Minggu, 12 April 2026

Ramadhanku

Seni Arsitektur Baitul Muttaqin Adopsi Masjid dari Tiga Negara

Masjid Baitul Muttaqin yang berada di lingkungan Islamic Center merupakan masjid terbesar kedua di Indonesia setelah Masjid Istiqlal Jakarta.

TRIBUN KALTIM/MARTINUS WIKAN
Masjid Baitul Muttaqin, Islamic Centre, Samarinda, Kalimantan Timur yang arsitekturnya mengadopsi masjid di tiga negara. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Masjid Baitul Muttaqin yang berada di lingkungan Islamic Center merupakan masjid terbesar kedua di Indonesia setelah Masjid Istiqlal Jakarta. Masjid ini telah menjadi ikon bagi Kota Samarinda, bahkan Provinsi Kalimantan Timur.

Mungkin tidak banyak masyarakat yang tahu. Ternyata kemegahan masjid yang arsitekturnya mengadopsi dari 3 negara tersebut sempat tidak memiliki nama selama kurang lebih 9 tahun.

Saat itu masyarakat hanya tahu nama masjid dengan sebutan Islamic Center.

Masjid dengan luas 43.500 meter persegi tersebut akhirnya diberi nama setelah Pemprov Kaltim mengadakan sayembara pemberian nama masjid berkapasitas 43.000 jamaah itu.

Tempat ibadah umat Islam tersebut akhirnya diberi nama Masjid Baitul Muttaqin, artinya rumah orang yang bertakwa pada 2014.

Nama masjid diresmikan Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifuddin di Balikpapan.

Baca: Nurul Iman, Masjid Berlantai Merbau Pertama Berdiri di Pulau Nunukan

Pembangunan masjid yang dimulai sejak 2001 menelan biaya mencapai Rp 650 miliar dari kas Pemprov Kaltim. Awang Darma Bhakti, Kepala Pengelola Islamic Center menjelaskan, masjid tersebut merupakan ide Gubernur Kaltim Suwarna Abdul Fatah.

Ide muncul setelah Gubernur Suwarna saat itu menjalankan ibadah umrah, dan tengah berada di Masjid Nabawi Madinah Al Munawwarah.

Seketika itu pula, Suwarna berniat mempersembahkan karya monumental bagi rakyat Kaltim, agar bisa dirasakan oleh generasi hingga ratusan tahun mendatang.

Akhirnya, Awang Darma Bhakti yang menjabat Kepala Dinas PU Kaltim berangkat ke tiga negara untuk melakukan survei terhadap konsep pembangunan masjid tersebut. Dipilihlah Malaysia, Turki, dan Arab Saudi.

Bagian utama dari masjid diadopsi dari arsitektur tiga negara tersebut, yakni selasar masjid terdapat 7 gerbang berasal dari Masjid Putra Jaya, Malaysia, kubah meniru masjid di Turki dan menara dari Madinah, Arab Saudi.

"Kurang lebih satu tahun kami mengumpulkan perencanaan pembangunan masjid, walaupun terdapat konsep dari 3 negara berbeda, namun kami tetap pasang ornamen khas Kaltim, yakni ornamen Dayak yang terdapat di kubah masjid," terangnya.

Pencanangan pembangunan masjid dilakukan oleh Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid di Bontang pada 2000.

Dilanjutkan pemancangan tiang pertama oleh Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri pada 2001. Setelah selama kurang lebih 7 tahun dibangun, masjid akhirnya diresmikan oleh Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudoyono pada 2008 bertepatan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang berlangsung di Kaltim.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved