Ramadhanku
Nurul Iman, Masjid Berlantai Merbau Pertama Berdiri di Pulau Nunukan
Berkembangnya agama Islam di Pulau Nunukan tak lepas dari sejarah berdirinya Masjid Nurul Iman
TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Bangunan lantai dua itu berdiri kokoh tepat di pinggir jalan utama Pulau Nunukan di Jalan Tanjung, Kecamatan Nunukan.
Nyaris hanya trotoar yang menjadi pembatas antara bangunan utama masjid dengan jalan raya. Di atas lahan yang sempit inilah, sejarah mencatat pernah berdiri bangunan masjid pertama di Pulau Nunukan.
Adalah Imam Basran, bekas imam Masjid Nurul Iman yang mengisahkan sejarah awal berdirinya masjid tersebut.
Berdirinya bangunan masjid yang kini tak lagi meninggalkan arsitektur aslinya sama sekali ini, tak lepas dari perkembangan syiar agama Islam di Pulau Nunukan.
BACA juga: Masjid Peninggalan Sultan Masih Kokoh walau Sudah Ratusan Tahun
Basran menceritakan, Islam saat itu berkembang pesat di Surabaya. Dari Pulau Jawa, Islam kemudian menyebar ke Sulawesi, Sumatera lalu ke Pulau Kalimantan di Kalimantan Selatan. Islam di Pulau Nunukan yang kini menjadi ibukota Kabupaten Nunukan, banyak dipengaruhi dari Kalimantan Selatan.
“Jadi orang-orang dari Kalimantan Selatan yang datang membawa Islam ke sini. Mereka datang membawa Islam, benar-benar berdasarkan Al-quran,” ujarnya, Jumat (26/6/2015) ditemui di kediamannya.
Pulau Nunukan yang saat itu dihuni penduduk asli Kalimantan seperti Tidung dan Banjar, seluruh warganya beragama Islam.
“Tidak ada kafir di sini. Semua Islam waktu itu,” ujarnya.
Berkembangnya agama Islam di Pulau Nunukan tak lepas dari sejarah berdirinya Masjid Nurul Iman.
Dengan jumlah sekitar 200 rumah tangga, pada tahun sekitar 1940, penduduk setempat mendirikan masjid di Jalan Tanjung.
“Jaman Belanda itu dibangun,” ujarnya.
BACA juga: Masjid Raya Darussalam Jadi Masjid Tersibuk di Indonesia
Bangunan masjid masih sangat sederhana. Dengan luas sekitar 12 meter x 12 meter, berdirilah bangunan masjid bertiang kayu ulin, berlantaikan kayu ipil atau merbau dengan atap sirap dari kayu ulin.
“Lantainya itu keras. Tahan dia,” urainya.
Meskipun telah mendirikan masjid, namun tak banyak aktivitas keagamaan yang dilakukan saat itu.