Tak heran, 2014 lalu, masjid yang berlokasi di Jalan KH Abdullah Marisie, Pasar Pagi, Samarinda Ilir ini meraih peringkat 1 Nasional Bidang Imarah atau paling makmur (banyak kegiatan Islami).

Ribuan jamaah beribadah di Masjid Raya Darussalam setiap hari, terutama pada bulan Ramadhan. Lokasinya yang strategis membuat masjid dengan arsitektur bergaya Turki ini tak pernah sepi.

Memasuki 10 hari Ramadhan terakhir, ratusan umat muslim di Samarinda melakukan itikaf di masjid, khususnya pada malam ganjil.

Hampir seluruh waktu, sepanjang hari terdapat pengajian di masjid ini. Begitu pula hari libur, masjid ini diramaikan kegiatan majelis taklim.

“Dulu, masjid ini berada di antara pusat-pusat kesibukan Samarinda yakni Komplek Citra Niaga, Pasar Pagi, dan Dermaga Samarinda. Dulu dermaga itu tak pernah sepi, karena orang mau kemana-mana pakai perahu,” ujar Ketua Yayasan Masjid Darussalam Ustad Ahmad Rasyidin Nahdi, Rabu (24/6/2015).

Baca: Masjid Sabilussalam Awalnya Didirikan di Tepi Sungai Mahakam

Masjid Raya Darussalam memiliki kapasitas tampung hingga 15.000 jamaah. Masjid ini dikenal lantaran kerap menjadi tempat berkumpulnya para ulama besar di Kaltim. Sebut saja KH Abdullah Mariesie, KH Abd Rasyid, KH Usman Ibrahim, hingga KH Djaffar Sabran.

“Masjid ini sejak dulu sampai sekarang menjadi tempat berdiskusinya para ulama besar di Kaltim. Maka tak heran, kita juara 1 nasional soal kemakmuran masjid,” kata Rasyidin.

Masjid dengan kubah berwarna hijau ini sempat dikunjungi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kala menggelar Safari Ramadhan, beberapa tahun silam.

Masjid Raya Darussalam dulunya dikenal dengan nama Masjid Jamik. Masjid ini didirikan sekitar tahun 1920 di Tepian Mahakam, tepatnya di Jalan Yos Soedarso.

“Dulu bangunan masjid itu dari ulin dan atap sirap,” kata Rasyidin.

Kondisi Samarinda yang makin padat membuat para pemuka Islam di Samarinda mengadakan rapat dengan pemerintah daerah untuk membangun tempat ibadah yang lebih representatif.

Walhasil, Masjid Jamik pun dipindah ke Jalan Abul Hasan Samarinda. Peletakan batu pertama pembangunan masjid tersebut dilakukan AM Parikesit, Sultan Kutai yang menjadi pemimpin Kaltim saat itu.

Rupanya pembangunan masjid di Jalan Abul Hasan tersebut menuai beragam persoalan. Sehingga, 1967 silam dibentuklah Yayasan Masjid Raya Samarinda, yang bertugas menindaklanjuti pembangunan masjid tersebut.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved